Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Sunday, February 24, 2013

PILKADA ? Ngerujak aja yuk ..



Lucu deh. Di desa di Sukabumi  tempat saya tinggal, kalau mau ada Pilkada atau Pemilu apapun, pak RT, pak RW, dan terakhir pak Kades, suka mengumumkan acara Pilkada ini melalui pengeras suara masjid untuk mengajak masyarakat memberikan hak suaranya, seperti mengajak masyarakat kampung untuk turut kerja bakti saja . Seperti pagi tadi sekitar pukul 06.00 wib, terdengar suara pengumuman, ” Bapak-bapak, ibu-ibu warga Desa Sekarwangi yang kami hormati, pada hari ini kita sebagai warga Jawa Barat akan melaksanakan pemilihan Gubernur yang disebut Pilkada. Mangga diantos kasumpinganana (silahkan ditunggu kehadirannya) di TPS terdekat, jangan lupa membawa kartu pemilih pilkada. Yang tidak punya kartu pemilih, boleh memakai KaTePe ! Sekian terimakasih. Wassalamualaikum wr wb …”
Wah, Pilgub Jawa Barat sudah di depan mata nih. Hmmh … coblos siapa yaa ? Tak ada satupun dari semua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang wajahnya sudah berminggu-minggu terpajang di baliho-baliho raksasa di pinggir-pinggir jalan raya itu , yang sreg di hatiku. Terlalu banyak black campaign beredar di hari-hari belakangan ini. Ada yang dituding poligamilah, ada yang dituduh melibatkan paranormal, ada yang dicap tidak berkompeten hanya karena pernah memerankan tokoh perempuan bloon di sinetron televisi, dll. Jadi bingung. Tapi semua black campaign itu aku anggap gosip murahan saja, yang ditiupkan oleh pihak-pihak yang iri pada kedamaian dan keamanan Jawa Barat setiap kali menyelenggarakan Pilkada. Jadi aku berketetapan hati untuk memberikan hak suaraku sebagai warga negara yang baik. Siapa pilihanku, kita lihat saja nanti ..

Sejak 10 tahun yang lalu aku menjadi penduduk Sukabumi. Di perkampungan yang lumayan pelosok, meski tidak terisolir. Dari Bandung, kota besar, kota yang bikin ketagihan para wisatawan, kota tempat segala hobiku bisa tersalurkan, aku dan keluargaku pindah ke Sukabumi karena harus bertugas di sini. Awalnya aku merasa berkecil hati ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sukabumi ini. Yang pertama terlintas di pikiranku adalah, ” ini kampung ada di Google Earth gak ya ? Ada sinyal selular gak ya ?  …”. Setelah aku cek, ternyata kekhawatiranku itu sama sekali tak beralasan. Desa Sekarwangi ada kok di Google Earth, dan sinyal operator apapun ada di sini. Dan belakangan aku malah merasa sangat bersyukur dapat bermukim di tempat yang seindah ini.

Kehidupan di desa sungguh sangat berbeda dengan kehidupan di kota. Berbeda dalam segala hal, termasuk perbedaan penduduk dalam merespon Pilkada. Dulu sewaktu masih tinggal di Bandung, setiap kali ada Pilkada bahkan Pemilu tingkat pusat, aku lihat masyarakat Bandung bersikap biasa-biasa saja. Memang mereka memberikan suaranya, namun tak menunjukkan sikap antusias. Dingin, cenderung skeptis. Entahlah, mungkin karena mereka sudah lebih melek politik, dan merasa jengah dengan segala macam pemilihan kepala daerah yang tak banyak membawa perubahan bagi kehidupan pribadi mereka.

Sikap ini sangat kontras dengan yang aku saksikan di desa tempat tinggalku kini. Suasananya seperti mau ada pesta. Begitu meriah, hangat, antusias, tak sabar, penuh  keceriaan. Sejak sehari sebelumnya kulihat ibu-ibu tetanggaku yang menghuni perkampungan di luar kompleks tempat tinggalku, beramai-ramai ke pasar membeli berbagai bahan-bahan makanan untuk dimasak seusai mencoblos di TPS. Gaya dan ekspresi mereka begitu sumringah, seolah sedang menanti sebuah moment yang istimewa.
 
Pada umumnya ibu-ibu ini membeli bahan-bahan untuk membuat nasi liwet dan lauk pauknya, atau membeli aneka buah-buahan untuk membuat rujak. Itulah “tradisi” yang tampaknya rutin berlaku di desa ini setiap ada pilkada . Lucu dan menarik sekali. Jangan ditanya soal siapa pasangan kepala daerah yang bakal mereka pilih, karena rata-rata mereka akan menjawab ” Duka” alias ” Entahlah “. Tak penting rupanya bagi ibu-ibu ini siapa yang akan memimpin daerahnya. Concern mereka hanyalah kepada kegembiraan pada hari pemilihan. Ini hari istimewa, hari berkumpulnya sanak saudara di kampung halaman. Jadi mari kita sambut mereka dengan hidangan istimewa : Nasi liwet, pepes ikan asin Peda, ayam goreng bumbu kuning, pepes tahu, aneka lalapan, sambal terasi, dan jangan lupa kerupuk yang kriuk renyah sudah menanti. Sebagai penyegarnya, sudah tersedia rujak ulek yang manis-segar-pedasnya menggigit, membuat lupa diri dan ogah balik lagi ke kota untuk mencari nafkah.


Pilkada di desaku bagaikan pesta rakyat saja suasananya. Aku bersama suamiku pergi ke TPS di dekat rumah, dan disambut dengan senyuman ramah para panitia pemungutan suara yang berseragam batik. Sambil duduk menanti giliran memberikan suara, aku memperhatikan suasana di TPS di RT 01 /RW 01 ini. Tenda besar berwarna biru putih berjumbai-jumbai yang biasa dipakai untuk hajatan pernikahan, dipasang membentang diatas kami. Membuat kami merasa nyaman tidak kepanasan atau kehujanan. Di bagian  tengah tenda tampak berdiri di atas meja kayu, beberapa kotak suara bercat kuning lusuh. Ke dalam kotak-kotak lusuh itulah nantinya kami akan memasukkan surat suara yang berisi aspirasi kami. kotak suara berpenampilan menyedihkan itu, berisi surat suara yang sangat berharga, mungkin berharga milyaran bagi para calon gubernur yang terhormat itu. Para pemimpin itu, bahkan rela bertarung hingga ke Mahkamah Konstitusi, demi mempersoalkan keabsahan jumlah suara yang ada di dalam kotak-kotak suara berpenampilan buruk rupa itu. Lalu seperti biasa, para elit ini akan melupakan begitu saja rakyat yang sudah mendukungnya melalui surat suara itu. Selanjutnya dimulailah permainan politik tingkat tinggi yang serba haus kekuasaan, bergelimang harta entah halal atau haram, dan tak jarang bergumulan pula dengan perempuan bayaran nan cantik dan seksi. Jijik aku memikirkannya.

Ah aku tak mau merusak suasana hatiku dengan memikirkan ulah para politikus busuk itu. Lalu kulayangkan pandanganku ke bagian depan dekat pintu masuk. Para panitia duduk berderet dengan senyuman mengembang di wajah. Penampilan mereka gagah dan rapi. Aku yakin, mereka sudah bekerja berhari-hari demi pesta demokrasi yang hanya menghasilkan uang sangat sedikit bagi kantong Bapak-bapak dan Ibu-ibu panitia yang sangat berdedikasi ini.
Lalu para pemilih. Ya, merekalah sesungguhnya pelaku utama, pemeran protagonis dari semua kehebohan pesta demokrasi ini. Mereka, bapak-bapak, ibu-ibu, dan para muda-mudi, semuanya berdandan keren dengan pakaian terbaik mereka. Suasananya persis seperti sedang hari raya Lebaran saja. Sebagian mengenakan sandal baru, sebagian bersepatu, bahkan aku lihat ada beberapa gadis yang memakai wedges, padahal tanah di sekitar situ lumayan becek. Makeup tebal di wajah, lipstik warna cerah, perhiasan entah apa bergantungan di leher, terpasang di lengan dan jemari. Ada juga yang berkaca mata cengdem. Tak lupa ponsel di tangan, biar tambah gaya dong.  Senang sekali memperhatikan orang-orang yang lagi senang. Memperhatikan wajah sumringah dan banyak tersenyum adalah hiburan tersendiri bagiku.

Sebagian besar warga kampung kami bermata pencaharian sebagai petani, sebagian kecil sebagai buruh pabrik, dan sebagian lebih kecil lagi bekerja sebagai PNS atau karyawan swasta. Tingkat pendidikan mayoritas masih lulusan SD dan SMP. Ini sangat berkaitan dengan tingkat perekonomian warga yang belum begitu menggembirakan. Sebagian besar warga kampung ini adalah keluarga tidak mampu.
Berbeda dengan teori dari Samuel P. Huntington ahli ilmu politik yang mengatakan bahwa tingkat partisipasi politik berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat, warga kampung kami justru menunjukkan kebalikannya. Warga kampung kami boleh saja miskin, boleh saja berpendidikan rendah, namun itu semua tak sedikitpun mempengaruhi semangat untuk memberikan suara, untuk berpartisipasi aktif dalam pesta demokrasi ini. Hanya saja jangan ditanyakan apa motivasi mereka memberikan suara, atau sejauh mana mereka memahami visi misi para Cagub, dll, karena tampaknya mereka kurang peduli dengan semua itu. Yang penting, datang ke TPS, memberikan suara, pakai baju baru, dan selesai. Bukankah siapapun pemimpinnya mereka tak pernah beranjak menjadi kaya ? bukankah setelah Gubernur terpilih mereka masih papa sebagai rakyat jelata ? Sudahlah, yang penting ada rujak segar di rumah, ada nasi liwet menanti, mari senangkan hati, habis perkara !

Bukan karena sekarang hari Minggu makanya hari ini kami libur. Hari apapun pelaksanaan Pilkada atau Pemilu, suasananya di kampung kami tetap seperti hari libur. Banyak orang memilih tidak bekerja, dan banyak siswa kelas 12 SMA yang memilih izin tidak masuk sekolah karena ingin merasakan pengalaman memberikan hak suara untuk pertama kalinya, tanda sudah diakui secara resmi sebagai subjek hukum di negeri ini. Di kampung kami, Pilkada itu tak sekedar pesta demokrasi, namun juga pesta rakyat, dimana semua kegembiaraan telah menunggu di rumah bersama sanak keluarga. Jadi kalau tiba masa Pilkada, ayo siap-siap menabung untuk membeli keperluan buat memasak nasi liwet dan membuat rujak kegemaran orang-orang tercinta. Pilkada ? Ngerujak yuk …


Selamat menjunjung demokrasi ya teman-teman,



Salam sayang,

anni