Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, April 5, 2013

Cermin Bangsa yang Sakit: Anak Memperkosa Temannya




Beberapa hari yang lalu masyarakat indonesia dikejutkan oleh sebuah berita yang sangat menyesakkan dada. Sebuah berita yang membuat setiap orang mulai berpikir bahwa memang benar negara dan masyarakat kita sedang dalam kondisi sakit yang teramat parah. Sebuah berita pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok anak-anak SD terhadap temannya sendiri. Ini jelas sebuah kabar buruk yang rasanya mustahil bisa terjadi di sebuah negara yang dihuni oleh bangsa-bangsa yang beradab.

Di suatu sore, di sebuah gudang yang sepi yang terletak nun jauh di Gowa - Sulawesi Selatan sana, ramai terdengai derai tawa 6 bocah ( lima laki-laki dan satu perempuan ) berusia antara 11 hingga 12 tahun.  Anak-anak yang masih duduk di SD kelas 4 dan 5 ini sepintas terlihat bermain sebagaimana anak seusianya. Bercanda, tertawa, berlari-lari, berteriak-teriak dengan riang. Namun ada yang tak biasa di sana. Sebuah tragedi tengah membayangi mereka.

Anak-anak itu, selepas bermain dan bercanda, melakukan sesuatu yang sulit dicerna oleh akal sehat manusia. Anak-anak yang seharusnya bermain dengan hati bersih dan pikiran lugu itu, telah berubah menjadi manusia cilik berotak mesum dan berhati cabul, serta dada yang disesaki oleh nafsu syahwat yang tidak semestinya ada pada diri anak-anak sekecil itu.

Selepas bermain, kelima anak laki-laki itu memaksa teman perempuan satu-satunya yang ada di sana untuk berbaring,  lalu satu persatu mereka memperkosanya. Suara tawa berubah menjadi erangan, lenguhan bercampur dengan jerit tangis dan isak kesakitan yang tak terbayangkan. Bencana telah terjadi. Aib telah terukir. Dosa kolektif telah dimulai.
Jangan lagi bertanya setan apa gerangan yang telah merasuki bocah-bocah cilik itu. Jangan juga menyebut mereka bandit kecil, karena sesungguhnya dalam kasus ini, baik pemerkosa maupun yang diperkosa sama-sama berstatus sebagai korban kelalaian.

Orang tua yang Abai.

Apa yang dapat diharapkan dari para orang tua yang telah begitu lalai terhadap keselamatan dan keamanan anak-anaknya ? Tidak ada. Sejatinya semua orang tua anak-anak itu adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya kasus ini.
Orang tua tak seharusnya lengah setitikpun terhadap keselamatan anak-anaknya. Kemana saja mereka ketika peristiwa itu terjadi ? Mengapa orang tua tak bersegera mencari anak-anaknya yang belum juga pulang, sementara sore sudah semakin menuju malam ? mengapa mereka tak merasa cemas sedikitpun, kemana hilangnya semua naluri orang tua yang seharusnya mereka miliki ?
Jangan kesibukan kerja dijadikan alasan pembenar bagi orang tua untuk tidak mengawasi anak-anaknya. Akan sia-sia saja segala jerih payah kerja yang nota bene ditujukan bagi keluarga, bagi masa depan anak, jika kemudian anak-anak justru menjadi korban kesibukan orang tua. Jangan jadi orang tua kalau tak becus mengurus anak.

Masyarakat yang sakit dan Pemerintah yang lemah.

Pihak selanjutnya yang harus bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan anak-anak adalah anggota masyarakat. Tidak peduli bagaimana status seseorang dalam masyarakat, apapun profesinya,  asalkan dia telah dewasa, maka seharusnya dia sudah dapat memikul beban tanggung jawab atas keselamatan anak-anak yang ada di lingkungannya. Tidak saja menjaga secara fisik, memastikan keselamatannya, namun lebih jauh lagi memastikan perkembangan mental anak-anak. Orang dewasa dalam sebuah masyarakat harus menjadi teladan yang baik, pendamping yang bijak, dan pemimpin yang terpercaya. Jika orang-orang dewasa dalam sebuah komunitas masyarakat tidak memiliki karakter seperti itu, maka efek kerusakan yang menimpa seluruh warga masyarakat terutama anak-anak sudah dapat dibayangkan. Dalam hal ini pemimpin yang tak dapat dipercaya dan pemerintah yang lemah adalah penyumbang terbesar kerusakan itu. Lelah hati kita menyaksikan tingkah polah para pemimpin yang tak hanya berperilaku korup, namun juga berperangai tamak kekuasaan, munafik, berkinerja buruk, dan sama sekali tidak dapat diandalkan. Pantas saja anak-anak negeri ini mengalami kerusakan sebegitu parahnya. Jangan pilih pemimpin seperti itu di masa mendatang.

Hati-hati menyimpan konten Pornografi

Mencandu konten pornografi adalah hak seseorang. Terserah saja.  Namun  sebaiknya dia tidak melupakan satu hal ketika dia  mengakses konten pornografi.  Dia tidak sekedar memiliki hak, tetapi juga memiliki kewajiban. Yakni kewajiban bersikap ekstra hati-hati untuk menjaga agar gambar mesum yang  diaksesnya itu tidak turut terakses oleh anak-anak di bawah umur. Akan sangat fatal akibatnya. Sia-sia saja jerih payah para Guru mendidik akhlak yang baik di sekolah, agar kita semua senantiasa menjaga hati dan pandangan, jika orang tua di rumah malah memfasilitasi segala sumber kerusakan moral itu.
Jangan pernah menyimpan keping cakram film porno di sembarang tempat yang mudah dijangkau dan dilihat anak. Jangan pernah men download dan men save video porno di PC, laptop, tablet, atau ponsel anda, tanpa anda memiliki passwordnya. Anak-anak yang memperkosa temannya itu mengaku melakukan perbuatan tersebut akibat terangsang sebab sering melihat adegan porno melalui ponsel milik orang tuanya.
Jika seseorang memiliki sifat yang sangat pelupa namun sangat gandrung mengamati adegan asyik masyuk dalam film porno, maka disarankan sebaiknya simpan saja semua gambar cabul itu di dalam memori otaknya, dan biarkan hanya otak dia saja yang bertambah mesum. Jangan sampai anak-anak ikut tercemar oleh perilaku cabul yang sangat jauh dari kepantasan itu.

Sanksi Hukum Bukan Jalan Keluar

Meskipun masih dibawah umur, kelima anak pelaku pemerkosaan itu terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara. Apakah sanksi hukum itu akan berjalan efektif ? Terus terang saya meragukannya. Bagaimana tidak ragu, jika setiap tindak pidana yang memiliki implikasi sosial yang sangat luas, dan mengancam masa depan anak-anak, hanya sebetas diselesaikan dengan pendekatan legal-formal yang hanya mengenal kata hitam-putih : guilty or not guilty. Hukum tak membahas bagaimana penyesalan dan kesedihan anak-anak itu. Bagaimana trauma dan takutnya mereka menghadapi orang dewasa yang mendapati perbuatannya. Bagaimana memulihkan cedera batin berkepanjangan yang akan diderita anak-anak pelaku dan korban pemerkosaan tersebut. Orang tua, guru, para profesional di bidangnya, dan masyarakat harus dilibatkan secara aktif dan komprehensif dalam menolong anak-anak yang malang ini.

Anak-anak adalah cermin sebuah bangsa di masa depan.

Kita semua akan kian menua dan akhirnya mati. Tak dapat disangkal lagi, anak-anak adalah tumpuan harapan masa depan kita. Oleh karena itu satu-satunya jalan menyelamatkan masa depan bangsa ini adalah dengan mendidik dan menjaga anak-anak kita dengan baik, agar mereka menjelma menjadi insan yang penuh kasih sayang, berbahagia, cerdas, kreatif,  dan berakhlak mulia. Saya sungguh merasa prihatin dan kecewa ketika seorang pemimpin di Jakarta dengan ringan mulut mengatakan bahwa zaman sekarang jangan lagi bicara soal akhlak, soal moral,  karena menurut dia, orang yang berakhlak adalah ciri orang munafik ! pantas saja masyarakat kita jadi sakit begini, karena moralitas sudah dianggap sebagai sesuatu yang tidak  penting lagi. Tapi sudahlah, terserah pemimpin mau bicara apa. Mari kita bergerak sendiri. Yang penting didik anak-anak dengan kasih sayang, dan selamatkan masa depan mereka, dengan sekuat tenaga kita, dengan segala itikad baik kita. Karena saya yakin, dengan pertolongan Allah, masa depan yang lebih baik itu masih ada.

Salam sayang,
Anni

notes : Tulisanku ini ditayangkan di Kompasiana, 5 April 2013,  sebagai  Trending Article :)