Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, February 1, 2013

Di Surga itu, Air Mataku Menitik ( 1 )


Inikah taman bunga seperti yang sering dilukiskan dalam “ the Prophet “ dan “ the Broken Wings “ karya Kahlil Gibran ? atau surga Firdaus seperti yang tergambar dalam kitab suci yang aku baca ? Jika bukan, mengapa semua keindahan itu berkumpul disini ?

Langit biru jernih berhias awan berarak seputih kapas.  Sawah hijau membentang hingga ke kaki langit.  Lembah, jurang, sungai berliku, hutan, rawa, pantai, laut. Hanya keindahan dan keindahan yang aku lihat di setiap jengkal tanah ini. Tanah Ujung Genteng, di ujung pantai Selatan Sukabumi, yang konon berhampiran dengan perbatasan pulau Christmas, wilayah jiran.

Seolah tak cukup memanjakan mata dengan sejuta kemolekan, Ujung Gentengpun seakan merelakan dirinya untuk dicecap, dihirup, dinikmati oleh para pengunjung yang harus bersusah payah datang ke surga nan terpencil ini. Pohon-pohon rambutan liar berjajar di sepanjang jalan menuju pantai. Jika merasa lapar, haus, atau sekedar tergoda, hentikan dulu kendaraan, lalu hampiri dan petiklah buah-buahan itu, lalu rasakan manisnya yang luar biasa. Sambil menikmati buah rambutan yang entah milik siapa, karena tumbuh di sembarang tempat di pinggir hutan, nikmati dan amati juga suasana hening di sekeliling.

Inilah wajah alam yang sungguh murni. Desau angin diantara dedaunan kelapa dan cemara ditingkah deburan ombak di kejauhan. Nyanyian burung dan serangga yang bersahutan, semilir angin membawa aroma wangi bunga ilalang. Kembang liar merekah merona di sana-sini. Bunga Morning Glory berwarna Lila cerah, dahannya gemulai merambati pematang-pematang sawah,merayapi reruntuhan dinding bata merah entah bekas bangunan apa, merambati tiang-tiang listrik yang tegak di keheningan. 

Lalu Bunga Matahari liar. Ah warna kuningnya mencolok sekali. Sungguh kontras dengan hijau belukar perdu di latar belakangnya.  Lalu rumpun bunga Tapak Dara berwana putih. Begitu diam, begitu anggun dalam kecantikannya. Masih juga kulihat gerumbul kembang Pacar Air yang malu-malu  menampakkan wajahnya di balik kerimbunan belukar tumbuhan berduri. Warna-warninya semarak memikat hati. Merah, Pink, Oranye, Ungu. Ah, mengapa bunga secantik itu harus disebut kembang liar ? tumbuhan pengganggu ? Bukankah mereka cantik dan indah ? Masih ada kembang Kana yang berjajar tegak, seolah memagari padang rumput dengan warna merah dan oranye nya. Lalu bunga Marygold berwarna Kuning lembut, Stars of Bethlehem yang seputuih salju, Putri Malu merah jambu, Alamanda liar berwarna Kuning dan Pink.Aku ragu,apakah aku sedang berada di bumi ? ataukah tersesat di taman Eden ?

Rumahku di Sukabumi, itupun sudah terhitung pelosok. Namun untuk mencapai Ujung Genteng, aku dan rombongan murid-muridku harus menempuh 6 jam perjalanan. Dengan Bus dan dilanjutkan menumpang Truk pasir selama 30 menit karena tak ada kendaraan yang sanggup mencapai bibir pantai Ujung Genteng, kecuali truk pasir yang gagah perkasa ini. Tujuan kami sebetulnya satu : menyaksikan Penyu Hijau bertelur. Namun keindahan alam Ujung Genteng sangat memesona, sungguh termasuk orang yang tak pandai bersyukur jika kami menyia-nyiakan begitu saja atraksi keindahan alam yang luar biasa ini.

Dan inilah tempat tujuan kami,Pantai Pangumbahan di Ujung Genteng. Pantai ini sebagaimana pantai-pantai lain di sepanjang pesisir Selatan pulau Jawa, sungguh tak pernah ramah pada manusia. Deburan ombaknya begitu dahsyat menggetarkan hati. Inilah deburan ombak Samudera Indonesia yang dipanggil orang dengan Laut Kidul yang terkenal angker itu. Siapa orang di Indonesia ini yang tak kenal dengan legenda Nyai Roro Kidul sang penguasa laut Selatan yang namanya sangat masyhur dan ditakuti itu ? Di pantai inilah legenda itu terus hidup dan sangat dipercaya. Sementara kami, hanya percaya pada kekuasaan Allah semata. Karena Dia lah yang telah menciptakan pantai nan indah ini beserta segala penghuninya, termasuk segala Nyai Roro Kidul dan entah Nyai siapapun itu.

Disana-sini di tepi pantai tampak rambu bertuliskan larangan berenang. Ombak di pantai ini memang berbahaya. Sudah banyak wisatawan yang nekad berenang harus meregang nyawa menjadi korban karena tergulung ombak atau terseret arus yang deras. Namun demikian aku melihat para peselancar berkulit putih berambut pirang, menari-nari di atas papan surfing di puncak gelombang. Aku tak mengerti. Apakah larangan ini hanya berlaku bagi turis lokal ? demi apa sehingga pengunjung bermata biru ini dibiarkan merambah sampai ke tengah laut hingga membahayakan keselamatan dirinya ? ataukah karena turis manca negara dianggap sangat piawai berenang dan memiliki nyawa cadangan ? Entahlah, dan sudahlah …

Di sebuah teluk yang indah dan tenang kami berhenti. Pemandangan disini luar biasa indahnya. Ketika air laut sedang surut, kita dapat masuk ke dalam air yang hanya setengah betis tingginya dan berjalan ke arah laut lepas sampai puluhan meter jauhnya, tanpa khawatir terseret gelombang, karena teluk ini dipagari oleh deretan bebatuan karang yang berfungsi sebagai pemecah ombak.
Airnya sangat jernih sampai segala yang ada di dasarnya dapat dilihat dengan jelas dari permukaan. Terumbu karang, ikan-ikan kecil berwarna-warni , siput, kerang, koral, Spongebob, Patrick, rasanya semua penghuni Bikini Bottom ada di sini. Tapi harap berhati-hati, jangan lupa untuk selalu memakai sandal atau sepatu karet setiap kita masuk ke dalam air di teluk ini, karena banyak ikan Bulu Babi yang berduri tajam, yang kalau terinjak dapat menyebabkan kulit kaki menjadi perih gatal lalu membengkak. 

Ah menyesalnya aku, karena kamera kesayanganku terlupa kubawa. Saking ribetnya dengan persiapan keberangkatan, sekaligus ribet mengawasi persiapan dua putriku yang turut serta, juga ribet dengan sejibun murid-muridku yang menjadi anggota rombongan. Padahal setiap senti pemandangan di sana sangat indah, sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan barang sejepretpun. Beruntung aku membawa Smartphoneku yang dilengkapi dengan fitur kamera dengan resolusi yang lumayan, juga kedua putriku membawa kamera saku yang juga berkualitas lumayan :D

Teman-teman, keindahan yang kugambarkan itu belum seberapa, karena keindahan yang lebih menawan dan eksotis telah menunggu kami malam nanti. Kami akan menyaksikan ritual bertelurnya penyu-penyu hijau. Makhluk langka penghuni Laut Kidul yang dapat mencapai usia hingga 200 tahun !
Kami sudah tak sabar menanti saat itu tiba. Semoga malam ini cuaca cerah, sehingga prosesi itu dapat kami saksikan dengan baik.
Sampai jumpa di Ujung Genteng ya teman-teman,


Salam sayang ,
anni