Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, March 14, 2013

Engkaukah Laki-laki Sejati itu ?


Dulu, dulu sekali …
Saat aku sedang berada di dalam angkot dalam suasana macet di jalan depan Rumah Sakit Dustira Cimahi.
 
Aku selalu berusaha menikmati suasana macet agar hatiku tak gelisah ataupun marah. Kulayangkan pandanganku ke luar jendela kaca mobil, dan keperhatikan setiap detail pemandangan yang ada di hadapanku. Lalu kulambungkan imajinasiku, dengan mengerahkan segala kemampuan berpikir positifku, agar bermanfaat segala pandangan dan imajinasiku itu.

Disana, di depan Rumah Sakit milik TNI angkatan Darat itu. Aku melihat pemandangan yang sangat tidak biasa, yang cukup ganjil sebenarnya. Pemandangan yang boleh jadi akan mengundang tertawaan orang lain yang melihatnya. Tahukah teman-teman, pemandangan apakah yang aku lihat itu ? Sebuah pemandangan yang sanggup mengubah secara total pendapatku   tentang laki-laki. Atau lebih tepatnya tipe laki-laki yang akan kupilih menjadi suamiku kelak, karena saat itu aku masih seorang gadis remaja.

Berdiri di sana, diatas trotoar. Seorang prajurit TNI AD, lengkap dengan seragam tentaranya dan baret hijaunya. Kulit laki-laki itu hitam legam, berkilat oleh peluh dan minyak, dengan wajah yang tak kalah hitamnya. Sekilas aku seperti melihat seorang tentara yang baru turun dari gunung seusai latihan perang, atau bahkan seorang tentara yang baru saja kembali dari medan pertempuran. Penampilannya garang, gagah dan perkasa sekali. Tak dapat kuhindarkan lagi, Aku langsung jatuh hati pada pandangan pertama kepada laki-laki tentara itu. Oh bukan, bukan karena penampilannya yang sangat macho, sama sekali bukan itu.

Aku jatuh cinta pada pemandangan yang meliputi laki-laki tersebut. . Prajurit yang gagah perkasa itu, terlihat menggendong seorang bayi perempuan yang sangat lucu di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menjinjing sebuah tas bayi besar yag isinya padat menggembung. Masih di sebelah kanannya, terlihat seorang perempuan muda berwajah manis, dengan mesra menggandeng lengan kekar laki-laki itu, seraya tangannya yang bebas memegang sebuah payung berbunga-bunga yang terkembang diatas kepala laki-laki dan bayinya. Aku yakin, mereka pasti keluarga kecil yang bahagia.

Subhanallah, seakan sulit kupercayai penglihatanku ini. Benar-benar sebuah pemandangan yang mungkin bagi orang lain sangat menggelikan. Bagaimana tidak. Seorang tentara dengan penampilan perang, menggendong seorang bayi dengan payung berwarna pink mengembang diatas kepalanya. Sangat tidak harmonis, sangat mengganggu keseimbangan kosmik. Namun sungguh,  bagiku ini adalah pemandangan paling indah yang pernah aku lihat, pemandangan paling romantis yang pernah aku bayangkan.

Lalu aku perhatikan wajah-wajah mereka. Air muka perempuan muda dan bayi lucu itu penuh dengan ekspresi kebahagiaan yang tiada tara, seolah semua isi dunia telah diraih dengan kehadiran suami dan ayah tercinta di sisi mereka. Kualihkan pandanganku ke arah tentara itu. Ya, tak salah lagi. Laki-laki berwajah garang dan jauh dari kesan tampan. Namun senyum dan tatapan mata yang ditujukan kepada belahan jiwanya, istri dan bayinya itu, luar biasa lembut sekali. Sorot mata dan senyumannya sangat dalam, seolah memendam sejuta kebahagiaan, menyiratkan selaksa kerinduan yang telah lama didamba. Laki-laki ini benar-benar sejati.. Tanpa sadar terlantun doa di dalam hatiku, Oh Allah, jangan biarkan keluarga kecil yang kupandangi ini kehilangan senyuman yang sangat hangat melindungi itu. Tambahkanlah kebahagiaan mereka …

* * *
Hari berganti, waktupun berlalu. Pendapatku tentang laki-laki sejati  tak pernah berubah lagi. Hanya laki-laki yang mau peduli pada istri dan anaknya dalam setiap situasi, adalah laki-laki yang sejati. Aku bersyukur mendapatkan suamiku sebagai laki-laki sejati. Dia mau melakukan apa saja untukku dan anak-anak kami. Menumpahkan semua kasih sayang yang dia miliki demi kebahagiaan kami, meski lelah dan letih, dia tak peduli.

Akupun mengenal dan melihat banyak sekali laki-laki sejati di sekitarku. Laki-laki sejati itu kulihat tersebar dimana-mana. Dari perkampungan kumuh hingga kompleks perumahan mewah. Mereka adalah laki-laki yang menggendong bayinya dengan penuh rasa sayang, membantu memandikan dan menyuapi balitanya sementara sang istri sibuk dengan pekerjaan rumah tangga yang seolah tiada habisnya.

Mereka adalah Laki-laki yang mau membuatkan nasi goreng untuk sarapan pagi sekeluarga, mau membuatkan susu untuk balitanya yang menangis, lalu dengan penuh sayang menimang bayinya yang rewel semalaman sementara sang Mama tertidur kelelahan. Mereka adalah laki-laki yang mau mengajak anaknya bermain, membacakan buku cerita, mendampingi menonton acara televisi, mengajari PR yang sulit, mau mendengarkan curahan hati anak remajanya kala mereka jatuh cinta. Laki-laki sejati akan membimbing, membina dan mendidik istri dan anaknya, karena ia adalah kepala keluarga, pelindung keluarga, tak peduli serombongan asisten dan babysitter siap membantu.

Perempuan manapun akan mendambakan laki-laki sejati sebagai pendamping hidupnya. Kadang keinginan itu melampaui keinginan untuk mendapatkan laki-laki berwajah tampan, bertubuh atletis dengan otot bertonjolan dan perut bersegi enam, bahkan melampaui keinginan bersuamikan laki-laki berkantong tebal sekalipun.  Perempuan mendambakan laki-laki sejati yang sesibuk apapun berusaha menyempatkan diri untuk selalu ada, hadir bagi istri dan anak-anaknya. Meski hanya lewat telfon karena terkendala jarak dan waktu, lalu menjaga, membelai, dan menghibur keluarganya disaat dia benar-benar ada di dekat mereka.

Namun dibalik itu semua, aku hanya bisa menatap getir, laki-laki yang sekedar mampu menghujani keluarganya dengan uang, harta, dan kemewahan. Membiarkan istrinya bersosialisasi, tertawa-tawa dengan teman di dunia nyata dan maya, menghamburkan uang demi penampilan, sementara hatinya kosong dari kehangatan cinta suami. Laki-laki ini juga  membiarkan anak-anaknya tumbuh dalam dampingan games dan gadget canggih sementara jiwa cilik mereka kering dari kasih sayang papanya.  Bocah cilik yang penuh rasa ingin tahupun hanya dapat bertanya pada Google jika ada sesuatu yang tak dimengerti, atau tersesat di situs porno sebab tak mendapat penjelasan tentang seksualitas dari Mama Papanya.

Laki-laki ini mungkin saja berwajah sangat tampan, mapan, dan kaya. Namun mereka bukan laki-laki sejati, sebab membiarkan belahan jiwanya terlantar tanpa kasih sayang, sebab mereka tega tertawa menikmati hiburan demi kesenangannya sendiri, dan menghabiskan me-time tanpa mau terusik oleh kehadiran keluarga. Sedih aku melihatnya. Bagiku  mereka tak lebih dari laki-laki kecil yang terperangkap tubuh dewasa, yang tak mampu berkomitmen.

Aku dan perempuan manapun di dunia ini, akan merasa menjadi perempuan paling bahagia jika dapat bersanding dengan laki-laki sejati, yang dapat menuntunnya menuju Syurga Nya kelak. Aku tahu, engkaulah laki-laki sejati itu.


Salam sayang,
Anni