Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, September 13, 2013

Saat Bidadari Kontestan Miss World Menarikan Tarian Kipas




 1378776024481552257
 manado.tribunnews.com

Sabtu malam yang lalu saya berkesempatan menyaksikan acara Opening Show Miss World 2013 dari layar kaca. Acara yang digelar di pulau Dewata Bali itu dikemas dengan apik, anggun dan berkesan megah.  Warna-warni budaya tradisional Indonesia tampak dominan mewarnai keseluruhan acara.

Tak jemu rasanya mata ini memandang acara demi acara yang disajikan. Saya mendapat kesan, siapapun yang ada di belakang acara itu,  pastilah orangnya sangat kreatif dan perfeksionis. Wajar saja, karena acara pembukaan secara resmi ajang pemilihan Miss World 2013 ini ditayangkan juga di layar televisi di berbagai belahan dunia, dan entah ditonton oleh berapa juta pasang mata. Para perancang acara pembukaan tersebut tentu ingin menampilkan kesan terbaik di mata dunia.


Gadis Cantik Nan Menawan Hati


Ajang pemilihan Miss World alias Nona Dunia. Mendengar namanya saja, sudah terbayang tubuh langsing semampai, raut wajah cantik, pintar, berkepribadian menarik, dan berbakat. Tak salah lagi, memang begitulah gambaran yang saya tangkap dari para nona cantik calon Miss World ini. Sulit untuk memilih mana yang paling cantik dan menarik. Yang berkulit putih bermata biru tampak begitu jelita. Yang berkulit kuning mata sipit sangat molek, yang berkulit cokelat dengan mata hitam besar begitu cantik memikat hati, yang berkulit hitam, begitu manis mempesona. Semuanya cantik, semuanya menarik,   berkepribadian baik, dan berprestasi pula, pantas saja jika mereka terpilih sebagai gadis terbaik dari negaranya masing-masing.

Jika dalam ajang Miss Universe kriteria penilaiannya adalah Brain- Beauty- Behaviour, saya tidak tahu, apakah 3B ini juga berlaku dalam ajang Miss World. Namun demikian, saya yakin meskipun para juri memiliki formulasi yang berbeda dalam menilai calon Miss World, kriteria penilaian yang digunakan tentu tak akan jauh berbeda. Pemenang kontes Miss World selain harus cantik, juga harus smart, dan berkepribadian baik.


Ketika para bidadari dari berbagai negara menyajikan budaya Indonesia


Pernahkah anda menyaksikan para putri cantik dari berbagai belahan dunia menarikan salah satu tarian tradisonal Indonesia ? Saya belum pernah melihatnya, karena kalau tidak salah memang belum pernah ada. Namun di malam itu, melalui layar televisi, pemandangan indah yang sangat langka itu benar-benar saya saksikan. Sampai tertegun-tegun saya dibuatnya saking kagumnya.


Sekelompok gadis paling cantik yang merupakan utusan terbaik dari berbagai negara, menarikan tari Kipas dengan sangat lincah dan anggun. Ya tak salah lagi, mereka menarikan Tari Kipas asal Indonesia kita ! . Tari Kipas yang mereka bawakan memang bukan tari kipas yang asli, namun   tarian Kipas tradisional yang diberi sentuhan modern dance. Hasilnya sangat luar biasa memukau. Padahal konon mereka hanya sempat berlatih selama beberapa jam saja. Anak-anak gadis itu memang sangat pandai dan berbakat !


Gerakan tariannya mirip gerakan tari Kipas asal Minang atau suku-suku  Melayu. Ayunan tangan, gerak tubuh, dan rentak kakinya yang lincah, juga tanpa goyang pinggul, sangat khas Sumatera.  Diiringi  alunan musik Gondang dari tanah Batak yang diaransemen dengan sangat apik,  lengkap sudah keindahan yang tersaji di depan mata. Saya tidak tahu, mana yang lebih cantik dari semua itu. Para penarinya, gerakan tariannya, atau musik pengiringnya ? Yang jelas,  seorang Eko Supriyanto lah yang membuat semua pemandangan indah itu menjadi nyata. Tak percuma Eko menyandang gelar sebagai koreografer nomor satu di Indonesia yang kiprahnya sudah mendunia. 
 

Dan … Melihat anak-anak gadis dari berbagai bangsa itu menarik-nari dengan gembira, dengan mimik riang dan senyum ceria tak lepas dari wajah-wajah nan cantik, kok saya jadi merasa terharu, atau lebih tepatnya tersanjung. Sebagai seorang warga negara  Indonesia, saya sangat merasa bangga karena tarian kipas yang memang aslinya sudah indah itu, ditarikan dengan indah oleh gadis-gadis yang berpenampilan serba indah. Tersanjung, karena  mereka mengaku sangat menyukai tarian itu, tarian asli milik bangsaku, yang boleh jadi baru mereka dengar dan baru mereka tarikan seumur hidupnya.
 
Sambil menyaksikan keindahan yang sayangnya hanya berlangsung beberapa menit saja itu, saya membayangkan andai saja anak-anak gadis Indonesia lebih sering lagi menarikan tarian kipas dan tarian tradisional lainnya, alih-alih menarikan goyang itik, goyang gergaji, goyang ngebor, ngecor, blender, yang sama sekali tak bermutu, betapa akan indahnya pemandangan yang akan kita saksikan di layar kaca di rumah-rumah kita. Betapa akan terjaganya kekayaan khasanah budaya negeri ini , yang membuat negeri jiran merasa jeri untuk mengaku-ngaku semua produk budaya bangsa kita sebagai milik mereka.


Tak kulihat pornografi dalam acara itu


Entahlah, mungkin saya bukan seorang muslimah yang cukup baik. Meski sehari-hari saya berbusana muslim lengkap dengan jilbab panjang yang menutupi rambut, dan menjuntai menutupi bentuk dada saya, namun saya tak melihat sisi negatif  dalam penyelenggaraan acara pembukaan kontes Miss World itu. Atau mungkin saya luput melihat sisi negatifnya, karena faktor ketidak tahuan saya.


Saat mereka membawakan tarian kipas, misalnya. Kostum yang mereka kenakan adalah long dress model lengan setali  yang terbuka di bagian bahu. Tapi sungguh saya sama sekali tidak melihat ada unsur pornografi disana. Anak-anak gadis itu begitu anggun dan santun, tak sedikitpun menunjukkan gerakan sensual manatah lagi tingkah erotis yang mengundang syahwat.


Jika anda mengatakan bahwa tentu saja saya tidak merasa tertarik pada gadis-gadis itu karena saya perempuan, saya berani mengatakan, bahwa justru karena saya perempuan makanya saya sangat sensitif dalam menilai kecantikan dan keseksian penampilan seorang perempuan, karena standar penilaian perempuan terhadap perempuan lainnya cukup objektif. Kalau cantik ya cantik, kalau jelek ya jelek saja. Hanya laki-laki. berotak mesum saja yang terbangkitkan syahwatnya oleh tarian seindah dan sesopan itu.

Pendapat saya mungkin saja salah, tapi saya percaya pada mata dan hati saya,. Tak setitikpun saya menemukan pornografi di acara pembukaan kontes Miss World di Bali itu.  Yang ada hanya kecantikan, keindahan, dan pretasi. Keindahan juga yang dipertunjukkan saat mereka mengenakan busana adat tradisional dari seluruh penjuru Indonesia. Benar-benar anggun, mempesona, dan membanggakan.


Seandainya Miss World tanpa Bikini, tentu masyarakat tak akan keberatan


Bukan rahasia lagi jika ajang kontes ratu-ratuan seperti Miss World selalu melibatkan penggunaan busana renang / pantai alias bikini sebagai salah satu kriteria penilaiannya. Point inilah yang membuat sejumlah kalangan masyarakat di Indonesia merasa berkeberatan. Mengenakan bikini atau busana renang two pieces di tempat terbuka apalagi untuk maksud pertunjukkan, masih dianggap melanggar norma agama dan norma kesopanan di negeri kita. Memang begitulah kenyataannya. Semoderen apapun Indonesia sekarang ini, masyarakat kita masih memegang teguh adat ketimuran yang melarang mempertontonkan ketelanjangan atau setengah telanjang. 


Dengan kenyataan seperti itu, sudah saatnya Indonesia sebagai pihak penyelenggara memiliki posisi tawar yang jelas. Mengapa tidak secara tegas meminta pihak penyelenggara menghilangkan point penilaian bikini tersebut, demi menghormati kultur bangsa Indonesia ? ataukah tidak berani berdiplomasi karena unsur bisnis lebih dominan ? ya memang susah kalau kepentingan bisnis sudah berbicara. Sampai kapanpun Indonesia akan terus dipecundangi oleh negara lain, dan dihujat rakyatnya sendiri. 


Orang tua mana yang tidak bangga memiliki gadis yang cantik, berkepribadian mantap, bermoral baik, dan berprestasi ? semua orang pasti merasa bangga, negaranyapun tentu merasa bangga. Dan saya rasa, kebanggaan itu tak akan luntur sedikitpun, manakala orang lain tak mengetahui ukuran vital tubuh dan keseksian badan anak gadis kita saat mengenakan baju renang. 


Sampai detik ini saya tak menemukan sedikitpun hubungan antara kepantasan berpakaian renang dengan kepribadian, prestasi, dan kecantikan perempuan, kecuali untuk kepentingan bisnis belaka. Anak gadis akan tetap cantik, berprestasi dan justru akan lebih terjaga moralnya, manakala tubuh mereka tidak terpapar begitu saja di hadapan publik. Mereka akan lebih terjaga dari maksud-maksud eksploitasi seksual yang merendahkan martabat perempuan, dan terhindar juga dari tatapan penuh nafsu laki-laki yang bisanya hanya berpikir hal-hal kotor dan cabul saja !


Ini Indonesia. Kita punya budaya dan adat istiadat sendiri yang harus dihormati. Masyarakat dunia harus tahu itu, dan tugas pemerintahlah untuk membuat masyarakat dunia tahu. Saya yakin, jika Miss World tetap tampil sopan sesuai dengan adat Indonesia tempat diselenggarakannya event miss world 2013, masyarakat tentu tak akan merasa berkeberatan. Dan kesuksesan acara Miss World 2013 tanpa bikini ,akan menjadi promosi yang sangat baik bagi citra pariwisata Indonesia. 



Salam sayang,

anni