Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, April 12, 2013

Biar Miskin yang Penting Sombong ( Edisi Revisi )



Bukan bermaksud sok kaya, karena memang saya juga bukan orang yang kaya raya gimana gitu. Tapi rasanya saya bisa membayangkan bagaimana tidak enaknya jadi orang miskin. Segala kebutuhan hidup, bahkan yang paling primer sekalipun tak bisa terpenuhi karena ketiadaan uang.

Pada umumnya orang miskin memiliki perilaku yang apatis, pasif, seolah tidak punya harapan, tidak bersemangat, dan hidupnya lesu. Mereka cenderung pasrah dan minder dengan keadaannya. Kondisi seperti ini menimbulkan rasa simpati orang-orang lain yang lebih beruntung, untuk menolong saudara-saudaranya yang miskin sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tapi ternyata kadang teori tidak selalu bersesuaian dengan fakta. Tidak semua orang miskin punya sifat yang stereotip seperti itu. Kehidupan di dunia  semakin mengherankan saja akhir-akhir ini. Semakin banyak  kita temui dalam kehidupan sehari-hari, orang yang jelas-jelas miskin, tapi berperangai sombong. Ini  jelas suatu hal yang cukup  aneh, karena yang lazim (dan bisa dimaklumi) punya sifat sombong itu adalah orang kaya. Golongan ini mau apa-apa juga bisa karena punya banyak uang (dan biasanya berikut kekuasaan) makanya wajar jika banyak yang sombong. Tapi kalau orang miskin sombong, ini maksudnya apa coba ? ngeselin kan ? Mari saya tunjukkan beberapa contohnya :


1. Ahok saja sampai curhat

Masih segar  dalam ingatan saya saat banjir besar melanda kota Jakarta beberapa bulan lalu. Saat itu Ahok sang wakil gubernur yang masih muda dan energik, tak segan-segan blusukan sampai ke perkampungan kumuh  di  wilayah Jakarta Utara yang sangat parah terendam banjir
Ketika Ahok mengunjungi dan berdialog dengan para korban banjir yang tak kunjung mau mengungsi , Ahok menawari mereka untuk direlokasi ke tempat  yang telah disediakan oleh pemda DKI berupa rumah susun yang relatif lebih aman dari banjir. Rusun ini sudah dilengkapi pula dengan beberapa perabot  rumah tangga berupa  meja, lemari bahkan televisi. Namun masyarakat menolak dengan berbagai alasan.


Mereka ini, masyarakat  penghuni rumah-rumah kumuh  yang sedang ditengok pemimpinnya itu, alih-alih bersedia dipindahkan, malah mengajukan satu permintaan yang membuat Ahok sang Wagub sampai ngenes bercampur gondok bukan main (maklum namanya juga Ahok, orangnya gampang keselan ! he he ..). Inilah permintaan mereka yang sangat ajaib itu, ” Pak Ahok, kami minta pemerintah membantu kami dengan makanan yang diantar sampai kesini, sehari 3 kali !”.
Mendengar itu Ahok hanya bisa ternganga, speechless, nggak tahu musti menjawab apa. Dia hanya bisa curhat kepada reporter yang ada di sana, ” Dia pikir kita ini delivery service, apa ?! “. heu heu …

2. Di Rumah Sakit harus mendapat pelayanan first Class

Suatu hari teman saya yang berprofesi sebagai dokter, bercerita kepada saya dengan mimik wajah bete. Dia bilang, di RS tempat dia bekerja, ada seorang ibu pemegang kartu Jamkesmas, kartu jaminan kesehatan bagi warga miskin (cmiiw), yang anaknya kena demam berdarah, marah-marah sampai menunjuk-nunjuk hidung pada dokter dan perawat yang sedang bertugas. Si Ibu itu marah-marah lantaran anaknya diminta menunggu sebentar di ruang gawat darurat sementara  para petugas mencari  ruang perawatan yang kosong, karena saat itu RS dipenuhi oleh anak-anak yang juga terkena DBD.
Keluarga pasien itu, yang bisa disimpulkan berasal dari keluarga miskin dari kartu yang dia tunjukkan (atau hanya mengaku-ngaku miskin, karena menurut dokter temanku ini, tangan dan jari si ibu dipenuhi dengan perhiasan emas bak toko emas berjalan ) memaksa dokter agar anaknya dirawat di ruang VIP. Dan ketika ruangan yang diinginkan tidak diperoleh karena penuh, dan sebagai gantinya hanya tersedia ruang kelas 2, si ibu yang sotoy itu malah menuding para dokter telah melakukan malpraktek. Temanku dan dokter-dokter lainnya sampai pada bengong dituding seperti itu. Malpraktek apaan, lha wong dipegang saja belum ?! Heu heu …

3. Sekolah di RSBI, pegang Blackberry, tapi pingin gratis

Anak saya bersekolah di SMA negeri yang berstatus RSBI.  Pada suatu hari saya menghadiri rapat orang tua atas undangan pihak sekolah. Ketika itu RSBI belum dibubarkan oleh pemerintah. Sebagaimana biasa yang rutin dilakukan di awal tahun pelajaran, pihak sekolah mengajukan usulan tentang besarnya dana masuk kepada orang tua siswa.
Rapat berjalan lancar, sampai tiba-tiba seorang ibu (lagi-lagi ibu-ibu ! ah bete, jadi kan kesannya yang sotoy itu selalu ibu-ibu ..) yang dilihat dari penampilannya sungguh keren, bak penyanyi qasidah dari grup mana tau. Makeupnya tebal, baju muslim dan kerudungnya blink-blink kaya Hetty Koes Endang gitu deh, pokoknya keren abis. Perhiasannya segede-gede gaban, dan tak lupa bawa Blackberry dong di tangannya. Tapi ternyata, itu si ibu yang penampilannya heboh itu,dan dengan gaya yang tak kalah  hebohnya, mengajukan usul agar anaknya diberi keringanan untuk tidak membayar uang SPP perbulan, dibebaskan dari biaya masuk, karena menurut pengakuannya, anaknya itu berprestasi dan berasal dari keluarga tidak mampu. Mendengar itu, Kepala Sekolah hanya bisa ternganga, dunno what to say, sambil matanya melotot memandangi si ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Heu heu …

4. Bawa motor baru ketika mengantri BLT

Masih ingat nggak sama program pemerintah yang kocak  banget yang bernama pembagian BLT?  Masih dong … ? Nah di tempat saya, kalau pas ada antrian BLT, itu yang ngantri, yang katanya orang miskin itu, banyak yang bawa motor baru !  yang masih cling kayak baru keluar dari showroom !. Belum lagi kaum perempuannya (halaahh … perempuan lagii …), penampilannya keren-keren, pakai celana jeans, sandal berhak tinggi atau wedges, dan tak lupa menenteng henpon, entah henpon beneran atau cuma casingnya doang, yang penting mereka terlihat gaya banget deh, sangat tidak pantas berada dalam antrian itu. Tapi mau bagai mana lagi ? mereka ini jelas-jelas memegang kupon BLT kok.

5. Penampilan dulu, makan belakangan

Saya tinggal di kompleks perumahan yang bertetangga dengan perkampungan penduduk yang mayoritas dihuni oleh keluarga dari golongan tidak mampu. Tapi menilik penampilan mereka, apalagi kalau pas misalnya lagi ada acara istimewa semacam hajatan pernikahan, atau sedang ada Pemilu, Pilkada, atau sedang Lebaran, wah bakalan nggak nyangka deh kalau mereka ini sesungguhnya memang benar orang miskin.
Saya dan tetangga satu kompleks sering membantu mereka dengan membagi makan yang berlebih, atau memberi uang sekedarnya untuk membeli beras. Kami merasa tidak tega pada  anak-anak yang terlihat kumal dan lapar, kontras dengan penampilan ibu mereka yang keren, dan bapak mereka yang nganggur tapi kerjanya merokok melulu dan punya hobi mancing. Jadi daripada ngedumel nggak karuan karena kesal melihat ibu –bapak yang mikirin penampilan melulu dan menelantarkan anaknya, mendingan kasih mereka makanan atau uang tanpa banyak cingcong lagi. Yang membuat kami heran, mereka itu miskin, kadang pagi  bisa makan dan siangnya puasa, tapi kok ya bisa punya baju bagus dan bawa henpon pula. Dan yang lebih bikin bingung lagi, mereka ini super duper jarang bilang terima kasih kalau diberi. Malah  terlihat menampakkan wajah gengsi gitu. Hadeh bingung, asli !

6. Banyak lagi contohnya

Anda harus tinggal berdekatan dengan orang-orang yang saya ceritakan itu, baru bisa mengerti maksud saya, bahwa di dunia ini ada orang yang punya prinsip hidup ” biar miskin yang penting sombong “
Saya tidak tahu, apakah ini sebuah fenomena sosial yang baru ? kelihatannya akan menarik jika dikaji lebih jauh. Yang jelas, seharusnya kita tidak menutupi kekurangan kita dengan kekurangan yang baru. Menutupi kekurangan diri dengan bersikap santun, baik hati, ramah, tahu berterimakasih, dan bekerja keras, itu baru benar.

Salam sayang,

Anni