Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, September 12, 2013

Tanggapan Atas Artikel Bu Anni. Oleh : Lis Aurora

 



Saya sengaja menulis ini karena terus terang takut dashboard saya
njebluk kalau berkomentar di sana. Saya juga tak peduli dikatakan 
mendompleng kepopuleran Bu Anni. Yang saya tulis ini cuma curhat 
seorang ibu yang mungkin terlalu panjang untuk dijadikan komentar.

Pada dasarnya saya setuju dengan pendapat Bu Anni, bahwa tes keperawanan itu bisa jadi teror mental bagi anak-anak gadis. Bagaimanapun kemaluan seorang perempuan, baik sudah bolong maupun masih buntet (maaf, kasar) seharusnya tetap jadi sesuatu kepemilikan pribadi, bukan diumbar statusnya, atau bahkan diobok-obok keberadaannya.

Saya berpendapat bahwa tes keperawanan itu SAMA SEKALI TAK PERLU DILAKUKAN. Kenapa? Karena yang sudah terlanjur tak perawan tetap akan tak perawan. Karena ketidakperawanan tidak 100% menunjukkan berkurangnya nilai moral. Karena ada hal lain yang lebih mendesak untuk dilakukan, yaitu CUCI OTAK PARA ORTU / CALON ORTU.
Makin hari saya makin miris melihat betapa para ortu jaman sekarang begitu permisifnya pada sikap anak. Sebuah kenakalan ‘kecil’ dianggap lumrah, padahal bisa jadi itu adalah bibit-bibit kebejatan moral dan pangkal tindak kriminalitas.

Ortu pun jarang yang bisa jadi contoh yang baik. Kata-katanya kasar. Gampang menghakimi orang lain yang tak sepaham. Korupsi. Berbohong. Ingkar janji. Menghina. Tak mau menghargai orang lain. Dan masih banyak lagi.
Bagaimana bisa KITA mengharapkan anak-anak KITA bermoral baik kalau KITA tak kalah bejatnya? Kalau KITA tak bisa mengendalikan keinginan dan perilaku anak dengan alasan kemajuan jaman?

Siapa KITA? Siapa ANAK KITA? Apa itu TUNTUNAN AGAMA? Apa itu BUDI PEKERTI? Apa itu MENDIDIK?
Saya rasa itu yang perlu direnungkan dan dipraktekkan segera. BUKAN BIKIN HEBOH DENGAN WACANA TES KEPERAWANAN. Saya setuju sepenuhnya dengan sentilan Bu Anni, jangan ‘buruk rupa cermin dibelah’.

Ketika anak jadi tak terkendali, bermoral bablas tanpa batas, JANGAN SALAHKAN PEJABAT, JANGAN SALAHKAN NEGARA, JANGAN SALAHKAN PEMUKA AGAMA, JANGAN SALAHKAN GURU. Semua upaya pengkambinghitaman itu tak akan pernah menyelesaikan masalah. SALAHKAN DIRI SENDIRI SEBAGAI ORTU.

Seorang anak tak pernah minta dilahirkan. Dia akan tumbuh dengan baik dan benar bila kita mencintainya dan memberi contoh nyata tentang kebaikan dan kebenaran, dengan cara yang baik dan benar pula. Dari bibit-bibit inilah nantinya akan muncul perbaikan bahkan sampai ke tingkat negara. Buat para ortu anak laki-laki, berilah pengertian pada putra kita untuk tidak merusak ‘pagar ayu’. Buat para ortu anak perempuan, beri pengertian putri kita untuk menjaga betul miliknya yang (masih dianggap) paling berharga.
 
Jangan lagi bebani anak-anak kita dengan hal-hal yang meresahkan seperti tes keperawanan itu. Tak cukupkah anak-anak ini dibebani dengan teror UAN? Dengan teror hedonisme yang makin menggila? Dengan teror dari ortu yang mengharap kesempurnaan?
Anak bukan obyek. Maka mari perlakukan mereka dengan cinta yang benar. Dengan contoh yang tepat. Agar ke depannya kita semua bertambah baik, bukan saling menyerang dan menyalahkan. Bukan menggelontorkan wacana-wacana aneh untuk menutupi kebobrokan pola pikir kita, dan kebejatan sikap moral kita sebagai ortu.

Ada tuntunan agama bagi yang beragama. Ada tuntunan budi pekerti luhur bagi semuanya. Semua itu berawal dari keluarga, dari orang tua. Tes keperawanan hanya akan memberi efek ketakutan instan (pada dilakukannya tes itu), bukan pada rasa takut akan Tuhan, atau rasa malu atas dilanggarnya moral dari budi pekerti luhur. Jangan kita jadi sesat pikir karena ketidakmauan kita untuk belajar dari kesalahan dan menghargai proses.


Selamat siang…
Salam curhat,

Lis S.

Catatan : artikel ini adalah opini / pendapat pribadi, dan tiap orang bisa punya pendapat yang berbeda dengan alasannya sendiri.