Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, May 23, 2013

Negeri yang Tak Layak Lagi Ditinggali




Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi cukup serius dengan dua putri saya, Ufi dan Selma,  yang duduk di bangku SMA. Awalnya saya bermaksud mengobrol santai biasa saja. Namun ketika obrolan sudah menjurus ke diskusi yang lebih serius, saya tersadarkan bahwa tidak semua remaja hanya bisa berpikir sebatas sesuatu yang sifatnya fun saja. Anak-anak sekarang wawasannya jauh lebih luas dan mampu berpikir (lebih tepatnya berhayal)  hingga jauh ke depan.

Diskusi kami berkisar tentang :  akan tinggal dimana kelak, jika mereka telah dewasa, mandiri, dan berumah tangga. Jawaban yang saya dapatkan dari anak-anak saya itu sangat masuk akal dan faktual, maklum anak-anak zaman sekarang sangat cepat mengakses informasi. Meskipun begitu,  saya cukup merasa berkecil hati saat mendengar jawaban mereka. Mengapa saya berkecil hati ? karena inilah jawaban anak-anak saya : berencana tinggal di luar negeri, antara di Canada atau di Australia, atau di negara lain. Alasannya, karena negara kita tidak kondusif untuk kehidupan sosial yang sehat.

Mendengar jawaban mereka yang lugas dan to the point, agak lama saya 
terdiam.  Ada satu pertanyaan besar yang tiba-tiba menyesaki pikiran saya. Apakah hanya anak saya saja yang berpendapat seperti itu,ataukah ada remaja lain yang berpendapat sama? . Bagaimana seandainya banyak anak-anak yang berpendapat sama ? bisa gawat nanti masa depan bangsa kita, kalau anak-anak Indonesia sudah tak berminat lagi tinggal di negeri sendiri. Untuk menjawab kepenasaran saya, secara acak saya berbincang ringan dengan beberapa murid yang sebaya dengan anak-anak saya. Ternyata 100 persen mereka memberikan jawaban yang sama : ingin tinggal di luar negeri saat dewasa kelak !.  Alasannya, nggak ada enak-enaknya hidup di Indonesia. Haduh,   bertambah kecil hati saya.

Lalu saya menghibur diri. Pendapat anak-anak itu belum berarti apapun bagi saya, karena mereka bukanlah anggota populasi yang menjadi subjek sebuah penelitian ilmiah. Merekapun bukan sampel yang dapat dianggap mewakili seluruh populasi anak muda di Indonesia.. Semoga saja sebagian besar anak-anak muda Indonesia masih memilih negeri sendiri sebagai tempat tinggal mereka kelak.

Benarkah Indonesia kurang layak dijadikan tempat tinggal di masa yang akan datang ? simaklah argumentasi  yang dikemukakan anak-anak remaja yang kecil-kecil cabe rawit itu …

1. Indonesia terancam menjadi negara gagal

Berdasarkan hasil penelitian yang dilansir sebuah lembaga nirlaba The Fund for Peace pada Juli 2012, ada sejumlah indikator yang digunakan dalam memposisikan suatu negara, dekat atau jauh dari kegagalan. Lembaga ini menggunakan indikator sosial dan ekonomi serta indikator politik dan ekonomi.
Dari 11 items yang menjadi indikator, Indonesia punya nilai terburuk di 4 hal yakni demografi, ketidakmerataan pembangunan ekonomi, kekerasan terhadap minoritas serta ketidakmampuan negara melindungi kelompok rentan termasuk anak-anak, lemahnya aparat keamanan dan lemahnya  media massa.
Dengan keadaan seperti itu, dan melihat kinerja pemerintah yang  dinilai rendah, rasanya sulit untuk membawa indonesia keluar dari krisis. Bahkan melihat perkembangan terkini, kerusuhan di daerah-daerah semakin sering terjadi, kejahatan yang merajalela, lemahnya penegakkan hukum, konflik horizontal antara pemeluk agama dan suku bangsa, dan berbagai permasalahan sosial lainnya yang sulit diatasi, anak-anak berpendapat sangat riskan membina rumah tangga dan membesarkan anak di lingkungan seperti  itu.

2. Pejabat indonesia banyak yang korupsi.

Indonesia masih menjadi negara yang korupsinya tertinggi di dunia. ” Jumlah korupsinya, dan pejabat yang melakukan korupsi juga nggak kepalang tanggung ! “, begitu kata anak-anak. ” Habis duit kita dimakan sama pejabat. Mana main cewek lagi ! alay banget tuh pejabat “
Hmm …
” Tapi kan nggak semua pejabat korupsi “, kata saya setengah hati.
” Iya buu, yang nggak korupsi yang jabatannya nggak gitu penting ! “
Parah banget nih anak-anak, ck ck … 

3. Anak- anak merasa kurang mendapat dukungan dari pemerintah.

Artikel saya yang lalu tentang negara yang mengabaikan anak-anak, sebetulnya antara lain terinspirasi oleh obrolan saya dengan anak-anak remaja ini.  Betapa banyaknya prestasi dan potensi anak-anak yang menguap begitu saja karena pemerintah( termasuk birokrat daerah dan guru yang tidak kreatif ) tidak mendukung dan kurang menghargai potensi mereka. Sebagai contoh, prestasi anak-anak SMK pencipta mobil SMK yang kurang diapresiasi oleh  pemerintah dan masyarakat, anak-anak pemenang berbagai kejuaraan akademik dan non akademik tingkat nasional dan internasional yang kurang diapresiasi oleh media massa, anak-anak yang berprestasi misalnya dalam ajang olimpiade sains, karya tulis ilmiah, pertandingan olah raga, lomba seni, penemuan inovatif, dll, sering harus berjuang sendiri karena pembinaan dari diknas di daerah sangat minim, begitu juga dengan dukungan dana yang diperlukan saat pergi berlomba. Hal ini sangat mengecewakan hati anak-anak. Jika ini terus berlangsung, anak-anak akan semakin memandang negatif pada pemerintah dan pemimpin negeri ini. Jadi menurut anak-anak, nggak asyik tinggal di negeri yang pemimpinnya dodolipet seperti itu.

4. Pendidikan di Indonesia kacau balau.

“ Ah kacau balau bagaimana ? “, tanyaku.
“ Mau tau aja atau mau tau banget ? “, kata anak-anak.  “Mau tau dong”, jawabku. Dan inilah pandangan anak-anak tentang pendidikan kita :

a. Mata pelajarannya kebanyakan
b. Materi tiap pelajaran kebanyakan dan banyak yang nggak penting
c.  Kurikulumnya gonta-ganti melulu, bikin bingung
d. UN curang didiemin aja
e. Biaya kuliah mahal
f.  Pelajaran di sekolah banyak, tapi nggak ngerti, sampai harus bimbel di luar yang biayanya mahal
g. Anak-anak tawuran sanksinya ringan
h. Banyak guru yang sering bolos
i. dll 

5.  Kejahatan terhadap anak-anak semakin marak

Setiap detik setiap waktu, media massa gencar memberitakan tentang berbagai kejahatan yang menimpa anak-anak Indonesia. Perkosaan, pembunuhan, perdagangan anak, penculikan, seolah terus berlangsung tanpa akhir. Media massa hanya memberitakan kejahatannya, tapi jarang memberitakan dihukum seperti apa pelakunya. Anak-anak jadi merasa takut dan  was-was, jangan-jangan para penjahat itu dihukum ringan, bahkan sekarang sudah bebas berkeliaran mencari mangsa baru lagi.
Belum lagi masalah maraknya narkoba, seks bebas, pornografi yang  sulit diatasi. Juga geng motor yang makin hari makin ganas saja. Apa enaknya tinggal di negeri yang seperti ini ?
Menghadapi argumentasi anak-anak yang sangat negatif tapi sayangnya ada benarnya itu, ini jawab saya :

Indonesia negara ke 4 terindah di dunia

Bayangkan indahnya negeri kita. Dari ratusan negara di dunia, indonesia berada di urutan ke 4, jauh di atas Inggris, Perancis, Italia, Amerika Serikat,  negara-negara Timur Tengah, dan negara-negara lain yang menjadi destinasi pariwisata. Masak tidak tertarik tinggal di negri seindah ini ? ibaratnya, keindahan bertebaran di setiap sudut, di setiap penjuru, bahkan di setiap belokan gang  negeri ini. Orang dari negara lain mengeluarkan ribuan dollar untuk bisa mengunjungi negeri kita, masak kita yang sudah gratis ada di sini, malah mau meninggalkan begitu saja ? coba pikirkan baik-baik …!

Indonesia negara ke 14 dengan penduduk terbahagia di dunia

Nah yang ini lebih dahsyat lagi. Negara lain boleh saja lebih maju, lebih kaya, lebih rapi dan tertib, tapi penduduknya tidak bahagia. Buat apa ? nggak ada gunya semua milik mereka kalau hati mereka tidak bahagia, bukan ?
Beda dengan Indonesia. Biar orang bilang negeri kita kacau balau, tapi penduduknya bahagia. Ini fakta ! Yang bikin penelitiannya juga lembaga bergengsi kok ! Jadi bukan mengarang-ngarang begitu saja.

Kalau begitu, mengapa orang Indonesia bahagia padahal hidupnya susah ? Jawabannya, karena kebahagiaan orang Indonesia adanya di dalam hati, jadi dibawa kemanapun kita pergi. Tak peduli bagaimanapun sulitnya keadaan di luar, hati kita tetap bahagia. Karena di hati kita selalu ada Tuhan, ada Allah Sang pemberi kebahagiaan yang selalu kita cintai.

Indonesia menduduki peringkat ke 2 pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia

Hanya Cina yang lebih baik dari kita.
Pertumbuhan ekonomi Cina 7,2 persen pertahun, sementara Indonesia 6,3 persen pertahun. Negara lain yang hebat-hebat semacam Korea, Jerman, Saudi, lewaatt …
Jadi mengapa harus khawatir tinggal di Indonesia ? 

Mencintai tanah air itu bukan hanya kewajiban warga negara, namun juga kewajiban agama.

Mencintai tanah air, membangun, membela, dan merawatnya adalah ibadah yang benilai sangat tinggi (menurut agama Islam yang kami anut  dan saya rasa agama yang lainpun mengajarkan hal yang sama ). Tidakkah kalian tertairk untuk membangun negeri ini dan membawa negeri ini ke arah kemajuan, dengan nama kalian terukiir indah di dalam lembaran sejarah negeri ini ?  Sekali lagi, pikirkan baik-baik ! . 


Salam sayang,

Anni


Sumber :
www.travel.detik.com
www.travel.ghiboo.com
www.republika.co.id
www.bumn.go.id