Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, September 25, 2013

Jalak atau Jablay?



Suatu sore saya mendapati diri saya sedang mengantri di sebuah warung Sate Madura di dekat gang kompleks rumah saya. Saya bermaksud membeli Sate Ayam untuk lauk makan malam. Sambil menunggu dilayani, dengan terpaksa saya mendengarkan alunan musik dangdut yang diputar keras- keras oleh si pemilik warung. Saking kerasnya saya sampai harus berteriak saat menyebutkan pesanan saya. Ampun deh kerasnya, apa nggak pada jadi tuli itu orang – orang yang seharian bekerja disana.

Tunggu dulu, ini bukan kisah tentang kuliner lezat yang bernama Sate Madura itu lho, ini tentang rasa takjub saya pada syair lagu dangdut yang digeber dengan volume super keras itu. Bagaimana tidak takjub, bunyi syairnya lumayan seronok, berkisah tentang kekesalan seorang perempuan yang selalu menjadi bahan perbincangan tetangga gara – gara statusnya sebagai seorang janda. Dia bilang, “ aku ini jalak, janda galak ! bukan jablay, janda lebay ! “ astaghfirullah  …

Saya lalu berpikir, ini lagu kok gitu banget ya ? kayak nggak dipikir dulu , gitu lho. Sambil mendengarkan saya lalu membayangkan sosok penyanyinya. Dalam bayangan saya penyanyinya paling kurang lebih sama dan sebangun dengan si goyang kalkun, atau si siapalah, model-model penyanyi dangdut pantura ,yang hanya mengandalkan goyang dan kemolekan tubuh semata, dari pada keindahan suara. Sesampainya di rumah, saya langsung browsing di situs Youtube, penasaran ingin melihat video lagu itu. Karena saya tak tahu judul lagunya, saya main ketik asal-asalan saja. Saya ketik kalimat “ jalak jablay “, dan … berhasil ! itu dia videonya. Saya klik, dan betul saja. Perkiraan saya tak meleset sedikitpun. Persis seperti yang saya bayangkan, hanya saja penampilan penyanyinya tidak begitu kampungan.

Jangan menyebut kata “ Janda “ tanpa rasa hormat.

Jalak alias Janda Galak. Apa ini maksudnya ? apakah itu berarti seorang janda yang tak mudah digoda ? selalu pasang wajah ketus dan judes agar laki-laki tak melecehkan dia, agar tak disangka genit oleh tetangga ?. Lalu Jablay atau janda lebay. Apa pula ini maksudnya ? apakah untuk menggambarkan seorang janda centil yang suka menggoda suami orang ? apakah ini artinya seorang janda yang keramahtamahannya dibuat- buat agar orang lain tertarik padanya ? Lalu jika memang betul begitulah artinya, mengapa menggunakan istilah itu ? mengapa menggunakan istilah yang justru mengundang pelecehan terhadap kaum janda ?

Janda itu hanya status perkawinan yang  merupakan sebagian kecil saja dari status sosial seorang perempuan. Menjadi janda itu takdir, suratan hidup yang kadang sangat,- sangat sulit dielakkan. Menjadi janda itu pilihan hidup yang traumatis dan menyakitkan. Tak ada satu perempuanpun yang menginginkan status ini, jika tidak karena keadaan yang memaksa, jika tidak karena kehidupan perkawinan yang menyakiti fisik dan mental seorang perempuan.

Janda cerai mati umpamanya. Siapa yang mau bernasib malang seperti itu ? bercerai selamanya dengan belahan jiwa yang sangat dicintai ? berpisah dengan seseorang yang diharapkan menemani sisa hidup hingga maut memisahkan, yang sayangnya maut merenggut nyawa sang suami terlebih dahulu . Siapa yang mau menerima cobaan seberat itu ? tak satupun perempuan yang akan benar- benar siap menghadapinya, meski hanya sekedar membayangkannya saja. Namun jika itu sudah takdir, jika itu sudah kehendak Allah sang pemilik jiwa suami, kita bisa apa, selain menangis, pasrah, dan berserah diri ?

Lalu janda cerai hidup. Saya tak akan berbicara tentang seorang perempuan yang berstatus janda gara-gara diceraikan oleh suaminya sebab perempuan itu berselingkuh dengan laki-alaki lain. Maaf saja, janda yang seperti itu tidak termasuk dalam kategori janda seperti yang akan saya bicarakan disini, karena dia sudah mencederai kehormatannya sendiri. Bagaimana pula orang lain akan menghormati dia jika perilakunya seperti itu. Yang akan saya bicarakan disini adalah janda cerai yang selalu setia menjaga kehormatan dirinya, yang mampu menghargai hidupnya, dengan meninggalkan perkawinan yang tak lebih hanya sebuah neraka dunia saja baginya.

Tak terhitung banyaknya perempuan berstatus janda yang saya kenal di lingkungan saya. Di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, pertemanan, tetangga, dll. Janda yang lebih memilih bercerai daripada harus hidup berdampingan dengan laki-laki pecundang yang memperlakukan istrinya bagaikan seorang budak, atau menjadikan istrinya itu samsak tinju yang bebas dipukuli kapan saja saat sang suami merasa kesal. Mana ada perempuan yang rela diperlakukan seperti itu. Belum lagi kasus-kasus suami yang pemalas, tak mau bekerja, mengandalkan tenaga istri, atau kerjanya main perempuan melulu. Perempuan yang tahu bagaimana menghargai kehidupannya dan masa depan anaknya, jelas lebih memilih mundur dari perkawinannya,daripada harus melanjutkan pernikahan yang sudah tak ada gunanya lagi.

Saya kenal dengan banyak janda yang bercerai mati atau hidup. Semua saya kenal dengan baik, dan semuanya sangat menjaga perilaku mereka dengan cermat. Berusaha tegar meneruskan kehidupannya meski dengan luka batin yang sulit disembuhkan. Kebanyakan dari mereka masih juga membawa anak dari buah perkawinannya, karena pada umumnya anak lebih memilih tinggal dengan Ibu daripada dengan Ayah. Dengan tanggun jawab yang tak bisa dibilang kecil, para janda ini harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik anaknya, tanpa suami di sisinya. Suami yang seharusnya menjadi pelindung, penjaga, dan penghiburnya. Dengan perasaan yang pedih perempuan janda ini berusaha tampil dengan tegar, tetap tersenyum meski hati telah terkoyak-koyak oleh kesedihan dan kekecewaan.

Tak pernah mudah menyandang predikat janda. Saya melihat sendiri bagaimana perjuangan ibu saya, melihat sendiri bagaimana kerasnya kehidupan yang harus dijalani ibu mertua saya, juga adik ipar, dan kerabat saya lainnya. Ayah saya dan ayah mertua saya meninggal dunia ketika kedua ibu yang saya cintai itu berusia masih relatif muda, 40 tahunan ! usia ketika seorang perempuan seharusnya menikmati hidup dengan tenang dan bahagia . Lalu adik ipar saya. Dengan berani dia memilih keluar dari perkawinan membawa serta ketiga anaknya, karena tak tahan lagi melihat perilaku suaminya yang punya penyakit selingkuh kronis. Adik saya ini lebih muda lagi ketika bercerai, masih 30 tahun, cantik pula !. Ini yang membuat kehidupan mereka semakin sulit. Menjanda di usia muda.

Sebaik apapun mereka berperilaku, sewajar apapun mereka berbicara, selalu saja ada omongan dari tetangga yang usil, tetangga yang menaruh syak dan curiga, atau cemburu. Omongan yang tidak pantas, omongan yang memanaskan telinga dan menyakiti hati, omongan yang berbau fitnah dan gossip yang sama sekali jauh dari kenyataan. Adik saya ini sampai harus berpikir dua kali saat harus berbicara dengan laki-laki di tempat kerjanya, sebab pernah sekali dia mendengar seseorang berbicara buruk tentang dirinya. Ini kan sudah tidak benar. Bagaimana mungkin dia dapat bersikap professional dalam pekerjaannya, jika berbicara dengan lawan jenis saja selalu dihantui kecemasan ?

Kadang karena ingin mengcounter pembicaraan negatif tentang dirinya, para janda ini akhirnya harus bersikap tertutup, ekstra pemilih dalam berteman, sangat hati-hati dalam berbicara dan bertingkah laku, dll, yang kesemuanya sesungguhnya tak perlu dilakukan sampai sedemikian rupa ketatnya. Tapi apa mau dikata, itulah rupanya pilihan yang ada di hadapan mereka, sebab berperilaku wajar dan biasa sajapun sudah cukup menimbulkan omongan miring.

Bersyukurlah perempuan janda yang memiliki hati dan mental sekuat baja. Yang teguh pada nilai-nilai kebaikan yang dia yakini, yang dapat hidup sewajarnya tanpa perlu mengubah karakter, yang masih dapat bergembira dan tertawa sebagaimana manusia lainnya, dan selalu dapat menangkis segala pembicaraan miring dengan prestasi yang nyata. Namun ada berapa banyak perempuan janda yang memiliki ketangguhan seperti itu ? tak banyak, karena kultur kita, karakter masyarakat kita membuat seorang perempuan janda seolah harus hidup ekstra hati-hati .

Berhentilah menciptakan karya seni yang berkonotasi pelecehan

Ayolah para pencipta lagu, para penyanyi, para penggiat seni, dan para pencipta trend, berhentilah membuat karya yang menhinakan atau mengundang pelecehan terhadap para janda. Sudah cukup berat kehidupan yang dijalani para janda. Jangan tambah lagi beban mereka dengan karya seni yang hanya membuat mereka menjadi objek olok-olok seolah mereka hanyalah manusia yang tak berperasaan.

Boleh jadi semua karya itu hanya bermaksud gurauan, atau menciptakan trend yang segar, atau apalah, yang awalnya tak bermaksud menghina pihak-pihak tertentu. Namun, setelah sebuah karya seni dilempar ke pasar dan dikonsumsi masyarakat, akibatnya akan sangat sulit diprediksi. Jika ternyata kemudian karya seni anda itu menyakiti golongan tertentu, maka sangat besar andil anda dalam kesalahan yang timbul. Jangan menggunakan bakat seni dalam diri anda untuk mencederai perasaan orang lain, karena bukan untuk tujuan itu Allah memberi anda bakat sebesar itu.

Anda Jalak atau Jablay ? bayangkan jika pertanyaan tak senonoh itu dilontarkan seseorang kepada kakak perempuan kita, adik perempuan, atau sepupu yang sangat kita sayangi. Kalau itu terjadi pada keluarga yang saya sayangi dan saya hormati, saya sendiri yang akan menampar orang yang tak tahu sopan- santun itu ! . Marilah kita saling menghormati sesama manusia.


Salam sayang,

Anni