Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, March 27, 2013

Jangan Merecoki Orang Yang Mau Menikah !


Saya mengenal banyak orang, baik teman, maupun sanak famili, yang secara usia dan kondisi sudah sangat siap menikah, namun masih saja belum melangsungkan pernikahan karena kendala teknis.
Kadang saya tidak dapat banyak membantu, selain menasihati bila diminta, dan mendoakan mereka. Paling sebatas itu. Selebihnya saya hanya bisa merasa prihatin.

Jika saya tanya, mengapa belum juga melangsungkan pernikahan, kebanyakan jawabannya menjurus pada persoalan teknis semata, bukan pada masalah yang sangat krusial, yang betul-betul menyangkut masalah pernikahan itu sendiri.

Sebagai ilustrasi, saya mempunyai seorang teman (perempuan) yang berusia 26, lulusan S1, sudah bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji yang cukuplah untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan mentraktir adik-adiknya. Teman saya ini sudah mempunya calon suami yang juga lulusan S1, sudah memiliki penghasilan dari bisnis pembuatan t-shirt dan percetakan. Mereka sangat siap menikah. Rasanya saya sudah mendengar tentang rencana pernikahan itu entah dari tahun kapan deh, tapi sampai hari ini pasangan itu masih juga belum menikah.

Ketika saya tanya alasannya, saya dapat menyimpulkan bahwa kendalanya asli kendala teknis. Begini maksud saya. Calon suami teman saya itu, belum dapat melangsungkan pernikahan karena merasa belum memiliki tabungan yang cukup untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan, karena pihak keluarga laki-laki menginginkan pernikahan dengan adat Sunda, lengkap dengan pergelaran wayang golek semalam suntuk. Selain itu, pihak keluarga laki-laki masih belum merasa cocok dengan pekerjaan anak laki-lakinya yang “hanya” sebagai pedagang kaos dan menerima pesanan cetakan. Mereka ingin agar anak laki-lakinya menjadi PNS, yang menerima gaji secara rutin setiap bulan.

Nah, disini sudah jelas bahwa kendala pernikahan itu justru terletak pada kendala teknis yang ditimbulkan bukan oleh pasangan yang akan menikah, namun justru datang dari pihak keluarga besar. Calon pengantinnya sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan apakah pernikahannya akan diselenggarakan dengan menanggap wayang, ataukah sederhana saja. Pasangan ini juga tidak mempersoalkan pekerjaan yang sekarang sedang dijalani. Yang penting cepat menikah titik.
Kadang saya tak habis mengerti, mengapa orang-orang begitu concern pada hal-hal yang sifatnya sekunder, sementara masalah yang primer malah dikesampingkan. Bukankah dalam kasus yang saya gambarkan tadi, hal yang terpenting adalah disegerakannya pernikahan mengingat pasangan calon pengantin sudah dalam kondisi siap berumahtangga. .

Soal menanggap wayang, soal jadi PNS, itu kan masalah teknis, bukan masalah esensi pernikahan. Nggak nanggap wayang juga nggak apa-apa kan ? bukan PNS juga nggak masalah kan ? hari gini, nanggap wayang golek itu harus sedia uang minimal 150 juta. Lalu untuk jadi PNS, jika kita melalui prosedur yang resmi, sama sekali tidak ada jaminan kapan kita akan dapat lulus test CPNS. Sementara jika ingin cepat lulus dan harus lewat jalur belakang alias harus memberi uang pelicin kepada oknum pegawai dinas, kita harus mengeluarkan dana minimal 60 juta. Jadi total jendral, untuk dapat melangsungkan pernikahan anak-anak mereka, keluarga harus menyediakan uang 210 juta rupiah yang notabene adalah asli diperuntukkan bagi teknis hajatan pernikahan . Lalu, jika uang sejumlah itu belum tersedia, apakah anak-anak itu nggak akan dinikahkan, begitu ? apa nggak kasihan ?
Atau mau berhutang, barangkali ? terus siapa yang harus membayar semua hutang itu setelah pestanya bubar ? pengantin baru ? wah, malam pertamanya bisa nggak konsentrasi tuh !

Menurut hemat saya, dimasa sekarang ini, ketika kita harus pandai-pandai memanfaatkan peluang, ketika segala pengeluaran harus direncanakan dengan efisien, segala waktu, tenaga, dan pikiran yang dikeluarkan sangat berharga, agak terdengar janggal jika rencana sebuah pernikahan terhambat oleh persoalan yang kurang penting alih-alih mendahulukan skala prioritas. Coba, mana yang lebih penting, mengeluarkan uang 150 juta untuk nanggap wayang golek, atau untuk membeli rumah sebagai tempat tinggal pengantin baru tsb ? Nanggap wayang memang bagus, tapi itu tentu saja bagi mereka yang keuangannya memungkinkan. Kemudian mengharap menjadi seorang PNS juga tidak ada salahnya, tapi apakah ada jaminan kapan bakal lulus test nya ? kalau tidak jelas kapan, wah keburu disamber orang lain nanti calon mantu kita. Lagi pula memangnya masalah ya, kalau orang punya pekerjaan bisnis kaos ? enggak kan ?
Pesta mau semewah semegah apapun ya tentu saja boleh, dengan catatan, kedua belah pihak memang benar-benar mampu secara finansial, alias tidak memaksakan diri demi gengsi.


Melangsungkan pernikahan itu harus dibuat simple, jangan dipersulit. Maksud saya pelaksanaannya dipermudah, bukan lembaga perkawinannya yang dipandang sederhana. Sebab lembaga perkawinan adalah sebuah institusi dasar yang paling penting bagi kemanusiaan dan bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Lembaga perkawinan yang membentuk keluarga, adalah sendi-sendi pokok, pondasi bangunan sebuah bangsa. Jadi mana bisa kita menganggap lembaga perkawinan sebagai sesuatu yang sepele. Jika upaya membentuk keluarga dipersulit oleh hal-hal yang kurang penting, saya khawatir akan banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan secara serampangan, kawin lari, asal sah, dll, yang menimbulkan dampak kurang baik bagi keluarga yang nantinya akan terbentuk. Jika keluarga-keluarga muda tidak memiliki pondasi yang kuat, bisa rusak bangsa kita nanti.
Kebanyakan masyarakat kita memang suka terbalik-balik logikanya kalau berpikir. Yang jelas-jelas kemasan dijadikan isi, yang isi malah jadi bungkus, tidak bisa dengan tegas memilah mana yang penting dan mana yang kurang penting.

Ayolah, mari mendahulukan yang penting. Jangan bebani calon pengantin dengan masalah teknis yang kadang sangat diluar jangkauan mereka. Ini karena didorong rasa simpati saja makanya saya bicara seperti ini : pesta pernikahan itu, mau yang diselenggarakan di hotel berbintang, atau nyempil di pinggiran gang, semuanya sama saja, nggak ada satupun orang yang akan mengingat-ingat. Jangankan teman, tetangga, sanak saudara sendiripun kadang lupa. Dan yang namanya malam pertama, mau di kepulauan Karibia atau di rumah mertua, rasanya sama saja. Bener deh. he he …

Cobalah tanyakan kepada para calon pengantin yang sudah siap menikah namun belum juga melangsungkan perkawinan karena seolah mereka sedang menunggu Godot. Tanyakan, apakah mereka bersedia menikah dengan cara yang sederhana ? Saya yakin pasti kebanyakan akan menjawab : mau, bersedia, nggak masalah ! Ya habis gimana, sudah nggak kuat kann ? eh ..

Agama manapun (terutama agama Islam yang saya pahami) tidak memerintahkan pernikahan itu harus dirayakan secara besar-besaran. Jika sepasang anak manusia sudah siap menikah, maka permudahlah. Yang penting rukun dan syarat syahnya pernikahan terpenuhi. Kemudian kabarkan kebahagiaan itu kepada tetangga dan sanak saudara, agar tidak timbul fitnah. Setelah itu, dan ini yang terpenting, jalanilah bahtera rumah tangga dengan bersungguh-sungguh sebagai ibadah yang sangat tinggi nilainya, karena segala perbuatan kita selama menjalani pernikahan itu akan dimintai pertanggungjawabnnya kelak di hadapan Allah.

Jadi, marilah mempermudah pernikahan sanak saudara kita. Doakan mereka, bantu mereka. Dan kepada pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan, semoga segala sesuatunya berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana. Pandai-pandialah mengukur kemampuan diri, agar bahagia kita nanti.

 
Salam sayang,

Anni