Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, March 1, 2013

Nenekku Loncat Jendela



Di keluarga besar kami, ada seorang anggota keluarga yang memiliki jalan hidup sangat unik. Mengingat usianya, beliau biasa kami panggil Nenek meski beliau bukan benar-benar Nenek kami. Keunikan Nenek kami ketahui dari  dari penuturan Nenek sendiri dan dari beberapa saksi mata yang merupakan sanak saudara Nenek.

Waktu itu kira-kira tahun 1948.
Nenek baru berusia 11 tahun dan berstatus sebagai pengantin baru.
Tak dapat kubayangkan betapa gadis secilik itu sudah harus dinikahkan dengan seorang laki-laki  yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Bagi pasangan pengantin baru, lazimnya  malam pertama adalah malam yang tak kan mungkin terlupakan seumur hidup. Kenangannya begitu lekat meski pernikahan telah melampaui angka puluhan tahun. Namun hal ini tak berlaku bagi Nenekku. Nenek yang masih kecil dan menikah dengan laki-laki dewasa, rupanya belum pernah mendapatkan pendidikan seks yang memadai. Ya wajar saja, jangankan zaman dulu zaman sekarang saja masih banyak orang tua yang merasa enggan dan  rikuh membicarakan masalahseksual dengan anak-anaknya.
Di usia seperti itu tentu Nenek masih sangat lugu dan tak tahu apa-apa soal hubungan suami-istri. Maklum Nenek sama sekali tak pernah mengecap bangku pendidikan formal, meski Nenek fasih membaca huruf Arab yang dipelajari di pesantren milik keluarga besarnya.

Suasana malam yang biasanya tenteram dan sunyi di desa nan terpencil kampung halaman Nenek, tiba-tiba pecah dengan teriakan histeris seorang bocah perempuan cilik yang terdengar sangat ketakutan. Jeritan melolong itu diikuti suara Brraaakkk ! dan Bruuuukkk ! yang sangat keras.  Ternyata itu adalah suara kaca jendela yang diterjang oleh Nenek yang lantas jatuh terjengkang ke halaman berumput. Nenek memang masih 11 tahun, namun tubuhnya sangat bongsor seperti gadis dewasa.  Bobot tubuh itulah yang menyebabkan kerasnya suara yang ditimbulkan ketika tubuhnya terjun bebas dari ambang jendela.

Apa gerangan yang terjadi ? Oh Tuhan, ternyata malam itu Nenek sangat terkejut dan ketakutan bukan kepalang  melihat alat kelamin laki-laki dewasa yang baru pertama kali dilihatnya seumur hidup.  Jangankan merasa terangsang atau mupeng, Nenek cilik malah jadi sawan dan shock luar biasa dibuatnya. Nenek sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh laki-laki yang baru saja dinikahi pagi tadi ini, dengan senjata kebanggaannya yang mengokang sangat mengerikan itu. Jadi daripada daripada, lebih baik Nenek memilih nekad meloncat jendela dan kabur menyelamatkan diri. Dan kejadian berikutnya ya begitulah, alih-alih adegan asyik masyuk seperti yang diharapkan sang Romeo, Juliet malah loncat jendela dan lari terbirit-birit ke jalan raya karena ketakutan melihat senjata aneh yang tampak sangat menakutkan di matanya itu.
Sungguh malang nasibmu Romeo ...

Setahun   kemudian Nenek mengandung anak pertama yang merupakan anak satu-satunya. Inipun tak dapat kubayangkan, anak yang baru berumur 12 tahun sudah hamil dan bersiap menjadi seorang ibu. Jika kubandingkan dengan kondisiku, pada usia 12 tahun aku baru masuk ke SMP, sedang senang-senangnya belajar, berteman, dan belum mendapat haid . Jadi jangankan menikah dan hamil, sekedar mengangan-angankan saja belum bisa.

Ketika saat melahirkan tiba, Nenek yang masih kanak-kanak itu merasakan kesakitan yang luar biasa di daerah perutnya. Nenek tak mengira bahwa sakit melahirkan akan sedahsyat itu rasanya.  Nenek cilik tak sanggup lagi menanggung penderitaan itu. Aku dapat mengerti situasinya. Mana mungkin anak berumur 12 tahun dapat menanggung rasa sakit sehebat rasa sakit melahirkan.

Karena rasa sakit yang tak tertahankan lagi dan bingung tak tahu harus berbuat apa, akhirnya Nenekku berlari kian kemari sambil menangis menjerit-jerit minta tolong. Tentu saja tingkah lakunya ini membuat panik seisi rumah. Ibu dari Nenek sampai panik dibuatnya. Dukun beranak dipanggil, bidan pun sudah siaga, namun tak satupun orang di rumah yang dapat meredakan jerit tangis calon ibu cilik ini. . Semua orang bingung dan gelisah dibuatnya.

Ditengah kebingungan itu,  tanpa diduga tiba-tiba nenek membuka jendela dan .... lagi-lagi Nenek meloncat keluar terjun bebas ke atas rumput dan semak tanaman hias, lalu lari melintasi halaman lantas kabur ke jalan raya sambil menangis melolong-lolong seraya memegangi perutnya yang besar membuncit. Dia terus berlari sambil menangis keras-keras karena berfikir dengan begitu maka rasa sakitnya akan hilang dan bayi yang dikandungnya akan cepat keluar. Duh Nenek, kasihan sekali dirimu ....

Entah bagaimana caranya, akhirnya orang-orang di kampung dapat menangkap nenekku yang kabur itu, lalu membawa masuk ke dalam rumah dan menolong persalinananya tak berapa lama kemudian. Ternyata yang dilahirkan adalah bayi berjenis kelamin perempuan dengan tubuh yang sangat montok dan sehat.  Pantas saja nenekku yang masih kecil mungil itu merasa sangat kesakitan saat melahirkan bayi yang begitu besar.

Karena usia nenekku masih 12 tahun, Nenek tidak diperbolehkan mengurus bayinya, bahkan Nenekpun tidak menyusui sebab payudaranya tidak dapat mengeluarkan air susu. Akhirnya bayi itu diurus oleh nenek buyut, hingga masa dewasanya. .

Balik lagi ke malam pertama, entah apa yang dilakukan oleh Romeo, yang jelas dikemudian hari Juliet malah jadi ketagihan menikah. Maksudnya ? Ya di sepanjang masa hidupnya Nenek tercatat menikah dan cerai sebanyak 15 kali !
Entah apa yang menyebabkan Nenek sampai memegang rekor menikah dan cerai sebanyak itu.
Dipikir-pikir Nenekku ini sakti banget ya. Beliau memegang rekor sebanyak 3 kali yang kesemua rekornya itu belum terpecahkan sampai hari ini, setidaknya di kampung halamannya. Rekor loncat jendela di malam pertama, rekor loncat jendela saat akan melahirkan, dan terakhir rekor kawin cerai terbanyak. Boleh jadi seharusnya Nenek menjadi atlet lompat gawang, atau menjadi artis Hollywood, dengan rekornya itu. Entahlah ..

Begitulah kisah tentang Nenekku yang menikah dan melahirkan diusia yang masih sangat belia, usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain bersenang-senang. Namun pada masa itu, menikah diusia kanak-kanak memang merupakan hal yang lumrah dilakukan di negeri kita. Pernikahan dini, sebuah tradisi kuno yang seiring dengan perubahan zaman, sudah banyak ditinggalkan.

Hari sudah berganti dan waktupun telah berlalu. Disana-sini di pelosok negeri masih terdengar pernikahan kanak-kanak karena taat tradisi atau karena salah dalam mempersepsikan ajaran agama. Anak-anak yang seharusnya tumbuh mejadi manusia dewasa yang akan menggantikan generasi tua, harus berhenti bertumbuh kembang, karena harus menjadi orang tua sebelum waktunya.

Pernikahan kanak-kanak jelas tidak dianjurkan baik dari segi medis, psikis, maupun sosiologis. Semuanya serba riskan dan rentan.
Kawin ceraipun tentu saja harus dihindarkan, karena berakibat buruk bagi anak- anak.

Semoga kisahku ini dapat menjadi cermin yang bermanfaat bagi kita semua. Selamat membina keluarga bahagia ya teman-teman :)


Salam sayang,

Anni