Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, March 27, 2013

Profesi : Penjaga Alat Vital


Waktu masih sekolah di SD, aku punya teman namanya Hidayat. Ini nama asli lho. Sengaja aku sebutkan namanya, karena sejak lulus SD sampai tua gini aku kehilangan kontak sama dia. Nah dengan menuliskan nama aslinya dan setting sekolah serta kisah yang nyata, siapa tahu saja  tiba-tiba dia muncul dan mencariku :)

Kami bersekolah di SD YWKA di kota Bandung, sekolah yang awalnya dikhususkan bagi anak-anak karyawan PJKA (sekarang PT KAI ). Almarhum Ayahku kan dulu kerja disana. Di sekolah ini berkumpul semua anak pegawai PJKA, dari mulai anak Dirut sampai anak masinis. Meskipun para guru tidak pernah membeda-bedakan kami, tak peduli apa pangkat Ayah kami, namun dalam keseharian terlihat sekali perbedaan kesejahteraan itu. Anak-anak para pejabat dan petinggi PJKA selalu berpenampilan rapi, bersih, dan keren. Uang jajannya banyak dan barangnya bagus-bagus. Sementara anak-anak  selebihnya ya berpenampilan  biasa-biasa saja. Aku termasuk golongan yang terakhir ini. Meski Ayahku memiliki kedudukan lumayan tinggi di PJKA, namun karena anaknya segambreng ya akhirnya kami harus hidup sederhana juga. Nasiipp ….

Nah si Hidayat temanku ini, nakalnya luar biasa. Sebel banget aku sama dia. Aku selalu merengek kepada Ibuku agar beliau menghadap wali kelas dan memohon supaya aku tidak disatu bangkukan sama Hidayat. Ibuku memang menuruti kemauanku. Menghadap guru, berbincang lama banget di kantor guru, dan sebagai hasilnya, aku harus selalu duduk lagi  sama anak bengal ini. Kadang aku berpikir, Ibu dan guruku memang sengaja berkomplot untuk membuatku cepat mati saja.

Namanya juga sekolah jadul, mana mereka tahu bagaimana si Hidayat itu menggangguku. Dia mencubit, menarik pita rambut, ngambil bekal makanan, minta minum nggak bilang-bilang. Masak dia langsung minum dari botol minumku, coba ! jorok banget kan ?! hueekk !  dan ada satu hal lagi yang membuatku dendam kesumat setengah mati sama dia.  Si Hidayat ini, selalu tahu apa warna celana dalamku hari itu ! Nggak tahu gimana caranya, pokoknya dia selalu tahu.

Soal menyingkapkan rok seragamku dia sangat sering. Tapi pas dia nggak jahil menyingkap rokku, tetap saja dia tahu apa warna dan motif  celana dalamku. Sehabis itu dia akan menuliskan hasil investigasinya di papan tulis, dengan huruf besar yang mencong-mencong  : si ANI CELANANYA  WARNA PUTIH GAMBAR  DONAL (maksudnya Donald Duck). Dasar anak sinting, biarpun masih kecil tapi aku kan maluu .. !

Pada suatu sore, Ibu Guru Bahasa indonesia meminta kami menulis sebuah karangan bebas, yang sesudahnya kami akan diminta untuk membacakan karangan itu dengan suara yang keras di depan kelas. Aku kurang suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, namun kalau disuruh mengarang aku paling senang. Pokoknya hobi deh.  Nilaiku pasti selalu tinggi, dan selalu saja Ibu Guru memanggil namaku dalam urutan pertama untuk membacakan karanganku. Aku selalu bangga membacakan karanganku di depan kelas. Membaca dengan penuh gaya dan ekspresi. Namun yang paling membuatku lebih bangga lagi adalah melihat tatapan kagum teman-temanku. Bagaimana tidak kagum,  kebanyakan teman-temanku ini bisanya cuma menulis karangan berjudul  ” Liburan ke rumah nenek” kalau tidak ” Pesiar ke kebun binatang “, he he …

Si Hidayat paling sebal kalau sudah melihat aku maju kedepan, bergaya lebay membaca karangan. Inilah satu-satunya senjataku melawan dia. Karena di pelajaran lain si Hidayat susah dilawan, sebab dia pintar. Setelah aku duduk kembali dia pasti akan pasang muka cemberut bete banget. Masih mending kalau cuma gitu, biasanya aku suka dapat bonus cubitan di tangan sampai merah-merah tanganku. Dia memang selalu sirik sama aku.

Rupanya karena merasa kesal sebab aku selalu mengalahkan dia dalam pelajaran mengarang, pada suatu hari dia merencanakan pembalasan yang setimpal untukku. Ketika hari yang ditunggu tiba, seperti biasa Ibu Guru meminta kami menulis dan membacakan karangan. Si Hidayat menulis dengan serius dan bersemangat. Aku yang merasa penasaran dan mencoba mengintip karangannya, dipelototin sampai mau nangis. Akhirnya selesailah karangan kami.

Sebelum Ibu Guru menyebut namaku untuk maju ke depan kelas, si Hidayat langsung mendahului dengan mengacungkan tangannya. Tanpa menunggu persetujuan Ibu Guru , dia segera maju ke depan kelas dan membacakan karangannya dengan gaya yang rupanya sudah dia latihkan di rumah. Judul karangannya aku masih ingat betul, ” Cita-Citaku “.
Kelas hening menyimak si anak badung  membacakan karangannya. Tidak ada yang istimewa sebetulnya dengan karangannya, bisa-biasa saja. Namun ada satu kalimat yang membuat karangannya itu menjadi sangat stimewa, sangat dikenang, dan sangat fenomenal, yang kalau dibicarakan kembali di acara-acara reuni, membuat kami terbahak- bahak sampai sakit perut.
Begini kira-kira kalimatnya, ” Kalau nanti saya sudah dewasa, saya  ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Saya bercita-cita menjadi seperti Bapak saya, yaitu menjadi seorang PENJAGA ALAT VITAL “

- - - mendadak kelas bertambah hening - - - -

Tak lama kemudian, duaarr ..!!  kelas seperti pecah oleh tawa kami. Anak laki-laki tertawa sampai guling-guling, anak perempuan cekikikan geli.  Dan wajah Ibu Guru langsung pucat seperti baru keluar dari kulkas, he he he …
” Hee… Hidayat ! Apa maksud kamu dengan penjaga alat vital ? “, tanya Ibu Guru dengan mimik kaget.
” Itu Buu, orang yang suka jagain alat-alat vital di stasiun kereta api "
” Alat vital apa yang kamu maksud ?! “
” Itu Bu, ada lokomotif yang mau dibetulin, ada mesin-mesin, ada bantalan rel …”
“Maksud kamu penjaga gudang ?”
” Bukan Bu, penjaga gudang beda dengan penjaga alat vital “
” Haduh, baiklah. Jadi apa nama pekerjaan ayahmu, Hidayat ? “
” Yaa … Penjaga alat vital Bu ..! “
” ah sudahlah, kembali ke tempatmu ! “

Kulihat Ibu Guru menggeleng-gelengkan kepalanya seperti ada lalat yang masuk ke telinganya, sambil mulutnya komat-kamit ” Tidak mungkin, mustahil ..” !
Kelas masih riuh oleh gelak tawa kami. He he …

Sekembalinya ke bangku, tak henti-henti  aku meledek dia, ” week ..!! penjaga alat vitaaal …! penjaga alat vitaaall …! “, sambil ngomong gitu kujulurkan lidahku panjang- panjang biar kapok dia. Tapi alih – alih marah, dia malah girang banget. Cengengesan tiada henti. Rupanya dia sudah merencanakan semua itu. Membuat karangan yang sensasional, yang bombastis, yang membuat namanya akan dikenang sepanjang masa. Dan benar saja, semenjak itu namanya beken diseantero sekolah. Semua guru dan murid jadi tahu siapa Hidayat, Sang Penjaga Alat Vital !

Begitulah kisahku bersama Hidayat teman masa kecilku. Semenjak lulus SD sampai sekarang, tak sekalipun aku pernah kontak dengannya, apalagi berjumpa. Teman-teman yang aku tanyapun, tak tahu dimana kini Hidayat berada. Meski begitu semua kenangan bersama Hidayat tak kan terlupakan seumur hidupku. Semoga dia baik-baik saja.


Semoga terhibur, ya teman-teman …


Salam sayang,


Anni