Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, March 25, 2013

Jangan Ada Orang Ketiga Diantara Kita



Orang Ketiga. Belum apa-apa sudah sebal memikirkannya. Kalau tidak PIL ya WIL. Mereka tak lebih dari para penggoda yang kehadirannya hanya mengusik ketenteraman hidup orang lain. Mereka adalah para pengacau yang mencoba mencuri cinta dan perhatian dari pasangan kita.

Mengapa pasangan kita harus berjumpa dengan seseorang yang hanya akan membuat hidup kita tidak nyaman ? mengapa pasangan kita begitu mudah beralih perhatian kepada dia ? Kurang apa kita ini ? apa kurang cantik/ ganteng ? kurang perhatian ? kurang cinta ?
Banyak pertanyaan yang dilontarkan seputar mengapa harus ada orang ketiga diantara sebuah hubungan yang romantis ? Jawabannya banyak. Yang membahas masalah ini juga banyak. Tapi nyatanya, pasangan yang terlibat dengan orang ketiga pun malah semakin bertambah banyak. Jadi bingung kan.

Jangan bingung. Sebab kata sahibul hikayat, bermain hati dengan orang ketiga memang menimbulkan sensasi hati yang daleeem. Kalau nggak percaya, coba aja sendiri. eh …

Tapi bukan itu yang saya maksudkan dengan orang ketiga dalam tulisan saya ini. Orang ketiga yang saya maksud adalah mereka yang menjadi “duri” bagi kenyamanan sebuah hubungan.
Kehadiran mereka sangat sulit kita hindarkan, karena dekatnya hubungan kita dengan mereka. Seringkali posisi mereka begitu penting sampai kita tak sanggup mengelakkan pengaruhnya. Siapa sajakah orang ketiga ini ?

1. Orang tua. Bisa keduanya, bisa salah satu : Ibu atau Ayah.
Jaman sekarang setiap keluarga rata-rata hanya memiliki 2 orang anak. Dengan jumlah anak yang sangat sedikit itu, dapat dibayangkan bagaimana over proteksinya orang tua terhadap anak-anaknya. Tak hanya semasa kecil, bahkan setelah beranjak dewasa bahkan setelah anak-anaknya berumah tanggapun, proteksi orang tua ini masih terus saja mengikuti.

Seorang rekan saya (laki-laki) yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, sampai salah tingkah didepan istrinya dengan kelakuan sang Mama yang terlalu “perhatian” pada rumah tangga anak laki-lakinya ini. Hampir setiap hari sang Mama menelfon dia atau istrinya, hanya untuk menanyakan hal-hal sepele semisal, ” Madu nya nggak lupa diminum, kan ?”, atau ” itu lhoo, jangan ada kembang Bugenvil di depan jendela ah, nanti anak-anakmu bisa berat jodoh lho ! “, atau sering juga ikut sibuk mengatur menu masakan yang sudah disiapkan sang Istri, ” Kalau sayur sop ya ndak cocok dijodohkan sama semur ayam. Mustinya ayamnya digoreng bumbu kuning “, dll yang nggak penting-penting amat. Tak sebatas itu, kerap kali sang Mama mengurusi juga hal-hal yang serius sampai terkesan mengintervensi, seumpama menentukan asuransi yang harus dimasuki, jenis asuransi, memilih lokasi dan tipe rumah, sampai memilihkan nama cucu dan dimana mereka harus bersekolah nanti, yang kesemuanya asli seharusnya menjadi hak prerogatif pasangan suami-istri.

Memang tak dapat dipungkiri, seringkali pendapat dan komentar orang tua banyak benarnya dan terbukti banyak juga manfaatnya. Mereka mengatakan itu semua karena didorong rasa kasih sayang yang begitu besar, rasa peduli, sekaligus rasa khawatir, takut anaknya (dan rumah tangganya) tidak bahagia. Namun jika “intervensi” seperti itu terus dan terus dilakukan, bisa-bisa pasangan kita menjadi tidak nyaman karena merasa tidak dipercaya. Dan sebagai akibatnya, jika perasaan itu dibiarkan terus berlanjut akan merusak keharmonisan hubungan suami-istri.

2. Kakak, adik, paman-tante, kakek-nenek, dan lain-lain anggota keluarga besar.

Kita ini orang Indonesia yang secara kultural sulit melepaskan diri dari karakter komunal khas Indonesia. Jangankan yang hidup di kampung. Mereka yang hidup dikota besar, bahkan di luar negeri sekalipun, selama anda masih orang Indonesia, rasanya sulit melepaskan diri dari ikatan keluarga besar kita. Tak peduli anda adalah seorang yang bergaya hidup ultra moderen, cosmo, postmo, yang sangat individualistik, suatu saat ketika hari libur tiba, hari lebaran datang, hari Natal menjelang, dan anda harus pulang ke kampung halaman, maka anda akan kembali melebur kedalam keluarga besar dengan segenap pengaruhnya disana.

Beruntung jika keluarga besar kita tidak rese’. Namun tak sedikit anggota keluarga besar kita menjadi orang ketiga yang kehadirannya dirasakan cukup menganggangu keharmonisan rumah tangga. Mau mengelak tidak bisa, karena hubungan kekerabatan kita sangat dekat. Mau dituruti juga tidak mungkin karena urusan kita dengan rumah tangga kita sendiripun tak kalah banyaknya. Sangat serba sulit menyikapinya.

Yang terbanyak saya lihat adalah keluarga muda yang direcoki keluarga besar soal keuangan. Keluarga muda jaman sekarang banyak yang baru menikah namun sudah mapan secara ekonomi karena faktor pendidikan dan salary yang tinggi. Namanya juga keluarga muda, tentu saja mereka memiliki impian dan cita-cita yang tinggi tentang masa depan mereka. Mumpung anak masih kecil, pasangan muda giat menabung dan berinvestasi. Ingin merenovasi rumah, mencicil mobil baru, membeli perabot rumah tangga, melanjutkan study, pergi berlibur,pergi umrah atau haji bagi keluarga muslim, dll, yang kesemuanya membutuhkan uang dan perencanaan anggaran yang matang.

Namun apa daya, kadang rencana itu tersendat bukan karena adanya ketidak sepahaman diantara suami dan istri. Rintangan justru datang dari keluarga besar. Tiba-tiba adik menelfon minta bantuan keuangan untuk masuk perguruan tinggi misalnya, mana masuk ke FK yang biayanya puluhan juta lagi ! atau, Paman menelfon minta pinjaman uang sekian juta karena istrinya melahirkan dan harus dicesar, uangnya nggak cukup, katanya. Habis itu Kakak sepupu di kampung mau beli tanah, masih kurang sekian puluh juta, mbok ya ditalangi dulu ! hadeehh, ampunn ..! sebanyak-banyaknya uang yang dimiliki pasangan yang sudah mapan, kalau direcoki terus menerus seperti ini, ya lama-lama bangkrut juga. Bisa cerai lho kalau begitu terus. Membantu sanak saudara memang bagus, tapi kalau keluarga kita sampai dijadikan kayak pohon uang begini ya bisa repot.

3. Sahabat atau teman-teman di lingkungan kerja/ pergaulan

Tak dapat dipungkiri lagi, banyak orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan kerja atau pergaulan. Dan tak jarang karena eratnya hubungan antara seseorang dengan sahabat dan teman-temannya itu, pengaruh mereka terbawa sampai ke rumah. Tanpa sadar ketika dia sedang berbincang atau berdiskusi dengan pasangan, kata-kata temannya itu dikutip begitu saja, bahkan tak jarang dia menyebut namanyanya sekaligus menunjukkan persetujuan dan kekagumannya pada mereka di depan pasangan.

Sekali, dua kali sih tak masalah, tapi percayalah jika ini terjadi pada anda, lama kelamaan pasangan anda akan merasa bosan dan kesal, lantas mulai berfikir, kelihatannya anda disetir habis-habisan atau sudah di brainwashing oleh teman anda, sampai anda kehilangan daya intelektualitas sama sekali. Berpendapat sendiri saja tak bisa. Bisanya mengutip omongan orang lain melulu !

Ini hidup anda, andalah yang seharusnya memegang kendali, bukannya orang lain yang melakukannya. Sehebat apapun sahabat atau teman anda, sekagum apapun anda pada mereka, harap diingat, mereka hanyalah orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan keluarga anda. Anda punya hidup yang berbeda, yang semestinya anda jalani dengan cara anda sendiri. Mengapa harus terus mengiyakan pendapat orang lain ? Bila anda terus membawa semua kekaguman anda yang berlebihan kepada sahabat dan teman anda itu kedalam rumah tangga anda, ada kemungkinan besok anda hanya akan memiliki sahabat dan teman, tapi kehilangan suami/istri. (note : dalam hal ini teman di dunia maya pun termasuk lho. Hayoo …)

Lalu yang keempat siapa ? Ya pokoknya siapa saja, sesuai dengan judul tulisan ini : orang Ketiga. Siapa saja yang bikin ribet rumah tangga orang lain, itulah yang disebut orang ketiga. Jadi bukan cuma selingkuhan istri atau suami saja !

Kalau begitu, bagaimana jalan keluarnya ? itu sih beda lagi bahasannya. Kalau saya tulis sekarang nanti tulisannya kepanjangan. Bisa pegel nanti bacanya *___*.
Oke teman-teman, semoga berkenan, dan semoga kita tidak pernah menjadi orang ketiga bagi siapapun.



Salam sayang,


Anni