Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, September 23, 2013

Evan Dimas dkk, Idola Baru Kebanggaan Indonesia




1379905183845864851

Salah satu kegiatan yang paling mengasyikkan tapi paling banyak menyita waktu dan emosi, menurut saya adalah menonton pertandingan sepakbola di televisi. Tak hanya menyita waktu dan emosi, para ibupun harus merelakan ruang keluarga yang biasanya rapi bersih menjadi berantakan gara-gara tebaran kulit kacang dan ceceran remah-remah camilan serta segala kopi, teh, dan minuman ringan yang setia menemani selama pertandingan berlangsung. Belum lagi bantal duduk dan karpet yang mendadak kehilangan posisi dan bentuk, gara-gara anak-anak remaja kita dan ayahnya anak-anak yang tak bisa diam, terus pecicilan selama pertandingan berlangsung. Heboh banget, serasa pertandingan sepak bola berpindah ke rumah kita !

Dan semua kehebohan itu akan mencapai klimaksnya ketika tim kesayangan keluarga keluar sebagai pemenang. Tempik sorak dan pekik kemenangan yang berkumandang, membuat rumah seakan dipenuhi oleh ledakan petasan pengiring pengantin Betawi, saking berisik dan hebohnya. Kalau sudah begini, kelakuan orang tua dan anak – anak sudah tak ada bedanya sama sekali, semua melonjak-lonjak kegirangan saking senangnya.


Pertandingan menegangkan yang membuat penyakit maagku kambuh


Sejak petang di hari Minggu kemarin, para penggila bola, dan fans kesebelasan Merah-Putih sudah harap-harap cemas menantikan pertandingan paling menentukan yang selama ini ditunggu-tunggu. Setelah melalui serangkai pertandingan jatuh – bangun yang mendebarkan, akhirnya anak-anak muda Indonesia yang bernaung di bawah panji kesebelasan Garuda Muda berhasil melaju menjadi kandidat pemenang piala AFF U-19, berhadapan dengan tim tangguh Vietnam yang sempat mengalahkan anak-anak asuhan Indra Sjafri itu di pertandingan sebelumnya, dengan skor 2-1

Saya bukan penggila bola, tapi saya penikmat pertandingan sepak bola yang dimainkan dengan cantik, tak masalah apa nama timnya dan dari negara mana mereka berasal. Saya paling malas jika harus disuguhi pertandingan sepak bola yang kerjanya rusuh melulu, baik rusuh antar pemain, ribut antara pemain dengan wasit, atau tawuran antar supporter kesebelasan. Lebih baik saya meraih remote TV dan memindah channel saja, atau beranjak dari sofa di depan TV dari pada saya harus menggerutu panjang lebar sebab tak bisa membedakan, apakah yang sedang saya saksikan itu pertandingan sepak bola atau pertandingan Thai Boxing ? 

Dan kemarin malam itu, saat suami dan anak remajaku dengan heboh menyaksikan pertandingan final kesebelasan Indonesia lawan Vietnam, saya hanya bertahan 15 menit saja duduk di depan TV dan setelah itu saya memilih menyingkir , dan mencuri dengar saja dari ruangan lainnya. Asli, ngeri dan tegang banget mendengar suami dan anakku berteriak-teriak saat  gawang Indonesia terus diancam oleh pemain lawan, dan saat berulang kali pemain Indonesia gagal menyarangkan gol ke jaring lawan, padahal kesempatan emas sudah ada di depan mata.

Aduh, sampai mulas perutku karena mendadak penyakit maagku kambuh akibat terlalu tegang. Bayangkan, mencuri dengar saja sudah cukup membuat penyakit maag saya kambuh, bagaimana pula jika saya harus duduk di depan TV sampai 90 menit lebih ? tobat deh ..

Tapi jujur, permainan anak-anak muda yang umurnya masih belasan itu benar- benar luar biasa. Terserah jika anda berpendapat penilaian saya berlebihan. Yang jelas, saya adalah pendukung tim kesebelasan Garuda Muda, dan tetap akan mendukung meski mereka harus kalah. Saya bangga dengan anak-anak ini. Mereka menunjukkan permainan yang ngotot, berlari dan terus berlari mengejar bola hingga jauh melampaui posisinya, mati-matian mempertahankan gawangnya, kalau perlu semua pemain turun ke belakang berkerumun menjaga gawangnya agar tidak kebobolan. Lalu serentak berlari seperti tawon bubar untuk balik menyerang musuh. Hebat, benar- benar permainan hebat yang penuh taktik, sarat strategi, namun masih tetap mencerminkan permainan bola khas Indonesia yang guyub dan bergerombol. 


Evan Dimas dkk Sang Idola Baru 


Hanya dalam hitungan beberapa hari, tiba-tiba koran-koran dan situs-situs berita di seluruh tanah air menurunkan berita tentang sang Idola baru : Evan Dimas. Anak Surabaya yang berasal dari keluarga sangat sederhana. Tak seperti para idola sepak bola yang kebanyakan  berparas ganteng ,berpenampilan stylish dan bergaya flamboyan, Evan jauh dari kesan itu. Wajah Evan tak bisa dibilang ganteng. Namun Evan manis, sederhana, dan lugu. Siapapun akan senang memandang wajah seperti itu. Wajah Evan seperti wajah kebanyakan anak-anak remaja berumur 18 tahun di negeri ini. Tak ada kesan sok, lebih cenderung malu-malu. Penampilannya seperti teman sepermainan anak-anak kita saja, tak seperti para bintang yang selalu berjarak dengan orang- orang seusianya.

Evan Dimas, Ilham Udin, Hargianto, Ravi Murdianto, dkk, sangat layak menyandang predikat sebagai idola baru di jagad olah raga tanah air, bahkan pantas dijuluki sebagai pahlawan muda Indonesia. Evan dan kawan-kawannya yang masih remaja itu telah menorehkan prestasi gemilang yang mengharumkan negeri kita yang sedang terpuruk. Rasa sesak, sedih, marah, kecewa, yang akhir-akhir ini dirasakan seluruh rakyat Indonesia akibat berbagai kejadian buruk yang menimpa negeri ini, mendadak sirna dengan kemenangan gemilang yang diraih oleh tim Garuda Muda kebanggaan kita. Evan dkk, seakan menyiramkan air es yang sejuk segar ke dalam hati dan kepala seluruh rakyat Indonesia yang belakangan hari ini lebih sering panas dan geram ketimbang bahagia dan tenteram. 

Begitulah seharusnya sosok yang diidolakan. Tak banyak cakap, namun menunjukkan karya nyata dan prestasi gemilang. Sosok Evan dan kawan-kawan satu timnya lah yang seharusnya menjadi buah bibir, menjadi pembicaraan berhari-hari di berbagai sosial media dan semua media massa. Mereka layak diperbincangkan, menjadi bahan diskusi dan introspeksi. Anak-anak muda seperti inilah yang seharusnya mendapat dukungan tanpa batas, karena mereka telah membawa harapan baru bagi bangsa ini. 

Selama ini masyarakat Indonesia seperti kehilangan arah, seolah kehilangan kemampuan berpikir rasional. Hal ini terlihat dari eforia pemberitaan yang itu-itu saja di berbagai media massa, juga histeria para pengguna jejaring sosial yang beramai-ramai, terus-menerus, dan secara massif memberitakan tentang pemuda bernama Vicky, yang tingkah lakunya sama sekali tak patut ditiru. Vicky itu, sudah cara bicaranya kacau dan kelakuannya sok-sokan, tersangka kasus penipuan pula. Mana boleh pemuda seperti itu dijadikan idola ? masak orang Indonesia tak bisa membedakan, mana yang patut ditiru dan mana yang tidak ? 

Tak dapat kubayangkan betapa bangganya menjadi orang tua Evan dkk

Menyaksikan sorak sorai kemenangan yang seakan membelah langit di atas Gelora Delta Sidoarjo, tangis haru yang tenggelam dalam pelukan seolah takkan lepas diantara pemain dan official, air mata yang mengalir di wajah para penonton, saya hanya dapat diam membisu terpaku dengan mata berkaca-kaca. Rasa bahagia dan haru merasuki dadaku. Haru dan bangga yang tak terkira. Padahal saya bukan siapa-siapa bagi mereka. Padahal saya hanya penonton yang penakut, padahal saya hanya bisa mendoakan mereka, padahal saya berjarak seribu mil lebih sedepa dari tempat mereka bertanding. Namun saya sangat merasakan kebahagiaan dan kebanggaan itu

Tak dapat kubayangkan air mata yang mengalir di wajah Ayah -Bunda dan sanak keluarga para pemain yang menonton pertandingan, baik secara langsung di stadion maupun melalui layar kaca. Betapa akan sesaknya dada mereka oleh rasa bahagia dan haru, menyaksikan para putra, kakak, adik, sepupu, keponakan, dan sahabat tersayang mereka bertanding, berjuang tanpa kenal lelah, dan akhirnya keluar sebagai juara. Saya yakin, mereka tak akan sudi menukar kebahagiaan dan karunia sebesar ini dengan uang sejumlah apapun. Saya yakin, tak sedikitpun terlintas di benak para orang tua , besarnya bonus yang akan didapatkan anak-anak mereka, selain harapan ingin segera bertemu dengan putra kesayangan, dan memeluk dengan segenap hati untuk melampiaskan segala rasa bangga dan rindu mereka. Perasaan orang tua terhadap anak belahan jiwanya, tak akan pernah tertukar sedikitpun.


Indonesia masih punya masa depan 


Sebagai rakyat Indonesia, saya berani mengatakan bahwa dunia sepakbola di Indonesia masih punya masa depan. Asalkan segala kekisruhan yang terjadi diantara para pemimpin organisasi sepak bola segera diakhiri, asalkan pemerintah lebih serius memberikan segala fasilitas yang diperlukan untuk mengasah bakat dan skill para pemain, asalkan para supporter kesebelasan di Indonesia menghentikan kebiasaan tawurannya. 

Contohlah anak-anak remaja itu. Dalam kesederhanaannya, dalam diamnya, tak banyak tingkah, mereka terus bekerja keras dan berjuang tanpa kenal menyerah. Tanpa memikirkan bagaimana kelanjutan studi dan nafkah untuk masa depannya, Evan Dimas dkk terus berlatih dan berjuang. Hanya satu yang mereka pikirkan : bertanding, berjuang, menang, dan membawa harum nama Indonesia. Dengan anak-anak muda yang seperti ini, saya yakin tak hanya dunia olah raga Indonesia yang masih punya harapan yang baik di masa depan, namun negeri inipun, masih punya harapan di masa mendatang. Sebab bukankah anak muda yang pantang menyerah, yang selama selalu membawa perubahan bagi negeri ini ?
Mari kita teriakan dukungan kita : Indonesiaaa … !! Indonesiaaaa … !! Indonesiaa… !!!

Salam   sayang,

Bu anni