Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, May 23, 2013

Cara Melawan Kucing Garong




Saya punya teman baik bernama Risa (nama samaran). Dia adik kelas saya semasa di SMA dulu. Orangnya tinggi putih, cantik banget, kayak model. Orangnya ramah ,baik dan lembut. Dia punya bisnis yang bergerak di bidang kostruksi, bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Tapi bukan itu saja  yang membuat saya menyukai Risa. Saya mengagumi jalan pikiran dan keberaniannya sebagai perempuan. Kekuatan dan daya lawannya terhadap penindasan, sangat luar biasa. Sama sekali tak tercermin dari penampilannya yang anggun cenderung tampak rapuh.

Penindasan ?

Ya, Risa adalah perempuan yang ditindas secara mental oleh Suaminya sendiri. Suami tak tahu diri dan tak tahu berterima kasih pada Allah yang telah memberinya istri begini cantik, lembut, baik dan setia.  Suaminya ini benar-benar tak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
Beberapa waktu yang lalu, Risa bercerita pada saya tentang kemelut rumah tangga yang menimpanya. Suaminya ketahuan berselingkuh, dan perselingkuhan itu rupanya sudah berjalan 3 tahun, dan selama itu tak sedikitpun Risa menaruh rasa curiga pada suami yang sangat dicintai dan dipercayainya itu. 

Sambil berkaca-kaca Risa mengungkapkan, ketika dia mengetahui fakta perselingkuhan itu, dunia di sekelilingnya seakan mendadak gulita, langit serasa runtuh, dan dalam sekejap hilang semua keinginan untuk melanjutkan hidup. Dia merasa menjadi perempuan yang sangat dungu dan bodoh. Bagaimana mungkin perselingkuhan selama 3 tahun berjalan dengan mulus, tanpa dia menaruh kecurigaan sedikitpun ?. Peristiwa ini sungguh telak memukul batin dan menurunkan gairah hidupnya.

Fakta aneh : Wajah perempuan selingkuhan seringkali lebih jelek

Mendengar curhatan Risa, saya sampai geregetan sendiri.  Bayangkan saja. Suaminya itu bekerja di sebuah showroom mobil, dengan penghasilan tak begitu besar. Berbeda dengan Risa yang memiliki perusahaan sendiri dengan penghasilan yang jauh lebih besar.  Namun Risa tak mempermasalahkannya, toh dulu mereka menikah atas dasar cinta. Meski untuk itu dia harus menutup sebagian besar  pengeluaran rutin keluarga , biaya pendidikan kedua anaknya, termasuk membeli kendaraan keluarga dan mencicil rumah untuk tempat tinggal mereka.

Alih-alih bersyukur punya istri secantik dan setulus itu, laki-laki cemen ini malah ngelunjak. Sudah tahu kurang  modal, tapi penampilannya gaya banget. Rapi jali dan sangat modis. Untuk itu dia sering memaksa-maksa Risa  membelikan pakaian, sepatu dan segala kebutuhannya untuk bisa terlihat keren,  dengan alasan agar tampil berwibawa di depan klien. Tapi ternyata semuanya bohong besar alias palsu. Itu cuma alasan yang dibuat-buat . Alasan yang sesungguhnya adalah : dia ingin tampil keren di depan  perempuan selingkuhannya. Rupanya Suaminya itu  tengah dimabuk asmara dengan seorang perempuan lain entah siapa.
Sambil terus mengobrol, Risa mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan kepada saya foto perempuan selingkuhan suaminya. Sejenak kuperhatikan seraut wajah yang terpampang di layar ponsel itu. Dan aku hanya bisa terdiam sambil geleng-geleng kepala. Melihat reaksiku, Risa Cuma nyengir lebar. 

Wajah perempuan di ponsel itu, hadehh, sori menyori ya. Kalau misalnya skala kecantikan itu 1 sampai 10, maka kecantikan Risa ada 10 level di atas perempuan itu. Saya sampai heran, mengapa selalu begini. Semua perempuan selingkuhan suami orang- orang yang saya kenal, baik itu  teman saya, sahabat , anggota keluarga, semuanya selalu seperti itu : wajahnya tak pernah lebih cantik dari wajah istri resmi. Apa sebenarnya yang dicari oleh para suami cemen itu ? atau mungkin karena perempuan yang tidak cantik selalu punya servis yang legit ? eh …

Kucing Garong

Mendengar penuturan Risa, saya jadi teringat lagu dangdut yang sering saya dengar di angkot. Gini nih lagunya, ” Kelakuan si kucing garong, kalau lihat mangsa mengeong, Main sikat main embat mangsa yang lewat…. ♫ ♪“. 
Teman-teman tau nggak lagu itu ? nggak tahu ? ya sudahlah. Lanjut. 

Mengetahui fakta perselingkuhan suaminya, Risa langsung mengambil ruang diantara mereka, memberi kesempatan kedua belah pihak untuk berpikir dan memutuskan. Sebagai hasilnya, suaminya meminta maaf dan Risa memaafkannya. Tapi apa mau dikata, dasar laki-laki kucing garong, baru dua bulan bertobat, sudah langsung kumat.  Lagi-lagi dia berulah dengan diam-diam melanjutkan hubungan mesranya dengan si perempuan itu. Dan aneh bin ajaib, lagi-lagi Risa memaafkan suaminya dengan dalih demi kebahagiaan anak-anak. (ih, kalau aku jadi Risa, laki-laki model beginian mah sudah aku buang ke laut Cina Selatan, biar dimakan sama ikan Paus. Biar tahu rasa ! ). Namun ketika terjadi untuk ketiga kalinya, tak ada ampun lagi, Risapun mendepak suaminya keluar dari rumah, dan perceraianpun terjadilah. 

Pembuktian dan Akhir yang Cerdas

Tak salah aku memilih Risa sebagai salah satu sahabat dekatku. Meski pernah melakukan beberapa kali kesalahan dalam hidupnya, Risa tetaplah perempuan yang cerdas dan kuat, yang tak membiarkan dirinya terlalu lama hanyut dalam kesedihan dan kekecewaan akibat kegagalan berumah tangga. Sekarang setelah berstatus sendiri lagi, Risa sudah jauh lebih tenang. Dia langsung fokus pada dua buah hatinya yang tak boleh turut hancur dalam kemelut keluarga ini, fokus pada karier, dan study nya. Ya, setelah menyelesaikan program Magisternya, kini dia sedang menjalani program Doktoral di Jakarta. Kedua anaknyapun tumbuh dengan sehat dan selalu meraih prestasi terbaik di sekolahnya masing-masing. Cool, ain’t she ? that’s my best friend !

Awalnya dia mengambil semua kesibukan itu untuk mengalihkan kesedihan dan rasa sakit hatinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dia menjadikan semua pencapaiannya itu untuk kebaikan hidupnya dan dua buah hatinya yang sudah beranjak remaja, sekaligus untuk membuktikan kepada suaminya, kepada perempuan selingkuhan suaminya, dan kepada dunia, bahwa Risa terlalu kuat untuk diruntuhkan oleh pengkhianatan tak bermutu yang berlangsung di balik punggungnya. Begitulah cara Risa melawan si Kucing garong, pengacau dalam hidupnya. Dia melawan dengan prestasi dan dengan pembuktian. Kemarahan dan kesedihannya dia ubah menjadi energi yang positif untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Keterpurukan hanya milik orang yang lemah hati dan tak percaya pada pertolongan  Allah.
Kini Risa bak bunga yang menebarkan harum dan menyebarkan manfaat. Kumbang-kumbang seolah berebut mencuri perhatiannya, namun Risa bergeming. Dia telah menetapkan standar yang sangat tinggi untuk kumbang yang bakal berhasil menaklukkan hatinya. Standar itu adalah : Kesetiaan. Sebuah standar yang kelihatannya bakal sangat sulit dimiliki oleh sembarang laki-laki. Hanya laki-laki spesial saja yang memiliki standar setinggi itu.
Semoga kisah ini dapat menjadi cermin bagi kita semua.


Salam sayang, 

anni