Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, March 18, 2013

Orang Kasar Tidak Layak Punya Pacar

Perangai manusia di dunia ini sungguh banyak ragamnya. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang biasa-biasa saja.. Ada yang lembut ada yang kasar, ada yang sedang-sedang saja. Perbedaan perangai inilah yang secara esensial membedakan satu manusia dengan manusia lainnya.

Itu tadi soal perangai atau watak manusia. Sekarang soal cinta. Cinta adalah suatu perasaan yang setiap orang merasa layak untuk merasakan dan memilikinya, tak peduli bagaimana perangainya. Dan sialnya (atau untungnya ?) Cinta memang tak pernah memandang jenis manusia. Siapa saja bisa dia hinggapi. Tak hanya masalah usia muda atau tua, namun segala karakter manusiapun, bisa saja dia datangi.

Sekarang marilah kita padukan kedua variabel tadi. Perangai manusia dan cinta. Saya akan bercerita kepada teman-teman, sejauh yang saya ketahui, saya amati , dan saya nasihatkan kepada orang-orang muda yang kadang datang bertanya pada saya soal cinta yang gampang-gampang susah ini, berkaitan dengan karakter yang dimiliki para pecinta. Bagaimana, sudah siap ? Yuks maree ..

Cinta itu pada dasarnya adalah perasaan yang indah. Oleh karena kodrat keindahan yang melekat pada cinta itulah, maka seharusnya cinta hanya diliputi oleh hal-hal yang indah saja, semisal menyayangi, menghargai, menjaga, menghargai, melindungi, membela, bersabar, mendoakan, membahagiakan, dst.
Ibarat tanaman, cinta hanya akan dapat tumbuh subur berkembang dengan baik jika hidup dan diperlakukan dalam lingkungan yang tepat, yakni lingkungan yang berisi orang-orang dengan perangai indah.

Ketika cinta hadir dengan segenap keindahannya, maka keindahan itu akan paripurna dalam genggaman orang-orang yang berperangai baik. Mereka akan memperlakukan pasangannya dengan sebaik mungkin dan dengan penghargaan setinggi-tingginya, atas nama cinta. Namun cinta kadang membawa pula cobaan kepada kita, dengan tujuan menguji sejauh mana kita dapat mempertahankan cinta itu. Cobaan itu dapat berbentuk rasa cemburu, perpisahan, kesedihan, dsb. Namun ditangan orang-orang yang berperangai baik, sesakit apapun cobaan yang dihadirkan oleh cinta, cinta tetap akan mendatangkan kebaikan. Jika pasangan itu bersabar dan memilih tetap bersatu maka cinta mereka akan bertambah kuat. Namun jika harus berakhir pada perpisahan umpamanya, maka silaturahmi diantara dua orang manusia yang pernah saling mencintai itu tidak lantas terputus begitu saja, karena mereka saling memaafkan. Dan semua itu adalah sebuah kebaikan.

Lalu bagaimana halnya jika cinta itu menghinggapi jiwa orang-orang yang berperangai buruk ? Jawabannya sungguh dapat diduga. Cinta, alih-alih dianggap sebagai anugerah, hadiah dari Tuhan, malah dijadikan alat untuk memuaskan nafsu keburukan mereka.

Yang paling mudah ditemui adalah perilaku hubungan intim di luar nikah dengan dalih demi cinta. Mereka yang berperangan buruk mengatasnamakan cinta untuk perbuatan seks bebas yang dilarang oleh semua agama. Mereka tahu di dalam hatinya, bahwa sesungguhnya itu bukan cinta, namun nafsu (syahwat) belaka. Selanjutnya cinta yang diwarnai dengan hitamnya hati akan muncul dalam bentuk kekerasan. Baik fisik maupun psikis.

Saya tak dapat membayangkan, bagaimana mungkin seseorang melukai orang yang dicintainya. Memukul, menampar, menendang, membenturkan kepala, hingga menyiram wajah dengan air keras, dan perilaku brutal lainnya. Atau menyakiti secara psikis semisal menghina, mengejek, memaki, memanggil dengan julukan buruk yang menyakitkan hati. Semuanya bermotif keinginan untuk memiliki sekaligus menguasai. Sebuah perilaku posesif yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Sungguh tak pantas memperlakukan orang yang mencintai dan dicintai sampai sedemikian rupa. Cinta bukan untuk menyakiti. Cinta itu untuk membahagiakan. Jika tidak seperti itu, maka sebaiknya orang jahat tidak perlu mencintai. Mungkin saja ia dicintai, artinya dia adalah objek cinta. Namun mengingat akibat buruk yang mungkin akan terjadi, orang jahat, orang kasar memang sebaiknya tak perlu memiliki seseorang untuk dicintai, sebelum dia memperbaiki akhlaknya.
Saya menulis ini karena sudah sangat jengah dengan kisah tentang pertengkaran pasangan baik pasangan kekasih atau pasangan suami istri, yang berakhir dengan kekerasan. Apa yang mereka inginkan dengan semua itu ? Apakah mereka Bisa saling mencintai dengan benar atau tidak ? Bisa bertindak dewasa atau tidak ? Bisa berpikir jernih atau tidak ? Dan yang terpenting, bisa mendengarkan hati nurani atau tidak ? Mengapa perilaku buruk seperti itu terus dan terus berulang ?

Jika ada seseorang datang kepada saya dan bercerita tentang segala kekerasan itu, maka saya hanya akan menasihatkan begini :

1. Jika dia adalah korban kekerasan fisik, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah menghindar dan menyelamatkan diri sedapat mungkin jika tidak bisa melawan. Jika bisa melawan, lawanlah sekuat tenaga dan selamatkan nyawa yang sangat berharga. Setelah itu laporkan kepada pihak berwajib, dan putuskan, ceraikan, tinggalkan dia sekarang juga, tak peduli anda sangat mencintai dia. Karena dengan menyakiti seperti itu, dia nyata-nyata tidak mencintai anda. Selamatkan kehidupan anda dan anak-anak anda dari orang yang berperangai kasar.

2. Jika dia dilukai secara psikis dan terus berulang, dan jika si pelaku adalah suami/ istri, maka yang harus dilakukan adalah menunggu hingga dia tenang, mencari waktu yang tepat, lalu bicarakan baik-baik tentang ketidak setujuan anda mengenai perilaku buruknya yang suka mengejek dan melecehkan anda itu. Jika dia menyadari dan bersedia memperbaiki kesalahannya, maka maafkan, beri dia kesempatan dan lihat perkembangannya. Namun jika dia masih berstatus sebagai kekasih anda, maka tinggalkan sajalah ! Putuskan sekarang juga, tak perlu banyak bicara. Percayalah orang yang ringan mulut menghina kekasihnya, sama sekali tak patut untuk dinikahi. Mau seperti apa suasana keluarga anda nanti.

3. Jika dia adalah perlaku kekerasan itu, baik kekerasan fisik maupun psikis, maka saya hanya akan mengatakan ini kepada dia : anda bukan manusia. anda cuma monster yang terperangkap dalam tubuh manusia !


Jadi camkan anak muda, orang kasar tidak layak punya pacar. Pacarmu kasar, buang aja ke Madagaskar.

 

Salam sayang,

Anni