Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, March 5, 2013

Anda Pejabat ? Saya Guru. Jadi Tolonglah Saya !


Saya seorang Guru, seorang Pendidik. Tahukah anda bahwa saya dan ribuan guru lain, sangat kesulitan ketika kami harus menjelaskan tentang kepemimpinan dan keteladanan kepada murid-murid , karena sangat sulit bagi kami menyebutkan nama Pejabat negara ini yang cocok untuk dijadikan contoh, dijadikan teladan bagi murid-murid kami, yang sebagiannya adalah anak-anak anda juga !


Ketika kami harus menjelaskan tentang budaya politik di Indonesia. Baru sepatah kata kami bicara, murid-murid  sudah ramai berbicara tentang perilaku Pejabat negara yang sangat tak layak untuk ditiru. Mereka, murid-murid kami berbicara dengan gamblang dan spontan bahwa Pejabat Indonesia lebih sering terdengar korupsi daripada bekerja keras untuk negeri ini. Apa anda bilang ? Tidak semua ? Ya memang tidak semua ! Tapi coba sebutkan, siapa nama anda ? Mengapa kami tak pernah mendengar nama anda ? Kemana saja anda selama ini ?


Ketika kami harus menjelaskan kepada murid-murid tentang partai politik, baru sepatah kata kami memberi ilustrasi, mereka sudah lantang bicara tentang partai politik yang terlibat korupsi di negeri ini, tentang para petinggi partai yang tertangkap karena mencuri uang negara, tentang para politikus oportunis busuk yang kerjanya hanya loncat dari satu partai ke partai lainnya tanpa pernah menujukkan loyalitas secuilpun.
Apa anda bilang ? Tidak semua partai politik seperti itu ? Baiklah kalau begitu. Sebutkan nama partai anda di depan murid-murid kami kalau anda cukup punya nyali !


Ketika kami para guru harus menjelaskan tentang demokrasi. Baru sepatah kata kami bicara tentang pemilihan umum yang seharusnya berlangsung Luber jurdil, baru sepatah kata kami bicara, murid-murid sedah berebut berbicara tentang perasaan muak mereka ketika harus menyaksikan kerusuhan Pilkada di berbagai pelosok di Indonesia, akibat para calon Pejabat tidak terima sebab kalah bertarung dalam Pilkada. Juga soal politik uang dan janji-janji kosong yang diumbar untuk membodohi rakyat miskin.
Apa anda bilang ? Anda tidak pernah berjanji palsu ? Baik, sebutkan dengan keras nama Anda kalau begitu, sebutkan dengan keras dan lantang di depan murid-murid se Indonesia kalau anda memang orang yang jujur !


Ketika kami harus berbicara tentang sikap kepala daerah yang cocok untuk dijadikan contoh, tiba-tiba meluncurlah dari mulut murid-murid kami nama-nama pejabat lancung yang gemar mempermainkan dan merendahkan martabat perempuan ketimbang bekerja untuk kemajuan daerahnya. Kami ini bukan hanya guru, tapi kami juga orang tua ! Malu kami mendengar kata-kata yang tak pantas itu keluar dari mulut murid-murid kami. Kata-kata tak pantas yang dinisbatkan kepada anda, para pejabat negeri ini yang seharusnya menunjukkan sikap mulia dan bermartabat !


Lalu ketika kami harus menjelaskan tentang sistem hukum di Indonesia. Tak dapat lagi kami gambarkan bagaimana malunya hati kami ketika murid-murid berbicara tentang KENYATAAN yang sangat bertolak belakang 180 derajat dengan TEORI kebenaran dan keadilan yang kami jelaskan. Mereka, murid-murid itu, dengan fasih berbicara tentang Hakim yang lancang mulut menghina korban perkosaan, tentang mafia peradilan, tentang polisi yang kelakuannya sungguh  tak pantas menjadi penegak hukum, tentang para pengacara yang bergaya bak selebritis, tentang para jaksa dan hakim yang tertangkap tangan sedang menghisap barang haram,dll. Mereka, murid-murid itu, tahu semuanya Pak, Bu !


Yang paling repot ketika kami harus menjelaskan tentang Trias Politika. Baru sedikit kami menjelaskan tentang lembaga legislatif. Spontan murid-murid menyebut kata “korupsi”, “pemalas”, “tidur”, “mobil dinas mewah”, “cewek”, “gratifikasi” ,”artis bengong doang”, dll. Malu kami mendengarnya. ! Oh yaa ? Anda anggota DPR juga ? Anda siapa ya ? Apakah anda suka bekerja ? Mengapa kami tidak tahu ?


Lantas siapa Pejabat di negeri ini yang pantas kami sebutkan sebagai contoh Pejabat yang layak dijadikan teladan di negeri ini di depan murid-murid kami kalau begitu ? Jokowi ? Lalu siapa lagi ? Mahfud MD ? Lalu siapa lagi ? Dahlan Iskan ? Saya rasa tidak. Atau Anas barangkali ? Oh Noo ! Aceng Fikri ? Ini lagii …


Capek kami Pak, Bu ! Setiap kami menjelaskan tentang TEORI yang IDEAL, selalu saja kami terjegal oleh REALITA yang berkata SEBALIKNYA !  Murid-murid itu, yang mengatakan sebaliknya itu, bukan anak-anak yang bodoh, yang akan menelan begitu saja informasi dari gurunya.  Mereka adalah anak-anak yang sangat besar kemampuannya dalam mengakses informasi. Jangan dikira perilaku buruk anda tidak diketahu oleh anak-anak di Indonesia ini !


Tapi jangan takut Pak, Bu yang terhormat, kami para guru akan tetap setia menjelaskan bahwa sesungguhnya politik itu tidak selamanya busuk, bahwa politik itu penting bagi keberlangsungan hidup negara kita, bahwa tidak semua politikus itu busuk, masih banyak politikus yang jujur hanya saja sepak terjang mereka tidak diekspos oleh media massa yang hanya berorientasi laba.


Jangan takut  Pak dan Bu yang terhormat, kami para guru tetap akan menjelaskan bahwa lebih banyak polisi dan pejabat yang jujur di negeri ini.  Karena jika kami tidak menjelaskannya, siapa yang kelak akan sudi menjadi pejabat dan politisi di negeri ini, jika pada khirnya riwayat mereka harus berakhir di bui ? Lantas siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan negeri ini jika belum apa-apa anak-anak muda ini sudah merasa jeri ?


Itu baru bidang politik dan hukum Pak, Bu ! belum jika kami harus menjelaskan masalah perburuhan yang carut marut, tentang nasib para TKW yang diperkosa di luar negeri, tentang rumah sakit yang membiarkan bayi miskin meregang nyawa, tentang pendidikan yang semakin bersemangat individualistik, tentang pejabat sepak bola yang bisanya adu mulut melulu …


Belum apa- apa anak-anak sudah minta bicara lebih dulu Pak, Bu ! mempertanyakan mengapa itu semua harus terjadi ? mereka mempertanyakan mengapa para pejabat terkenal yang wajahnya sering berseliweran di tivi-tivi itu, tidak bisa bersikap dewasa ? harusnya Anda yang berdiri di depan kelas ini, menjawab pertanyaan murid-murid itu, biar anda tahu bagaimana rasanya !

Anda Pejabat ? Saya Guru. Jadi tolong sebutkan nama anda, karena kami para guru yang bertugas mendidik anak-anak Indonesia yang sebagiannya adalah anak-anak anda sendiri, sangat kesulitan mencari nama pemimpin yang layak dijadikan suri teladan di negeri ini !