Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, September 12, 2013

Kompasianer, Mari Belajar Menulis dari Bu Anni . Oleh : Rifki Feriandi

 

Ada seorang penulis di Kompasiana belakangan ini yang fenomenal. Namanya Bu Anni. Fenomenal karena beberapa karyanya diganjar Headline. HL Kompasiana – yang menurut Kang Pepih Nugraha adalah “tempat terhormat” pada welcome page Kompasiana dan etalase bagi tulisan bermutu, diraihnya dengan beruntun, lima kali dalam lima tulisan selama satu bulan. Bukan itu saja, beberapa tulisannya sering nangkring di kolom Trending Article, memiliki tingkat keterbacaan tinggi, mendapatkan vote tinggi yang menyebar dalam hampir semua kategori – teraktual, inspiratif, bermanfaat dan menarik. Sebuah tulisannya di Kompasana tentang berteman dengan preman kemudian muncul di Kompas.com kolom metropolitan. Bahkan seorang Kompasianer lain, Mex’r And Frank’s, menempatkan beliau – yang dikatakan sebagai wanita yang mempunyai fisik gabungan antara Dewi Yull dan Astri Ivo, sebagai satu di antara dua Chicken Soup Kompasiana (bersama Mbak Ellen Maringka), yang tulisan-tulisannya tidak kalah dengan cerita-cerita dalam buku Chicken Soup for the Woman Soul.

Sebagai penulis yang terus belajar, saya mencoba memahami apa yang menjadikan Bu Anni bisa berprestasi seperti itu. Dan ini mungkin yang bisa saya petik.


Aktual


Bu Anni pandai sekali menulis sesutau yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Semua tulisan Bu Anni yang diganjar HL adalah tulisan yang aktual. Simak saja tulisan tentang murtad, bersinggungan dengan topik panas berganti agamanya seorang artis. Saat liburan dimulai, turun tulisan tentang banyak PR bagi anak sekolahan saat liburan. Kala Vanny Rossyane muncul di infotainment, Bu Anni dengan jelinya juga mengupas tentang dia. Aktualisme terkait erat dengan ketertarikan pembaca. Sesuatu yang sedang aktual, tentunya biasanya akan menjadi hal awal yang disantap. Itulah mungkin sebabnya kenapa aktualitas dalam jurnalisme, termasuk jurnalisme warga, memegang peranan penting. Demikian pula bagi Kompasiana. Wajar jika Kompasiana mengganjar beliau dengan HL beruntun


Berisi


Jangan kaitkan ini dengan pipinya seperti terlihat di profpic, tapi coba kita baca tulisan-tulisannya, termasuk komentar-komentar para pembacanya. Kesan sebuah tulisan berisi jelas terlihat, baik itu dari konten tulisan maupun dari komentar orang. Beragam pembaca juga beragam kesan dalam menafsirkan tulisan Bu Anni. Ada yang merasa mendapatkan inspirasi dari tulisan beliau, ada yang melihatnya sesuatu yang menarik dan kebanyakan dari kita merasakan sebuah manfaat dari tulisan. Itulah yang saya kategorisasikan sebagai sebuah tulisan yang berisi. Ada istilah Sunda yang berbunyi “aya pulunganeun” yang berarti ada yang bisa dipungut. Setelah membaca tulisan beliau saya sering merasakan sedang memetik sesuatu. Pelajaran dan kebaikan.


Mengalir


Ada sebuah saran yang mampir dalam sebuah artikel, bahwa agar tulisan memiliki banyak pembaca di Kompasiana, buatlah artikel yang singkat dan padat. Saran itu tidak berlaku buat Bu Anni. Tulisan Bu Anni termasuk tulisan Kompasiana yang super panjang. Saking panjangnya, banyak pembaca yang “naro sandal” dulu dalam kolom komentar. Namun anehnya, ratusan pembaca – dalam beberapa artikel malah menembus ribuan - masih betah bertahan untuk membacanya sampai selesai. Bahkan itu diikuti dengan memberi komentar yang juga harus mengantri. Kenapa itu bisa terjadi? Saya melihat ini adalah hasil dari sebuah artikel yang enak dibaca dan mengalir. Hal ini bisa jadi disebabkan dua hal: tulisannya terstruktur atau / dan bahasa yang dipakainya ringan dan mudah dipahami.


Struktur


Bagi saya, Bu Anni adalah sosok guru yang berhasil memberikan contoh yang baik bagaimana sebuah tulisan dibangun. Kedua hal di atas sangat terlihat. Bu Anni membuat struktur yang jelas dalam tulisannya. Opening-Body-Closing nya jelas. Bu Anni selalu memberi pembukaan tulisan dengan baik, sehingga pembaca mengerti latar belakang tulisannya. Tidak hanya pembukaan yang baik, tetapi juga menarik. Meski terkadang beliau suka memberikan sebuah “disclaimer” – peringatan tentang sudut pandangnya, beliau mengemaskan dengan bagus. Demikian juga dengan batang tubuh tulisan dan penutup. Tulisan terasa mengalir karena transisi antara satu bagian ke bagian lain, dari satu paragraf ke paragraf lain terasa menyambung. Inilah salah satu faktor yang menjadikan orang betah membacanya.


Bahasa


Untuk menjangkau keterbacaan yang luas, seorang penulis harus pintar-pintar menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Menggunakan pilihan kata yang terlalu tinggi – atau terkesan terlalu susah – mungkin hanya akan menarik perhatiaan pembaca dengan tingkat pemahaman yang sama, dan ini terkadang membatasi pembaca untuk berkunjung. Bu Anni sepertinya memutuskan untuk menulis sesuatu yang bisa diterima berbagai kalangan. Tidak salah jika lalu dia menggunakan bahasa yang sederhana, bahkan terkadang menyelipkan beberapa kalimat ungkapan anak gaul sehingga bisa menjangkau lapisan remaja seusia anaknya. Penggunaan bahasa demikian ini pun akan menjadikan sebuah struktur tulisan menjadi lebih mengalir.


Sopan dan akrab


Saya sedikit mengernyitkan dahi ketika membaca komentar-komentar yang datang di tulisan Bu Anni terakhir mengenai murtad. Saya masih berpretensi bahwa tulisan mengenai agama seperti itu akan menyulut sebuah “ledakan” dalam komentar berbalas komentar, seperti umumnya terjadi. Namun anehnya, saya tidak menemukan hal itu di tulisan Bu Anni. Kometar-komentarnya cenderung “adem”. Satu dua sih ada yang berbeda, tetapi suasana tetap terjaga. Jika saja yang menulis tema seperti itu adalah orang lain, bisa jadi lapaknya akan terbakar. Kenapa bisa ya?


Saya melihat hal ini adalah sebagai akibat dari kesopanan dan keakraban yang berusaha dijalin Bu Anni terhadap teman-temannya, komentator-komentatornya dan siapa saja yang berkunjung di lapaknya. Kesopanan dan keakraban yang biasanya diawali atau diakhiri dengan sebuah “pujian” atau ungkapan membahagiakan lainnya, disisipi dengan candaan elegan, termasuk terhadap komentator seorang remaja yang selalu menyelipkan tanya tentang anak gadisnya. Dengan kesopanan dan keakraban seperti itu, mungkin para “perusuh” pun segan dan malas untuk bertindak. Tidak aneh pula jika lapak Bu Anni menjadi “pangkalan” yang nikmat untuk berkomunikasi dan menyapa, termasuk bagi sahabat-sahabatnya yang saya kategorikan penulis matang dan senior. Dan satu lagi yang tidak bisa diabaikan: responsif. Saya melihat Bu Anni berusaha selalu responsif terhadap komentar-komentar yang masuk, yang bahkan terkadang saya merasakan dia melakukannya secara real time: komentar beberapa menit kemudian dijawab.


Dengan analisa kacangan seperti di atas, Bu Anni bisa jadi telah dianggap berhasil menterjemahkan tagline Kompasiana: “sharing & connecting” – berbagi dan berinteraksi. Bahkan saya bisa memprediksi, jika Bu Anni memiliki konsistensi dalam menulis – baik dalam mutu maupun dalam frekuensi, kualitas dan kuantitas – bisa jadi beliau akan menjadi salah satu nominasi Kompasiane of the Year tahun ini. Tidak heran pula jika Bu Anni sekarang sudah berada dalam watch-list nya para punggawa admin Kompasiana, sehingga tulisan-tulisannya perlu “diawasi’ untuk dibagi dan di-HL-kan. Jika ini terjadi, pantaslah kita cemburu. Namun, mari kita cemburu dengan positif. Jadikan Bu Anni ini sebagai pelecut semangat kita untuk terus berusaha membuat tulisan yang baik dan bermakna, sehingga Kang-Mas Admin pun tidak akan malu untuk menjadikan tulisan kita sebagai HL. Dan jika kita sudah berusaha dan tetap HL tidak juga tiba, janganlah berkata T.E.R.L.A.L.U. Berkatalah, “ternyata masih ada kesempatanku untuk terus memperbaiki diri”. Atau dengan sedikit memelesetkan apa yang dikatakan Pak Florensius Marsudi: “Waktu pasti akan lebih menajamkan penaku”.


Rekan Kompasianer,   Mungkin tulisan ini adalah tulisan terakhir saya sebelum berlebaran. Atau bisa jadi ini menjadi tulisan yang benar-benar terakhir, jika Allah berkehendak. Untuk itu, saya haturkan maaf jika dalam interaksi berkompasiana selama ini ada kesalahan besar atau kecil, disengaja atau tidak, terucap atau tidak yang menyakitkan hati. Tidaklah ingin kulihat sebuah hati perih tersakiti penaku. Maafkan.   Selamat berkumpul bersama keluarga.

http://media.kompasiana.com/new-media/2013/08/06/kompasianer-mari-belajar-menulis-dari-bu-anni--579489.html