Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, February 1, 2013

Di Surga itu, Air Mataku Menitik ( 2 - habis )


Sendu Bersama Induk Penyu

Pantai Pangumbahan di Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi, terhitung masih perawan karena letaknya yang sangat terpencil. Infra struktur berupa akses jalan menuju pantai sangat tidak memadai. Badan jalan hanya selebar satu setengah badan mobil, itupun berupa tanah becek berlumpur dengan tebaran batu kali di sana-sini, sementara selebihnya berupa kubangan-kubangan yang dipenuhi air yang meluap dari rawa-rawa di sepanjang jalan.

Dengan kondisi jalan yang seperti itu, sangat jarang kendaraan beroda empat dapat melaluinya, kecuali mobil yang biasa digunakan untuk off road, atau setidaknya motor trail.  Kamipun terpaksa menumpang truk pasir untuk mencapai pantai Pangumbahan tempat konservasi Penyu Hijau.

Aku sempat berbincang dengan Pak Supir Truk tentang keadaan di daerah ini, dan Pak Supir menuturkan bahwa penduduk Ujung Genteng memang tidak mengharapkan Pemda setempat memperbaiki sarana jalan yang dapat mengakses bibir pantai, karena ketersediaan jalan berarti akan masuknya mobil-mobil pengangkut wisatawan ke daerah tersebut. Nah deru mobil inilah yang dikhawatirkan mengganggu populasi Penyu hijau yang berhabitat di pantai Ujung Genteng, karena para Penyu ini tidak akan mau bertelur jika terusik oleh bunyi sehalus apapun, apalagi deru kendaraan.” Di malam tahun kemarinpun, banyak Penyu yang akhirnya urung bertelur lantas mati, karena pengunjung Pantai beramai-ramai menyalakan api unggun dan petasan di jam-jam ketika Penyu harus bertelur “, Pak Supir menjelaskan dengan mimik muka terlihat kesal. Ya gitu deh dodolnya wisatawan yang nggak berwawasan ! Jadi bete dengernya …


Setiba di penginapan pada sore harinya, kami diinstruksikan untuk tidur dengan berpakaian lengkap karena sewaktu-waktu kami akan dibangunkan untuk menyaksikan induk penyu bertelur.
Tanpa dapat memicingkan mata sepejampun, karena banyaknya nyamuk yang terus berdenging di sekitar telinga,  sekitar pukul 23.00 kami dibangunkan untuk segera menuju pantai. Menurut informasi Pemandu yang juga pegawai konservasi, malam itu ada seekor induk penyu hijau berukuran raksasa telah mendarat dan akan bertelur. 

Kami dibariskan per 15 orang. Tak boleh membawa ponsel apalagi senter. Namun ada diantara kami yang diperkenankan membawa kamera utnuk mengabadikan peristiwa langka tersebut. Setelah siap, Pemandu membawa kami berjalan sekira 200 meter menyusuri pantai dalam gelap gulita yang hitam legam. Selayaknya orang buta, kami berjalan tanpa mengetahui arah yang kami tuju. Kami saling berpegangan tangan agar tidak terjatuh, karena kami harus berjalan di atas pasir pantai yang sangat lembut dan labil, sehingga sebentar-sebentar kami harus terperosok, sampai terseok-seok kami dibuatnya.

Dalam keheningan kami membisu, hanya desau angin dan deburan ombak di kejauhan yang mengiringi langkah kami. Beberapa langkah di depan, bayangan sang Pemandu terlihat berjalan cepat dengan sorotan senter bercahaya infra merah di tangannya. Perjalanan yang sebetulnya sangat dekat ini bagiku jadi terasa sangat lama, karena aku tak tahu arah yang dituju dan dalam gelap gulita pula. Aku hanya hanya bisa pasrah berjalan mengikuti Pemandu, sambil tak henti melafadzkan zikir di dalam hatiku. Suasana di tepi pantai di tengah malam itu sangat mencekam. Bulan sabit yang menggantung di langit dengan selimut mega hitam di sana-sini menciptakan suasana malam yang bernuansa misterius.

Tiba-tiba Pemandu berhenti, dan meminta kami berdiri dalam formasi setengah lingkaran. Lalu pemuda Pemandu itu menyorotkan senter infra merahnya ke arah depan kaki kami. Dan teman-teman, hanya berjarak setengah meter dari ujung sepatu kami, inilah induk penyu raksasa  yang kami tunggu itu. Subhanallah, makhluk ini benar-benar cantik. Berdiameter sekira 1 meter, dia terus mengaiskan kedua kaki depannya yang berbentuk dayung ke atas permukaan pasir pantai Ujung Genteng yang halus lembut dan bersih, seraya kaki belakangnya memadatkan pasir yang telah digalinya. Setelah itu diapun mulai bertelur dalam waktu yang lumayan lama. Menurut Pemandu, induk penyu yang sudah berusia kurang lebih 100 tahun itu sanggup bertelur hingga 200 butir sekali bertelur.

Sungguh makhluk yang luar biasa induk penyu ini. Dia hanya akan bertelur jika hatinya senang dan tenang (bayangkan !). Untuk menjaga moodnya ketika bertelur, suasana harus gelap sempurna, dan benar-benar hening. Cahaya atau suara sekecil apapun akan membuatnya membatalkan niatnya bertelur, dan kembali ke laut lalu mati dengan telur-telur di dalam perutnya. Tak hanya itu, keadaan pasir di pantaipun harus betul-betul lembut, bersih dan bersuhu tepat. Sedikit saja dia menjumpai sampah ketika menggali, dia akan menghentikan aktifitasnya alias batal bertelur. Dan begitulah,seolah harus sambil menahan nafas kami menyaksikan induk raksasa ini mengeluarkan telurnya yang bercangkang lembut satu persatu dari dalam perutnya.
Beberapa siswa mulai mengeluarkan kameranya dan mengambil angle yang paling pas untuk mengabadikan peristiwa unik unik dan langka itu. Pemandu mengizinkan, namun dengan syarat pengambilan gambar harus dilakukan dari bagian belakang punggung atau ekor penyu agar tak mengejutkan hewan itu.


Beberapa murid termasuk aku tak tahan ingin menyentuh makhluk langka yang sudah sangat tua ini.  Namun Pemandu tak mengizinkan kami. Akhirnya aku hanya duduk berlutut di atas pasir di sisi sang induk penyu seraya berbisik sangat lirih dekat sekali dengan lubang telinganya, ” Halo ibu penyu, akupun seorang ibu. Aku dapat merasakan sakit yang engkau rasakan saat ini, karena akupun pernah melahirkan anak-anakku. Bertelurlah dengan tenang, wahai makhluk Allah ”. Suaraku tercekat dikerongkongan. Tiba-tiba perasaan haru menyelimuti hatiku. Entahlah, suasana saat itu membuatku sulit untuk tidak merasa sentimental.

Dan demi Allah, sedetik kemudian aku melihat air mata berlinang, mengalir di wajah induk Penyu itu, seakan dia mengerti apa yang baru saja aku bisikkan. Induk Penyu itu menangis ! Ya, dia menangis dengan air mata berlinangan di wajahnya. Tanpa terasa air matakupun menitik menyaksikan pemandangan itu. Rekan guru yang sedari tadi menggandeng lengankupun berurai air mata, beberapa siswa terisak, dan beberapa lagi diam terpaku membisu. Menurut Pemandu, begitulah perilaku induk penyu ketika bertelur : sambil berurai air mata. Entah merasakan  sakit atau berusaha membersihkan matanya dari pasir, atau entah apa, hanya induk Penyu itu dan Allah saja yang tahu alasannya.

Hanya selama 20 menit kami diizinkan menyaksikan ritual yang bernuansa sendu dan mistis itu, karena jika lebih lama lagi induk Penyu akan merasa stress. Akhirnya kami kembali digiring pulang ke penginapan, masih berjalan beriringan dalam gulita menuju penginapan. Benar-benar 20 menit yang berkesan luar biasa. Penyu-penyu itu, adalah satwa negeri kita yang sudah sangat langka dan terancam kepunahan. Predator bagi telur dan tukiknya hanyalah Monyet, Ular, burung Elang, dan Babi hutan. Namun mereka hanya makan sedikit dan seperlunya saja. Justru manusialah predator yang paling ganas dan berbahaya. Tidak sekedar telur dan tukiknya saja yang diburu, bahkan induk penyupun ditangkapi, dibantai, diperjual belikan, dan dimasak menjadi sup yang dihidangkan di restoran ekslusif di negara-negara jiran, dengan harga jutaan perporsinya. Tahu tidak demi alasan apa ? demi meningkatkan kejantanan dan gairah seksual ! Benar- benar jahat dan dungu. Muak aku memikirkannya.

Teman-teman, kunjungilah surga tersembunyi ini sesekali. Bawalah keluarga dan teman-teman. Nikmati keindahan alamnya, ajarilah anak-anak kita untuk mencintai lingkungan dan segala isinya, termasuk Penyu Hijau si satwa cantik ciptaan Tuhan ini. Sungguh, anda sekeluarga akan jatuh cinta dibuatnya.



Salam sayang ,
Anni