Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, March 12, 2013

Sarjana Hukum Jadi Guru? Bagus itu


Sarjana Hukum kok jadi Guru ? Ya begitulah. Seringkali pertanyaan itu ditujukan kepadaku, ketika aku menjawab pertanyaan apa latar belakang pendidikanku, dan apa profesiku sekarang. Mengapa kata orang-orang yang bertanya itu, alih-alih menjadi Hakim, Jaksa, Notaris, dan lain-lain profesi yang lazimnya disandang seorang sarjana hukum, aku malah memilih menjadi guru SMA ? Menanggapi komentar itu biasanya aku hanya tersenyum seraya berujar singkat, ” Mengapa tidak ? saya bangga dan sangat bersyukur dapat menjadi seorang Guru “


Benarkah latar belakang pendidikan itu harus linear dengan profesi yang dijalani sekarang ? Haruskah seseorang menjalani profesi berdasarkan bidang keilmuan yang didalami sebelum bekerja ? untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita teliti orang-orang yang ada di sekitar kita.


Dimulai dari lingkunganku dulu ya. Aku mengenal banyak sekali orang yang sama sekali tidak nyambung antara  latar belakang pendidikan dan profesi yang dijalaninya sekarang. Di lingkungan SMA tempatku mengajar misalnya, hanya 3 orang yang jelas-jelas lulusan fakultas kependidikan sementara selebihnya lulusan fakultas non kependidikan.
Namun semua teman-temanku itu, baik yang lulusan kependidikan maupun yang non kependidikan,  kini telah menjadi Guru handal yang sangat aku kagumi kepandaiannya dan menjadi favorit para siswa.


Itu baru di lingkungan pekerjaan, belum di lingkungan pertemananku yang lain. Lebih banyak lagi kujumpai teman-teman yang profesinya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Karena  contohnya sangat banyak, aku hanya akan menyebutkan beberapa saja yang tampak ekstrem.


Yang pertama adalah temanku yang lulusan Fakultas Pertanian jurusan Hama Penyakit dan Gulma. Bisa-bisanya sekarang dia berprofesi sebagai manager HRD di salah satu grup perusahaan milik Bakrie ? Kan aneh . Jika tahu akan berprofesi seperti itu, mengapa tidak dari awal saja temanku itu kuliah di fakultas ekonomi mengambil jurusan manajemen, misalnya, sehingga terdapat link and match antara pendidikan dengan profesi. Namun begitulah kenyataannya, dan temanku itu sangat menikmati pekerjaannya.


Ada juga temanku yang lulusan Astronomi ITB. Tahu tidak  apa profesinya ? dia bekerja di perusahaan agribisnis dengan posisi sebagai manajer quality control. Apa nggak aneh ? selintas mungkin orang akan bertanya, lantas dikemanakan ilmu astronomi yang dia pelajari selama ini, kalau begitu ? Bermanfaatkah ilmunya di perusahaan tempat dia bekerja sekarang ?

Itu baru dua contoh. Seribuan contoh lagi belum aku sebutkan, yang kesemuanya tak kalah ajaib level tidak nyambungnya antara profesi yang digeluti dengan latar belakang pendidikannya. Kalau aku harus menyebutkan contoh yang berasal dari kalangan selebritis, maka akan sangat mudah bagiku menyebutkan nama Fariz RM dan Adhie MS yang keduanya berprofesi sebagai musikus yang sama-sama berlatar belakang fakultas teknik. Atau yang lebih muda adalah Nicholas Saputra, Pemain film berwajah ganteng ini adalah alumnus Arsitektur UI. Aku tidak akan menyebutkan Tompi yang penyanyi itu, karena sebagai alumnus FKUI Tompi masih menjalankan profesinya sebagai dokter spesialis bedah. Anda punya contoh lain ? Aku yakin saking banyaknya anda akan kehabisan waktu untuk menyebutkan mereka satu persatu,bukan ?


Kalau sudah begini baru terasa betapa pada akhirnya bukan dimana kita menuntut ilmu, atau di fakultas apa kita belajar, namun life skill apa yang kita miliki dan life ability apa yang kita punyai. Kampus hanyalah sebuah institusi tempat menuntut ilmu. Dibalik semua label nama ilmu pengetahuan yang tertera di kampus-kampus itu, sesungguhnya terdapat label ilmu pengetahuan lain yang lebih spesial, yakni ilmu pengetahuan kehidupan yang merupakan kurikulum  tersembunyi. Ibaratnya, semua universitas memiliki “saudara kembar’ yang tersembunyi di dimensi lain, yakni “Universitas Kehidupan “


Ilmu pengetahuan tentang kehidupan inilah yang harus kita reguk sebanyak-banyaknya selama kita menempuh pendidikan di manapun, tak hanya di bangku perguruan tinggi. Ketika kita mempelajari ilmu pengetahuan jenis ini, kita tidak hanya belajar tentang teori, namun langsung mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang dipelajari sangat banyak dan tak terbatas jumlahnya, dan ini yang terpenting : kita tak pernah mendapat nilai dari dosen, namun akan mendapatkan penilaian langsung dari masyarakat.


Materi yang kita pelajari dalam ilmu kehidupan meliputi ilmu tentang kesabaran, toleransi, jujur, kerja keras, mengatur waktu, menjalin persahabatan, memanage sebuah kegiatan, menjadi pemimpin, menjadi anggota, taat aturan,  menyelesaikan konflik, ilmu berhemat, ilmu menyayangi, dan lain-lain ilmu yang rasanya memerlukan waktu seumur hidup kita untuk benar-benar dapat memahaminya. Kesemua ilmu kehidupan itu, akan tampak secara formal misalnya dalam kegiatan kepanitiaan, sidang di Senat mahasiswa, dalam hubungan dengan teman satu kost an, teman di organisasi, dalam aktifitas bekerja paruh waktu untuk menambah uang saku, dll, yang kesemuanya itu sama sekali tidak mempengaruhi besar kecilnya IPK, karena memang tidak ada nilainya secara formal.


Semua ilmu pengetahuan tentang kehidupan itu, akan mengasah semua sisi kecerdasan kita, yakni sisi kecerdasan yang tidak tersentuh dalam proses belajar mengajar di ruang kuliah. Sebab sebagaimana pada umumnya proses belajar mengajar di negeri kita, proses belajar mengajar di tingkat perguruan tinggipun masih menekankan pada peningkatan kecerdasan intelektual (IQ), sementara sisi kecerdasan manusia yang lainnya hanya tersentuh sedikit sekali.


Dengan mempelajari kurikulum tersembunyi itu, diharapkan setiap mahasiswa akan dapat melatih dan memaksimalkan semua potensi kecerdasan yang dimiliki, seperti kecerdasan emosi, spiritual,  budaya, dll. Kecerdasan inilah yang akan menghasilkan lulusan yang benar-benar memiliki life skill  dan life ability  yang sangat dibutuhkan ketika dia harus memasuki dunia kerja sebagai seorang profesional. Tak peduli apakah dia akan bekerja di perusahaan ataukah akan membuka bisnis sendiri sebagai seorang wirausahawan, semua kecerdasan dan kecapakan hidup itu, mutlak diperlukan.


Kalau begitu, masih adakah manfaat menuntut ilmu di sebuah fakultas atau jurusan tertentu, jika pada akhirnya semua kecakapan hidup justru didapatkan dari ” luar ” bangku kuliah ? dan bukankah lulusan fakultas manapun dapat berprofesi sebagai apapun ? Tentu saja masih, karena pada kenyataannya ada jenis pekerjaan tertentu yang mensyaratkan latar belakang pendidikan yang sangat spesifik,yang tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, misalnya profesi dokter, termasuk dokter gigi dan dokter hewan, akuntan, hakim, dosen, psikolog, dll, yang mensyaratkan para profesional nya. Harus berlatar belakang pendidikan yang sesuai.


Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, jika profesi sekarang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan sebelumnya, lalu apakah semua ilmu yang kita pelajari di kampus dulu itu masih ada manfaatnya ? Aku berani menjawab MASIH . Semua ilmu yang kita dapatkan selama di bangku kuliah itu pada akhirnya bermuara pada proses pendewasaan, proses pematangan kepribadian, dan proses pembuka wawasan. Apapun ilmunya, semuanya melaksanakan proses itu.   Inilah yang sejatinya akan menjadi bekal kita untuk menghadapi kehidupan selanjutnya. Ilmu pengetahuan ilmiah  yang diajarkan di fakultas itu, hanya sarana, hanya alat, dan bukan tujuan.


Aku menulis artikel ini bukan dengan maksud membela diri karena aku sudah  ”membelot” dari latar belakang pendidikanku. Bukan sama sekali bukan itu.  Aku hanya ingin mengatakan bahwa profesi guru sebagaimana profesi wartawan, reporter, pebisnis, pelaku seni, penulis, ibu rumah tangga, chef, banker , dll, adalah profesi yang sangat terbuka bagi lulusan manapun. Yang penting para pelakunya memiliki skill dan kecintaan terhadap profesinya, maka siapapun akan berhasil menjalaninya dengan baik.  Dan satu lagi yang terpenting : semua profesi itu membutuhkan ” panggilan jiwa “. Hanya yang merasa terpanggil saja yang akan berhasil menjalaninya dengan baik, tak peduli lulusan mana.



Jadi, apa profesi anda sekarang ? Apakah sesuai dengan latar belakang pendidikan anda ? Jika ya, bersyukurlah, karena itu adalah berkah. Jika tidak, tetaplah bersyukur karena itu adalah anugerah. Nah, selamat menjalani profesi kita dengan senang hati dan penuh rasa syukur ya teman-teman :)



Salam sayang,


anni