Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, March 29, 2013

Ramah itu Ada Batasnya. Jutek itu Selamanya



Sejak 2008 kalau tidak salah, aku mulai berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya lewat Facebook, setelah sebelumnya lewat milis dan YM
Lumayan intens juga aku berinteraksi lewat Facebook, baik dengan teman-teman yang memang aku kenal karena pernah satu sekolah, pernah satu tempat kerja, atau pernah bertetangga, maupun dengan teman-teman yang benar-benar asli teman di dumay alias hanya berteman di dunia maya, dan tak kukenal di dunia nyata.
Melalui pengamatan yang rada-rada iseng, aku menengarai ada dua tipe besar karakter teman di dunia maya, yaitu tipe Ramah dan tipe Jutek. Kedua tipe ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya yaitu sama-sama narsis, sama-sama ingin eksis dan dikagumi. Sementara perbedaannya adalah ini  :

1. Orang Ramah.

Orang yang ramah di dunia maya biasanya di dunia nyatapun aslinya memang ramah. Keramah tamahan  ini sangat mudah dikenali. Di profile picturenya dia akan selalu terlihat tersenyum atau nyengir lebar. Kadang dia memasang pose manis imut, misalnya dengan mengacungkan dua jari di sudut mata dengan ekspresi manja, atau menempelkan telunjuk di bibir yang digembungkan. Nggak tau apa maksudnya. Tapi jelas kelihatan sekali ekspresi ramahnya.
si Peramah ini juga mudah terlihat dari cara dia menulis status, berkomentar di status teman, atau membalas komentar. Selalu dengan nada ceria, penuh dengan icon tawa semisal he ♥ ♥ he ♥ ♥ he ♥  , atau p нĭ°°нĭ°°нĭ °°нĭ°°:p …

Siapapun akan senang berinteraksi dengan orang yang ramah . Sebab sekecil apapun aksi yang kita berikan, meski hanya sebatas mengklik icon Like umpamanya, maka teman kita yang ramah itu akan langsung merespons tidak hanya  dengan kata-kata terimakasih, namun masih ditambah menanyakan kabar, titip salam buat keluarga, dsb yang membuat hati kita menjadi senang dan tergoda untuk merespon balik. Selanjutnya jika aksi-reaksi ini bisa nyambung terus, interaksi yang terjalinpun akan terasa asyik dan menyenangkan. Bisa ngobrol lama sampai lupa waktu. Kalau beruntung bisa jadi pacar. ehm ..

Karakter ramah itu tidak ada kaitannya dengan wajah seseorang. Bisa saja dia berwajah ganteng/ cantik, biasa-biasa saja, bahkan yang berwajah pas-pasanpun banyak. Hanya saja, inilah ketidak adilan dunia maya, orang yang ramah plus memiliki wajah ganteng / cantik akan lebih disukai dari pada mereka yang ramah namun berwajah ya begitulah. Bayangkan saja, sudah cakep ramah pula. Wah fansnya sampai bejibun. Apa saja yang dia postingkan, pasti reaksinya sangat banyak. Dari yang sekedar me Like, sampai yang berkomentar hingga berkali-kali. Padahal yang dia publish mungkin saja tidak seberapa. Paling sekedar status yang berbunyi, ” Gerah banget nih, enak kali ya kalau ada es jeruk “. Cuma nulis segitu doang, komentar yang datang sampai seratusan, yang nge Like sampai puluhan ! hebat kan …

Namun demikian seramah-tamahnya manusia, dan sepiawai apapun dia berinteraksi dengan orang lain, kadang timbul juga gangguan. Gangguannya macam-macam, mulai dari gangguan yang sifatnya rayuan main-main, melontarkan komentar yang mengundang,  terang-terangan mengucap kata sayang, cinta, atau apalah yang sifatnya menjurus.

Sekali, dua kali mungkin si peramah tidak akan mempermasalahkan. Tapi kalau gangguan ini terus berulang, apalagi kalau gangguan ini datangnya dari orang yang nggak jelas dan alay pula,  kadang timbul juga rasa kesal dan tak sabarnya. Ujung-ujungnya diunfriend deh, atau yang lebih ekstrem ya diblocked. Nah akhirnya keluar juga kan sifat juteknya.  Kalau sudah begini dapat diambil kesimpulan bahwa : Ramah itu ada batasnya.

2. Orang Jutek
Dunia maya adalah dunia virtual,  dunia yang penuh topeng kepura-puraan. Tempat dimana siapapun bisa menampilkan citra diri yang sangat bertolak belakang dengan jati diri yang sesungguhnya. Namun sangat jarang ada orang yang bisa bertahan sangat lama dengan kamulflasenya ini. Pada suatu saat akan muncul juga sifat-sifat aslinya.

Dalam hal ini orang yang sebetulnya berkepribadain judes, ketus, alias jutek, bisa saja berpura-pura ramah, tapi biasanya tidak akan bisa bertahan lama, karena pegel juga kalau harus berlama-lama menjadi orang lain. Suatu saat pasti bakal juga keluar sifat juteknya.
Sejauh yang aku ketahui, orang yang jutek di dunia maya itu aslinya memang jutek beneran. Paling males deh kalau berhubungan dengan orang yang punya sifat seperti ini. Auranya negatif melulu. Jangankan yang punya wajah pas-pasan, orang yang ganteng/ cantik sekalipun akan jadi menyebalkan kalau punya sifat jutek-songong gitu.

Orang yang jutek di dunia maya sulit dideteksi jika hanya mengandalkan penampakan dia di profile picturenya saja. Bisa saja dia tampil ceria dan manis dalam foto-fotonya, padahal judesnya gak nahan. Hanya sedikit orang jutek yang dengan sadar menampilkan kejutekkannya di muka publik meski hanya melalui foto.

Kalau misalkan terpaksa mendeteksi si Jutek lewat foto nih, biasanya di foto itu mimik mukanya terlihat cemberut, senyum  tidak simetris, senyum tapi matanya tidak ikut tersenyum, atau memasang ekspresi galak, dsb. Belum apa-apa sudah keder duluan melihatnya. Tapi sekali lagi, foto bisa sangat menipu.

Kalau pengen lebih gampang mendeteksi orang jutek, lihat saja posting-postingnya. Segala status, tweet, komentar, atau cara dia menjawab komentar, biasanya menimbulkan aura negatif, bikin sakit perut orang yang membacanya.

Apa saja sih isi postingannya ? Ya gitu deh, kalau nggak keluhan ya gerutuan, atau makian, menyalahkan orang lain, marah-marah, nyinyir, mengkritik segala sesuatu, dll. Kalaupun dia mengeluarkan statement, biasanya kalimatnya diakhiri dengan tanda seru yang banyak banget, kayak gini nih !!!!!!!!  sampai yang baca jadi berasa diomelin, he he …

Jutekwan dan jutekwati mungkin saja banyak fansnya, karena dia orang terkenal umpamanya. Tapi tetap saja sifat jutek dia bakal muncul dari cara dia berinteraksi dengan teman-temannya. Yang paling sering adalah cara dia menjawab komentar dengan kata-kata yang super singkat. Misalnya : iya, enggak, sudah, kemarin, terimakasih, oh, dll balasan komentar yang pelit banget kata-kata. Padahal boleh jadi temannya sudah memberi komentar sepanjang satu paragraf. Eh dijawab cuma pake kata seuprit gitu. Ciaan dee …

Ada juga jenis orang jutek yang kelihatan banget juteknya dari cara dia menjawab sejibun komentar teman-temannya hanya dengan : @all terimakasih.
Hadeeuuww …  padahal jelas-jelas dia sudah mendapat komentar sampai seratusan lebih. Kurang  menghargai teman, menurut aku sih.
Kalau sudah begini, jadi sulit membedakan, mana yang jutek sejati, mana orang sibuk, mana yang nggak kreatif, dan mana yang nggak bisa gaul. Kelihatannya jadi sama saja : tidak ramah.

Sangat sulit membayangkan, orang yang di dunia maya berkarakter pedas seperti itu, sesungguhnya memiliki karakter ramah di dunia nyata. Biasanya, sekali jutek di dunia maya, maka jutek juga di dunia nyata.
Kesimpulannya : jutek itu selamanya

Lalu, bagaimana dengan kita ? Apakah kita termasuk berkarakter ramah atau jutek ? atau kadang ramah kadang jutek ?  Memang sih, tulisan ini nggak bisa gitu aja dijadikan acuan, secara ini kan bukan penelitian, cuma sekedar pengamatanku selama bergaul di dunyat dan dumay saja. Lagi pula yang paling pas menilai kepribadian kita kan orang lain. Betul ?
Nah, teman-teman, selamat menjadi orang yang menyenangkan yaa …



Salam sayang,

Anni