Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, May 23, 2013

Kebangkitan Nasional: Bangsa yang Abai Pada Anak- anaknya Sendiri


Sekarang tanggal 20 Mei. Masih adakah rakyat Indonesia yang peduli bahwa pada hari ini kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional ? saya yakin masih ada, setidaknya anak-anak Indonesia yang masih duduk di bangku sekolah.  Tapi bagaimana dengan mereka yang duduk di tampuk pimpinan negeri ini ? para penguasa Republik ini ? apakah mereka masih peduli, atau setidaknya masih mengingat moment bersejarah itu meski sedikit ?  terus terang saya ragu.

1. Ide awal Kebangkita Nasonal adalah Pendidikan Bagi Anak-anak Pribumi 

Bukan untuk sekedar kongkow sambil minum-minum kopi, para pemuda kita berkumpul pada 20 Mei 105 tahun yang lalu. Di sebuah ruangan tempat para mahasiswa Fakultas Kedokteran STOVIA biasa belajar ilmu Anatomi, seorang dokter muda bernama Soetomo bersama rekan-rekannya berbincang serius tentang nasib bangsa kita yang kala itu sedang  tertindas. Merekapun bersepakat mendirikan organisasi yang mereka beri nama Boedhi Oetomo dengan misi utama memajukan pendidikan kaum pribumi. Momen pembentukan organisasi ini kelak diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Tak masalah jika awal pergerakan mereka hanya memfokuskan pada etnis Jawa semata. Toh pada masa-masa selanjutnya, mereka melebarkan sayap perjuangannya dengan  merangkul semua etnis di Nusantara. Karena para Pemuda ini menyadari sepenuhnya, kita semua yang ada di Nusantara ini bersaudara, dan senasib sependeritaan dijajah oleh Bangsa asing dari seberang lautan sana.

Para pemuda ini sadar betul, bahwa sebuah bangsa tak boleh pasrah begitu saja pada nasib buruk yang melanda. Harus ada perlawanan, harus ada tindakan yang ekstrem yang tak dapat ditunda lagi. Pendidikan ! ya, itulah jawabannya. Anak negeri ini harus dibukakan matanya, bahwa mereka adalah manusia juga, yang sejatinya memiliki martabat yang sama dengan kaum penjajah yang berkulit lebih terang itu.
Hanya melalui pendidikan, kesadaran tentang kesejajaran martabat kemanusiaan itu akan timbul, kesadaran akan kebanggaan sebuah bangsa yang besar bakal tertanam. Anak-anak harus mendapatkan  pendidikan yang  tak hanya dimaksudkan memenuhi otak mereka dengan ilmu pengetahuan, namun juga menghaluskan budi pekerti dan memberikan keterampilan untuk bekal hidup sebagai manusia yang bermartabat.
Ya, para pendahulu kita sangat peduli pada anak-anak !
 
2. 105 tahun kemudian kita menjadi bangsa yang abai pada anak- anaknya sendiri.

Seabad lebih  telah berlalu sejak para pemuda menyerukan kebangkitan nasional, hingga sekelompok anak muda yang duduk di bangku SMK di kota Solo, berhasil menorehkan prestasi yang luar biasa. Anak- anak remaja belasan tahun itu berhasil menciptakan sebuah mobil yang mereka beri nama mobil ESEMKA.
Namun lihatlah bagaimana masyarakat merespon prestasi anak-anak muda ini. Media  massa bukannya memuji dan menyebar luaskan informasi perihal prestasi yang membanggakan ini, malah dengan enteng menyebutkan bahwa anak-anak SMK ini hanya sekedar merakit sebuah mobil, alih-alih membuat sebuah mobil ! bayangkan betapa tersinggungnya perasaan anak- anak itu ! alangkah bedanya arti MERAKIT dengan MEMBUAT, bukan ? anak- anak pintar itu jelas-jelas membuat, bukan sekedar merakit !

Seolah belum cukup puas menyakiti hati anak-anak ini, media massa dengan gencar menyebarkan informasi tentang gagalnya mobil ini dalam uji emisi, yang berimbas dibatalkannya  pemesanan 9 ribuan unit mobil Esmeka  oleh masyarakat. Ya Allah, bangsa apa ini ?. tega-teganya berbuat seperti itu pada anak-anak negerinya sendiri !  Ya jelas saja mobil ciptaan mereka masih jauh dari sempurna, karena para penciptanya adalah anak-anak yang sangat kurang pengalaman dan terkendala minimnya dana pula ! bukannya disupport atau dibantu, malah dihina-hina  !  Mereka itu, anak-anak SMK itu, benar-benar anak-anak pintar yang bernasib kurang mujur, tinggal di negeri yang sakit. 

Lalu Hibar Syahrul Ghafur, si anak pintar  dari Bogor yang baru duduk di bangku kelas 8 SMP. Anak sekecil ini mampu menciptakan sebuah benda yang sangat besar manfaatnya bagi kaum perempuan yang ada di seluruh muka bumi ini.  Hibar menciptakan sebuah sepatu anti perkosaan beraliran listrik, yang daya kejutnya efektif melumpuhkan para calon  pemerkosa. Bayangkan manfaatnya. ! ketika pemerintah tak berdaya (baca : tak peduli ) dengan maraknya kasus perkosaan di negeri ini, Hibar dengan tubuhnya yang kecil namun dengan otak dan hatinya yang besar, tanpa banyak bicara menjawab permasalahan sosial ini dengan cara yang cerdas, praktis, dan sangat telak !

Namun rupanya media massa kurang tertarik pada berita gembira semacam ini, karena nilai sensasinya jelas jauh dibawah sensasi pemberitaan soal mahasiswi yang tak jelas prestasinya macam Maharani.  Akhirnya prestasi Hibar yang cemerlang ini sangat sepi dari pemberitaan. Jarang masyarakat mengetahui kabar gembira tersebut. Tapi Hibar dan kawan-kawannya sesama anak pintar tak berkecil hati.  Para guru mengikut sertakan hasil karya mereka ke acara International Exhibition of Young Inventors 2013 di Kualalumpur.  Dalam ajang bergengsi itu, panitia langsung  mengganjar Hibar dan teman-temannya dengan 3 medali emas dan dua medali perak. Cukuplah itu menghibur kesedihan Hibar si anak pintar. Siapa peduli dengan ekspos media massa.

Tak lama sebelum ini, David Hartanto Wijaya anak jenius  yang kuliah di Nanyang Technological University - Singapura, harus meregang nyawa, sebab dia menemukan sebuah teknologi canggih yang sangat diminati oleh organisasi level dunia sekelas badan intelejen asing.  Penemuannya tersebut berupa 3D-Virtual Monitor (cmiiw), yakni sebuah teknologi yang memungkinkan seseorang menampilkan gambar 3 dimensi  di udara yang berfungsi sebagai layar monitornya. Semacam gambar hologram, kurang lebih seperti itu. Gambar Hologram tersebut dilengkapi dengan perintah-perintah yang dikendalikan dari jarak jauh. Jika misalnya gambar tersebut berupa manusia dengan bentuk yang sangat sempurna, maka kita dapat memerintah dia dari jarak jauh, sesuka hati kita.

Manusia hologram tersebut bisa diset sebagai apa saja semau kita. Sebagai sekretaris , teman main catur, pelayan toko, guru, dosen, dll, dan tentu saja dapat diset sebagai agen rahasia yang dapat menyusup kemana saja tanpa penghalang, namanya juga hologram.  Bayangkan besarnya aliran Dollar yang akan diperoleh David jika David berhasil mempatenkan penemuannya itu, dan betapa dahsyatnya kekuatan badan intelejen kita jika berhasil memanfaatkan teknologi tersebut. Ada pihak-pihak yang menilai ini  tak boleh terjadi, teknologi ini harus direbut, jadi nyawa David harus dihilangkan dengan modus operandi seolah  bunuh diri.  Lalu apakah pemerintah RI peduli ? Ya, sekedarnya saja. Selebihnya keluarga David sendirilah yang harus menguras keuangan keluarga untuk menyewa pengacara demi mengungkap kejelasan kasus anak kesayangan mereka.

3.       Anak – Anak Indonesia yang  Setiap  Hari  Menyabung  Nyawa

Baru tiga kasus  saja yang saya sebutkan sebagai anak berprestasi yang diabaikan pemerintah. Masih sangat banyak pengabaian yang secara terang-terangan dilakukan  terhadap anak-anak bangsa ini. Baik anak yang berprestasi atau anak-anak yang tak terlalu menonjol di seluruh pelosok Indonesia. Pengabaian yang terjadi sebab para penguasa hanya fokus pada syahwat kekuasaannya saja, dan pada politik kelas rendah yang jauh dari akhlak mulia.

Mari saya beri contoh ekstrem yang sering dianggap angin lalu saja oleh pemerintah. Lihatlah di berbagai pelosok negeri ini. Masih sangat banyak anak-anak yang saat pergi ke sekolah seolah seperti pergi ke medan perang. Mereka harus menyabung nyawa saat pergi dan pulang sekolah dengan jalan merayapi dinding tebing yang curam, dengan jurang sangat dalam yang menganga di bawah kaki mereka. Sedikit saja anak-anak ini  lengah menginjak bagian dinding yang rapuh. jurangpun siap meremukkan tubuh-tubuh kecil itu tanpa ampun lagi.

Di tempat lain anak-anak terpaksa meniti jembatan gantung yang terbuat dari beberapa batang bambu yang diikat sekenanya dengan seutas tambang. Jembatan itu membentang diatas sungai berarus deras dan ganas. Anak-anak SD  itu harus berjalan ekstra hati-hati  meniti jembatan yang terus bergoyang karena rapuhnya. Saya lebih baik tak menyekolahkan anak saya dari pada mereka harus menyabung nyawa seperti itu.
Itu baru dua kasus. Kalau ingin yang lebih dekat dan nyata, mari tebarkan pandangan di sekitar kita, di perempatan-perempatan lampu merah di kota-kota besar. Entah berapa banyak anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah, menuntut ilmu, malah berkeliaran di jalan mencari uang dengan mengemis dan mengamen. Anak-anak jalanan ini sangat rentan kejahatan, dan sangat tak terlindungi hak-hak dasarnya. Entah ada dimana pihak-pihak yang semestinya melindungi mereka.

Lalu anak-anak korban bencana alam, korban penggusuran, korban kebakaran, atau anak-anak yang hidup di daerah konflik, kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Entah bagaimana nasib mereka seandainya tidak ada masyarakat yang peduli, karena perhatian dari pemerintah dirasa sangat minim.

4.  Salah satu indikator negara gagal adalah negara yang mengabaikan anak- anak !

Lembaga nirlaba The Fund for Peace merilis indeks negara gagal untuk tahun 2012. Lembaga yang berbasis di Washington DC ini menempatkan Indonesia di peringkat 63 dari 177 negara dengan total indeks 80,6.
Ada sejumlah indikator yang digunakan dalam memposisikan suatu negara, dekat atau jauh dari kegagalan. Lembaga ini menggunakan indikator sosial dan ekonomi serta indikator politik dan ekonomi.
Dari 11 items yang menjadi indikator, Indonesia punya nilai terburuk di 4 hal yakni demografi, ketidakmerataan pembangunan ekonomi, kekerasan terhadap minoritas serta ketidakmampuan negara melindungi kelompok rentan termasuk anak-anak, dan lemahnya aparat keamanan. (detiknews.com)

5. Jangan sampai ancaman negara yang gagal menjadi kenyataan

Waktu, dana, dan tenaga  yang kita miliki sangat terbatas. Sementara waktu tak mau peduli. Berjalan sangat cepat, begitu pula dengan anak-anak kita. Mereka bertumbuh kembang melebihi kesadaran kita. Akan bagaimana masa depan mereka jika kita sebagai orang tua, guru, dan anggota masyarakat terus  berleha-leha, atau tak berbuat banyak karena alasan keterbatasan waktu, dana , dan tenaga ? Mari kita tak lagi menunggu-nunggu uluran tangan pemerintah, karena mereka sangat lamban !

Pemerintah sedang sibuk menutupi borok korupsinya, dan sedang sibuk bersolek  menutupi sisa-sisa harga dirinya yang sudah sangat rendah, agar masih mendapatkan kepercayaan rakyat. Ya tentu saja rakyat yang mudah tertipu oleh uang. Jadi jangan harapkan pemerintah dapat melakukan hal-hal besar di luar itu. Mari kita melakukannya sendiri., sambil sesekali mengamati tingkah polah para penguasa dari layar kaca. Anggap saja sebagai selingan yang menggelikan. Anggap saja sedang menonton acara dagelan yang tidak lucu.

Kita mulai dari keluarga kita dan lingkungan terdekat kita, atau melalui organisasi yang kita ikuti. Mari kita selamatkan pendidikan anak-anak kita, kita selamatkan masa depan bangsa kita. Sayangi anak-anak, lindungi, dukung, dan bantu sekuat tenaga agar mereka mencapai keberhasilan dan kebahagiaan. Inilah makna kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Bangkitnya kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan masa depan bangsa, melalui pembinaan generasi mudanya.


Salam sayang,

anni