Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, February 4, 2013

Karena Begitulah Seharusnya Perempuan (Miskin)



Jangan pernah menyamakan Rainbow Cake atau kue Red Velvet dengan kue Apem atau kue Serabi buatan Emak Kueh kesayanganku. Itu seperti membandingkan mana yang lebih menyenangkan, naik mobil sedan atau naik delman ?  Beda bukan ? Rainbow Cake, Red Velvet, mobil Sedan, itu adalah penghuni dunia moderen. Sementara kue Apem, kue Serabi, Delman, adalah khasanah dunia antik alias jadul. Mereka memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri, yang keistimewaannya itu harus diukur dengan parameter yang berbeda- beda pula. Dan khusus bagiku, kue apem,kue Serabi,dan naik Delman, tetap lebih asyik,secara aku kan anggota the Jadulers :)


Aku memang berlangganan kue-kue jajan pasar yang lezat-lezat itu. Kue Lapis, lemper, Agar-agar, Klepon, kue Cincin, onde-onde, Nagasari, Carabikang, semuanya aku suka. Kelezatan makanan-makanan tradisional yang tergolong camilan itu, sungguh tak tergantikan. Segala kue cantik buatan bakery mah lewaat ! kue-kue jadul itu, bukan sekedar enak, tapi juga memiliki nilai nostalgia tersendiri. Tapi yang terpenting adalah, sudah enak, murah meriah pula. Makanya aku tak pernah berniat berhenti berlangganan, dan itu pula sebabnya mengapa bodiku dari hari ke hari semakin bohay! Hahay … ^^


Itu tadi tentang kue jadul yang uenak tenan. Sekarang tentang  Emak Kueh langgananku itu. Benar- benar perempuan perkasa Emak yang satu ini. Kadang malu hati aku dibuatnya. Usia Emak Kueh sudah 75 tahun.Tapi itu ketika kutanya 10 tahun yang lalu. Berarti umur Emak kueh sekarang kurang lebih 85 tahun. Usia yang sangat tua. Tapi jangan pernah membayangkan sosok Emak Kueh dengan perempuan tua ringkih yang membawa tampah berisi aneka jajan pasar, menjajakan jualannya keliling kampung. Itu sama sekali jauh dari gambaran Emak kueh ku ini.


Usia Emak Kueh ( beliau memang ingin dipanggil dengan nama seperti itu ) Boleh saja sangat tua, tapi berbicara soal kekuatan fisik, si Emak juaranya. Bayangkan saja. Dua hari sekali Emak berjalan Kaki pergi pulang dari kampungnya di Cisaat ke kompleks tempat tinggalku di Cibadak Sukabumi. Kedua tempat tersebut berjarak kurang lebih 12 km. Artinya Emak berjalan 24 kilo pergi pulang setiap dua hari sekali. Ini saja sudah membuatku malu hati, karena setiap hari kemanapun pergi, Aku terbiasa naik mobil, atau angkot, atau ojek motor.


Kemudian soal penghasilan. Aku yang bekerja sebagai guru di SMA  swasta yang terbilang elit, memiliki penghasilan yang relatif tinggi padahal cuma bekerja seminggu 5 hari, waktu Ashar sudah di rumah, tiap mid smester libur satu pekan, tiap akhir smester libur 2 atau 3 pekan, bekerja dengan baju bersih dan rapi, di lingkungan yang asri, dengan fasilitas yang lengkap, jadi kalaupun bekerja, nggak terlalu cape juga. Nah si Emak ? Dia jalan Kaki berkilo-kilo meter, sekali jalan cuma dapat 50 ribu bersih. Itu didapatkannya dari menjual 5 macam kue yang dari setiap potong kuenya Emak mendapat keuntungan 500 rupiah. Hanya 50 ribu rupiah, itupun dua hari sekali. Artinya penghasilan Emak cuma 25 ribu sehari, jadi rata-rata penghasilannya perbulan 750 ribu. hmm …




Pernah sekali waktu, aku menanya-nanyai Emak di teras rumahku, ketika aku membeli kue-kuenya. Dan inilah hasil wawancaraku yang sudah aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia, karena aslinya aku ngobrol sama Emak dalam bahasa Sunda. .

” Mak, apakah Emak punya keluarga ?


” Punya, Neng ! Suami Emak sudah meninggal, anak Emak ada 3 semuanya laki-laki, cucu Emak ada 8 orang, buyut ada 3 orang “


” Trus, kenapa Emak tetap jualan, kan ada Anak ? Ada Cucu ? Emak kan sudah tua ? “


” Ah Emak mah mau terus jualan kalau masih kuat, nggak mau jadi beban anak dan cucu. Ini sebetulnya Emak juga sudah dilarang jualan. Emak disuruh istirahat di rumah, tapi Emak nggak mau, Neng ! “


” Lho, kenapa nggak mau Mak ? “


” Iya Neng, nggak mau. Karena kalau istirahat di rumah dan nggak kerja, Emak bisa cepat tua dan pikun ! kan malu kalau kelihatan seperti nini-nini ,Neng ! “, begitu kata si Emak sok muda banget.


“Trus kenapa Emak harus jalan kaki ? Cisaat kan jauh Mak ? “


” Ah Cisaat mah dekat atuh, Neng ! Kadang-kadang Emak suka jalan kaki ke Sukaraja ! ” (Gubraaks!  Sukaraja kan hampir ke perbatasan Cianjur ! ).

” Ngapain Emak jalan kaki ke Sukaraja ? “


” Yah biasa Neng, kalau ada yang minta dipijit ‘

” Oohh …”
” Emak kenapa nggak naik angkot ?”

” Ah emak mah lebih senang jalan kaki, biar nggak kena sakit jantung. ! “

” Ohh .. ehmm .. Iya deh Mak “

” Lagian Neng, sayang kan ongkos buat naik angkot, mendingan buat beli tembakau “

” Tembakau ?? buat apa Emak beli tembakau ?! “

” Ya buat ngerokok Neng !. Tembakaunya dimasukan ke dalam lintingan daun Aren “

” Jadi Emak merokok ? Kan nggak baik buat kesehatan, Mak ?! ” Kataku rada ngotot.

” Yah Neng, kalau Emak nggak merokok mah, mungkin dari kemarin Emak sudah mati. Emak merokok biar awet muda dan panjang umur ! Merokok pakai daun kawung (aren) itu bagus Neng, yang jelek mah rokok yang dibeli di warung !  ”


Wadhuh ??  Nah ini ni yang aku nggak suka dari si Emak. Pernyataannya yang terakhir itu sangat kontra produktif dengan upayaku selama ini yang getol mengkampanyekan anti merokok kepada murid-muridku dan anak-anak muda lainnya, mengingat bahaya merokok yang sangat fatal bagi kesehatan. Lha ini, si Emak ? Kok malah membolak-balikkan logika dengan menyatakan merokok itu baik bagi kesehatan, bikin awet muda dan panjang umur !  Wah nggak bener itu si Emak. Pokoknya pernyataan dia yang satu itu nggak akan aku rilis sampai kapanpun, kepada siapapun, aku janji.  Takut dimarahi Boss soalnya.


” Jadi kapan Emak mau istirahat ? “, lanjutku mewawancarai si Emak.


” Nanti kalau Emak sudah mati. Emak mah biar cuman dapat uang sedikit tapi yang penting hati tenang dan bersyukur karena uangnya halal. Emak juga ingin anak cucu Emak mencari rezeki dengan cara halal, terutama cucu Emak yang perempuan. Jangan sampai hanya karena miskin, lantas menjual diri. Eta teh dosa, Neng. ! “


Sampai disini aku hanya bisa termangu. Dan tak berniat melanjutkan pembicaraan ini lagi, karena bagiku semuanya sudah jelas. Emak penjual kue ini bukan sembarang perempuan. Dia adalah seorang manusia yang lurus hati, seorang perempuan dengan segenap kualitas kepribadian yang terpuji.

Emak memang miskin, dan Emak tak pernah menampik pemberian dalam bentuk apapun, tapi Emak tak pernah meminta-minta meski sangat membutuhkan. Emak kueh memang buta huruf, tapi Emak tak buta akhlak. Emak mengerti betul pentingnya menjaga kehormatan diri. Lebih baik miskin tapi mulia, daripada sudah miskin terhina pula.


Emak Kueh memang renta dan miskin, tapi dalam 15 menit percakapanku dengan Emak, aku mendapatkan ilmu kehidupan yang sangat bermanfaat. Betapa manusia itu tidak sama. Bukan soal miskin atau kaya, namun soal mulia atau hina. Betapa tercelanya seorang yang kaya harta namun tak pandai bersyukur. Emak mengajarkan aku, bahwa tak peduli kaya atau miskin, harta yang paling utama bagi seorang manusia adalah kehormatannya, martabatnya. Dan bagi perempuan, kalaupun harus hidup dalam kemiskinan, kehormatan tetap harus dijaga, dipertahankan. Sungguh tidak layak menukar kehormatan perempuan yang merupakan martabat kemanusiaan dengan lembaran uang, berapapun itu.


Emak Kueh memang perkasa, Emak Kueh memang waskita. Aku bangga sama Emak Kueh. Aku suka sama kue-kue Emak Kueh.! Hidup Emak Kueh !

Ayo teman, ayo beli kue ..
Kue Bugis si kue Putu, senyummu manis membuatku rindu  ^_^




Salam sayang,

anni