Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, March 5, 2013

Jika Syarat Memilih Jodoh adalah Bobot-Bibit-Bebet, Lalu Siapa Yang Mau Menikah Denganku ?



Dulu ketika aku masih sering mengantar dan menjemput anak-anakku bersekolah di Taman Kanak-kanak, aku sering ngobrol di ruang tunggu sekolah dengan seorang ibu yang ketika itu sudah berumur sekira 65 tahunan. Namanya bu Aisyah, orangnya baik dan ramah sekali, terutama kepadaku. Bu Aisyah bersikap begitu mungkin karena jarang ada ibu-ibu yang masih muda (waktu anakku masih TK otomatis aku juga masih muda lah .. he he …) bersedia duduk lama berbincang dengan ibu-ibu yang sudah tua.

Tentu saja waktu itu aku lebih sering bersosialisasi dengan ibu-ibu yang seumuran denganku. Namun entah mengapa, keberadaan  ibu tua yang seolah terselip di antara ibu-ibu muda itu, membuat kehadirannya terlihat agak berbeda. Dan seperti biasa, sementara ibu-ibu yang lain bersikap tak acuh, justru aku berusaha mencari tahu, maklum namanya juga ibu guru, suka rada punya penyakit kepo, he he …

Lalu aku dekatilah ibu Aisyah itu dan aku ajak ngobrol. Dari situlah bermula persahabatanku dengan bu Aisyah.  Sungguh beruntung aku dapat mengenal bu Aisyah dan bisa dekat secara pribadi dengan beliau. Semakin lama aku bergaul dengan bu Aisyah semakin aku mendapatkan banyak sekali manfaat dan pengalaman hidup yang dapat kuambil hikmahnya. Sementara sebaliknya, apakah beliau mendapatkan manfaat yang besar ketika bergaul denganku ? nggak tau juga ya, tapi kayaknya sih enggak deh, he he …

Awalnya aku merasa agak heran, mengapa ibu setua itu bisa punya anak seumuran anak TK yang bernama Nadia.  Memangnya beliau melahirkan di usia berapa tahun ? 60 tahun ? rasanya agak mustahil. Tadinya aku pikir Nadia yang diantarkan bu Aisyah adalah cucunya, namun ternyata bu Aisyah jelas-jelas mengatakan bahwa Nadia adalah anaknya.
Hingga pada suatu siang, sambil santai menunggu waktu bubar sekolah, aku iseng bertanya pada bu Aisyah.

” Ibu, maaf Nadia itu beneran anak ibu ? Memangnya ibu waktu melahirkan umur berapa tahun? kok ibu nggak KB ? kan kalau sudah tua melahirkan itu berbahaya Bu ! “, tanyaku kepo banget ( kalau ku ingat-ingat kejadian itu, aku suka berpikir, alangkah dodolnya aku saat itu. Nanya kok seceplosnya aja, nggak mikirin perasaan orang. ah kacau …)

Lalu bu Aisyah menjawab dengan suara setengah berbisik dengan tubuh yang agak dirapatkan ke arahku.
” Neng, Nadia itu memang anak Ibu, tapi anak pungut “
” Oohh ….”
” Bener-bener anak pungut Neng, mungut dari tempat sampah ! “
“Astaghfirullah …! Ibu ..?? “
“Iya Neng, Nadia itu bayi yang dibuang sama ibunya, di tempat sampah di depan rumah ibu. Untung sama ibu ketahuan dan cepat-cepat diselamatkan, lalu diangkat anak sama ibu …”
” Oohh Ibu … emmh … maaf .. emmh …”
” Iya Neng, nggak apa-apa, Ibu mengerti kenapa Neng Anni dan ibu-ibu disini merasa heran, orang setua ibu kok bisa punya anak balita. Jadi begitu ceritanya, Neng ..! “
” Oohh … Ya Allah …”

********
Waktu berlalu haripun berganti. Nadia telah tumbuh menjadi gadis remaja sekarang, seusia dengan gadis sulungku dan sama-sama duduk di bangku SMA kelas 12. Bu Aisyah yang baik hati itu sudah lama meninggal dunia. Kini Nadia menjadi anak yatim piatu untuk kedua kalinya. Diasuh di lingkungan keluarga sederhana oleh salah seorang kakak angkatnya yang merupakan anak kandung bu Aisyah.

Wajah Nadia tidak terlalu cantik, tapi manis. Hatinya baik, dan anaknya ramah. Meski satu sekolah dengan anakku, namun mereka tidak pernah sekelas jadi kurang begitu akrab satu sama lain. Hingga pada suatu kesempatan dalam sebuah acara di sekolah, mereka berbincang cukup lama, dan pembicaraannya itu rupanya cukup merisaukan hati anakku.

Kata anakku, ada seorang laki-laki yang berniat melamar Nadia selulus SMA nanti. Namun, belum sampai niat itu dilaksanakan, tiba-tiba kekasihnya itu memutuskan hubungannya dengan Nadia setelah laki-laki itu mengetahui bahwa Nadia ternyata anak pungut yang tidak diketahui asal-usul keluarganya. Kekasihnya sangat yakin bahwa keluarganya akan berkeberatan jika memiliki menantu yang tidak jelas bobot-bibit -bebetnya.  Nadia berkata serius pada anakku, ini adalah kejadian yang kedua kalinya, Nadia ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya lantaran latar belakang keturunan Nadia yang tidak jelas.

” Kalau begitu, kelihatannya nggak bakalan ada yang mau sama aku, karena aku kan cuma anak pungut yang diambil dari bak sampah “, kata Nadia getir.
Anakku tak bisa berkata apa-apa, hanya meminta Nadia bersabar dan berdoa, karena soal jodoh Allah lah yang menentukan.
Malang sekali nasib Nadia dan ribuan anak lain yang bernasib sama dengan Nadia. Terlahir sebagai anak yang tak diinginkan, lantas dilemparkan begitu saja di bak sampah, seolah membuang bangkai tikus atau bangkai ayam saja. Bagi anak-anak seperti ini, mungkin mati akan jauh lebih baik. Namun jika takdir menuntunnya untuk tetap hidup, maka kehidupan yang kejam telah siap menantinya. Jarang sekali kehidupan bersikap ramah pada anak-anak ini.


 ****
 Menurut pendapatku, pasangan hidup itu memang harus dipilih, tidak boleh asal-asalan mengambil, karena ini menyangkut kehidupan di masa depan dan anak-anak yang akan dilahirkan kelak. Itu sebabnya nenek moyang kita menetapkan syarat bobot-bibit-bebet sebagai rambu memilih jodoh.

Bobot yang meliputi kepribadian calon pasangan, apakah dia cukup dewasa, bertanggung jawab dan dapat diandalkan ? memiliki kestabilan emosi, baik hati, cerdas, taat menjalankan perintah agama ? ganteng atau cantik ? dll
Bibit meliputi asal- usul keturunan calon pasangan. Apakah dari lingkungan keluarga yang baik-baik ? Apakah keluarganya mendidiknya dengan budaya yang baik, dsb.
Sementara Bebet bermakna lingkungan. Berasal dari lingkungan apa calon pasangan berasal ? siapa teman-teman bergaulnya, dll, karena lingkungan sangat mempengaruhi perangai seseorang.

Menurutku rambu-rambu yang ditentukan nenek moyang kita itu tidak ada salahnya, sebab setiap orang tentu menginginkan jodoh yang terbaik baginya. Namun hal ini akan menimbulkan masalah ketika dihadapkan pada persoalan keturunan. Siapa manusia di dunia ini yang dapat memesan terlebih dahulu, akan dilahirkan dalam situasi dan kondisi seperti apa nantinya ia ke dunia ini . Syarat Bibit hanya akan menjadikan seseorang yang memiliki asal-usul keturunan yang jelas sajalah yang  layak untuk dipersunting, sebaliknya bagi mereka yang tidak memiliki keturunan yang jelas seperti Nadia bakal tersingkir dari kriteria terpilih. Padahal akhlak seseorang itu bukan ditentukan oleh asal-usul seseorang. Sangat tidak adil bukan ?

Aku hanya mengatakan pada anak-anakku, bahwa jodoh adalah misteri kehidupan yang besar namun memang harus dicari, dipilih, meski pada akhirnya Allah jua lah yang menentukannya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Berusaha dan berdoalah agar mendapatkan jodoh yang terbaik dengan berbagai kriteria.

Namun, aku melanjutkan nasihatku pada anak-anakku, kriteria terpenting dalam memilih pasangan hidup adalah kesalehan, ketaatannya pada Allah. Ini  adalah syarat utama. Seseorang yang saleh, yang memahami dan melaksanakan ajaran agamanya dengan benar, otomatis  akan menjadi pribadi yang dewasa, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, cerdas dalam menjalani kehidupan, dan kompetensi lain yang dibutuhkan oleh pasangannya kelak, karena semua tuntunan kehidupannya itu sudah dia pahami melalui ajaran agamanya. Selanjutnya serahkan saja pada Allah Sang Pemilik Kehidupan ini.

Dan tentang Nadia, aku berkata kepada anakku, yakinlah bahwa anak sebaik Nadia tentu akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Allah tidak tidur, dan Allah tidak bisa diatur -atur oleh segala norma yang dibuat oleh manusia. Allah memiliki caraNya tersendiri dalam menentukan hidup mati hamba Nya.
Kelihatannya anak gadisku mengerti, karena setelah itu dia tersenyum, dan pudarlah gurat kerisauan dari wajahnya yang cantik. Entah apa yang akan dikatakannya besok pada Nadia.



Salam sayang,



anni


Ps : bu Aisyah dan Nadia itu nama samaran.  Anni itu nama sungguhan :)