Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Sunday, March 31, 2013

Pengalamanku Bergaul Dengan Preman




Hmh, Preman ya. Akhir – akhir ini banyak media massa mengangkat tulisan dan berita bertema maraknya aksi premanisme di negeri ini.   Kebanyakan tulisan dan berita itu memandang premanisme sebagai sebuah fenomena penyakit sosial yang sudah sangat laten dan musykil untuk diberantas. Hal ini terjadi sebab adanya simbiosis mutualisma yang sulit diakhiri antara preman dengan berbagai profesi dan kepentingan. Ada nada kebencian dalam tulisan-tulisan itu, ada nada marah, ada juga nada putus asa, hopeless, dsb. Wajar saja karena para preman dan sepak terjangnya dikenal sangat dekat dengan dunia hitam, dunia kejahatan. Namun aku ingin memperkenalkan teman-teman dengan para preman “ teman-temanku “.

Dulu aku tinggal di Bandung bersama orang tua dan saudara-saudaraku. Di Bandungnya di jalan Holis by pass, di wilayah Bandung Barat. Setelah Ayah pensiun, kami pindah dari rumah dinas ke sebuah rumah di pelosok gang yang ada di kawasan itu. Inilah salah satu kawasan penghasil preman yang terkenal di daerah Bandung.

Seingatku ada beberapa preman yang tinggal di kampung ini. Yang pertama namanya Asep Jangkung. Sesuai dengan namanya, orangnya tinggi banget hampir 2 meter. Spesialisasinya ngadu ayam dan mabok minuman keras topi miring. Ada lagi Mang Dayat. Kerjanya sehari-hari sebagai penarik becak. Itu kalau pas dia lagi sadar. Kalau lagi nggak sadar akibat mabok sama si Asep Jangkung, kerjanya malak penumpang bis di terminal Abdul Muis. Lalu ada Didin Tato yang badannya gempal kekar kayak Ade Rai, tapi berwajah Budi Anduk dengan tatto di sekujur tubuh. Tatto kampung bertulis “doa restu ibu”, yang bercampur dengan tatto alam berupa panu kurap dan kudis.
Trus ada lagi, ini yang paling top nih. Namanya Ujang Padin. Dia itu badannya paling kecil, tapi galaknya minta ampun. Spesialisasinya senggol bacok. Maksudnya, kalau pas lagi ada acara dangdutan, dan dia lagi joget, jangan coba-coba nyenggol kalau nggak ingin kena bacok, begitu maksudnya. Para pemuda preman itu, 100 persen berasal dari keluarga miskin, hanya berpendidikan SD, dan tak punya pekerjaan.

Masih banyak sebetulnya tetanggaku yang dikenal sebagai preman. Tapi mereka nggak begitu jagoan seperti para preman yang namanya aku sebutkan tadi. Nah para preman tetangga kami ini saling kompak satu sama lain, dan seolah sudah  ada kesepakatan diantara mereka, mereka tidak pernah membuat rusuh di kampung kami. Sebaliknya Kalau misalnya ada preman dari kampung tetangga yang petantang -petenteng di kampung kami, maka dijamin preman itu akan bonyok habis dihajar sama preman tetangga kami.
Para preman tetangga kami itu, tidak bisa juga dibilang pahlawan kampung, karena meski mereka sering berada di garda terdepan jika terjadi perkelahian antar pemuda kampung, sering juga kami dibuat kesal oleh kelakuan mereka.

Sebagai contoh, Pak RT sering terlihat mengacung-acungkan sebilah bambu ke arah mereka, sambil memaki-maki saking kesalnya mendapati mereka mabok di pos ronda. Kalau sudah begitu, para preman ini terpaksa bubar sambil sempoyongan, menurut saja apa kata Pak RT. Habis bagaimana, lha wong beberapa diantara preman ini masih ponakannya pak RT kok. Mana berani melawan Uwak sendiri.

Kekesalan kami yang kedua adalah sense of belonging mereka yang sangat tinggi terhadap para gadis penghuni  sepanjang gang Holis itu. Mereka menganggap kami adalah properti mereka yang tidak boleh diganggu. Sering para pemuda yang bertandang ke rumah kami, terpaksa pulang ke rumah dengan pipi bengkak atau tulang kering memar karena dicegat di tengah perjalanan oleh para preman itu, lantas ditempeleng atau ditendang, sebagai peringatan karena sudah berani-berani menyambangi properti mereka tanpa izin. Kasihan banget.

Beruntung teman-teman laki-laki yang berkunjung ke rumahku tidak pernah mengalami nasib sial seperti itu, karena aku kompak sama preman-preman itu. Kompak ? Iya, beneran, aku kompak sama preman-preman itu. Kok bisa ? Ya bisa saja. Begini ceritanya.
Faktanya aku bertetangga dengan preman, dan aku harus terima itu. Masalahnya, para preman itu kadang suka godain aku. Aku nggak suka digodain sama preman. Males banget kan. Untuk itu aku memutar otak mencari akal. Dan kutemukanlah akal itu. Caranya dengan berdamai. Kalau gadis-gadis yang lain pasang tampang cemberut jutek saat digodain sama para preman itu, aku bersikap sebaliknya. Aku pikir, nggak ada gunanya bersikap judes sama preman-preman itu, karena kuperhatikan, mereka itu makin digalakkin makin napsu.
Jadi kucari jalan damai. Kalau aku berpapasan dengan mereka yang lagi nongkrong-nongrong di gardu hansip atau di pangkalan becak, aku akan senyum duluan, mengangguk dan berkata sopan ” Punten Kang …” .

Awalnya mereka seperti kesetrum listrik pas aku bilang gitu. Boro-boro menjawab, yang ada malah bengong, melongo sambil mangap. Mungkin mereka tak mempercayai pendengarannya, dan berpikir, ” Mustahil gadis secantik teh Anni bilang punten (permisi) sama orang sehina kami, he he .. Lol ! .
Lama-lama mereka terbiasa rupanya. Kalau aku lewat di depan mereka, tersenyum dan bilang punten, pasti mereka akan serentak menjawab ” Mangga Teh anni ..”.
Besoknya lagi, aku belum bilang punten, mereka sudah mendahului menyapaku dengan sopan, ” Bade angkat kuliah (mau berangkat kuliah), teh Anni ?”, sambil tersenyum lugu (kebayang nggak sih ada preman tersenyum lugu ?), yang aku jawab juga dengan tersenyum ” sumuhun (iya)  Kang “. 

Hari- hari berikutnya tegur sapanya makin beragam, kadang “Assalamualaikum”,
atau ” Kumaha damang ” (apa kabar, sehat ?) dll, yang membuat mereka selalu terlihat sumringah ketika menyapa dan menjawab sapaanku.  Mungkin mereka merasa senang sebab seumur-umur belum pernah diajak ngobrol bener sama perempuan bener, heu heu .. ^_^
Walhasil, aku nggak pernah diganggu sama mereka.

Entahlah, mungkin karena para pemuda preman tetanggaku ini levelnya cuma preman kampung, jadi nggak terlalu jahat juga. Lama tak kudengar kabar mereka semenjak aku menikah, pindah rumah dan pindah kota. Sesekali kalau aku pulang ke Bandung mengunjungi ibuku, aku masih suka berpapasan jalan dengan mereka. Kami masih saling mengenal, dan aku tak merasa risih sedikitpun menyapa mereka. Hanya saja mereka terlihat agak malu jika kusapa. Seperti halnya aku, kulihat mereka sudah bertambah tua sekarang. Namun ada yang berubah total, mereka tak lagi berpenampilan preman sekarang.

Kudengar dari Ibuku, mereka sekarang sudah insyaf dan sudah berkeluarga. Dunia preman sudah ditinggalkan. Ada yang sekarang berprofesi sebagai pedagang di pasar, bekerja sebagai satpam, bekerja di pabrik, dll. Aku senang mendengarnya. Sungguh Allah Maha adil. Kasih sayang dan rahmat Nya menebar tanpa pilih kasih. Tak peduli seorang manusia yang berstatus preman sekalipun, jika hatinya sudah tersentuh kasih Allah, maka jalan hidupnya pun akan berubah menuju kebaikan.

Kadang aku berpikir bahwa seseorang menjadi preman, pasti ada penyebabnya. Tapi apapun penyebabnya, aku yakin tak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan kehidupan seperti itu. Boleh jadi kesalahannya ada pada diri kita juga, yang kerap bersikap merasa benar sendiri, bersih sendiri, merasa beda kelas dengan mereka. Nggak tahu juga lah. Yang jelas, dari pengalamanku, aku hanya tahu kalau mereka ini manusia biasa seperti kita yang akan senang jika dimanusiakan.

 
Salam sayang,
anni


#alhamdulillah, artikelku ini menjadi Trending Article di Kompasiana, dan dibaca oleh ribuan orang. ini linknya:

http://www.kompasiana.com/pujinurani/pengalamanku-bergaul-dengan-preman_551face9a33311182ab673bc