Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Saturday, March 23, 2013

Aku Didalam Pusaran Waktu


Tak kutemukan satupun jejak teman-temanku...
Teman-teman belajar dan bermain semasa SD dulu...

Kucari di facebook, tak ada …
Kulihat di twitter, tak kujumpa …
Kulacak di milis, tak bersua …
Kucermati di google, tiada jua ..

Aku ragu …
Benarkah aku pernah bersekolah disana dulu …?
Benarkah aku pernah berteman dengan mereka di masa lalu ?
Ataukah semua itu  hanya khayalanku yang semu ?

Mengapa mereka menghilang bak ditelan bumi … ?
Meninggalkan diriku sepi sendiri …
Bertanya tanpa pernah mengerti …
Apakah temanku mati … ?
Mengapa mereka begitu berdiam diri … ?
Ataukah cinta telah berubah benci …?
Aku ingin jawaban pasti …

* * * * *
Laju kereta ini membawaku melanun waktu …
Dekade demi dekade berlari melewatiku …
Bayang-bayang dan kilasan peristiwa menjejali benakku …
Tak satupun luput dari ingatanku …
Aku hampir pasti arah yang kutuju…
Karena kini kutahu, aku bukan pelamun palsu …

Di stasiun terakhir kereta berhenti…
Satu persatu penumpang pergi …
Namun aku masih terpaku dikursi ini…
Aku perlu sedikit lagi waktu untuk menata hati …
dan menenangkan diri …

Kondektur mendatangiku dan berkata seolah pada dirinya sendiri…
” Kulihat mendung di luar, nona…
Sebaiknya anda bersiap segera …
Karena waktu tak sudi  menunggu lama …
Karena kisahmu t’lah menanti disana …”

* * * * *
Disana di balik badai yang menderu….
Kupandangi padang ilalang kelabu…
Tempat seharusnya berdiri sekolah masa kecilku …
Di balik senja yang t’lah berlalu …
Kulihat temanku menuntun tanganku …
Kecil tubuhku, kecil tubuh temanku…
Berlari menembus waktu …
Derai tawa kami menusuk kalbuku …
Beku jasadku, kelu jiwaku …

Gentaa..! Laraa ! Wisnuu … engkaukah ituu ??  Aisyaaah ..! Septiii ….! tunggu akuu ! tak ingatkah  kalian padaku… ?!
Jawab akuuu …! Jawab akuuu ..!
Mengapa kalian meninggalkanku ? Mengapa kalian membisu ? aku ini  sahabatmu !
Mengapa kalian biarkan waktu menghapusku dari kenanganmu ?
Mengapa kalian campakkan aku dari ingatanmu ?
Jawab aku, genggam tangankuu …!

Ohh Tuhan, sia-sia aku memanggil sahabatku …
Mereka tak mendengarku …
Mereka berlalu, mereka berputar, mereka terbang bersama badai yang kian menderu …
Lalu langit diatasku runtuh menimpaku …
Lalu hujan deras membasahi tubuhku …
Lalu aku hanya melihat hitam disekelilingku…

* * * * *
Madrasah At Taqwa sudah lama ambruk, cah ayu … !
kata Ibu pemilik warung seraya membelai dahiku yang pucat membiru …
Kata-kata sendu penuh iba itu terasa mengalun memasuki telingaku …
menelusup ke relung hatiku …
memerihkan jiwaku …
menghangatkan kedua bola mataku …
mengalirkan bening air mataku ...

” Kenapa ambruk, bu ?”, suaraku tercekat di kerongkonganku …
” Karena tak ada anak yang mau bersekolah disitu …”
” Kenapa tidak mau, Bu ?”
” Karena sekolah itu tak bermutu, murid-muridnya miskin tak bersepatu”
” Kenapa pemerintah tak mau membantu, Bu ?”
” Karena pemerintah tak punya dana, cah ayu ..”
” Tapi aku mau membantu, bu !”
” Kamu ini siapa to, cah ayu ? “
” Aku orang kaya bu …”
” Aku direktur di perusahaan milikku”
” Hartaku melimpah.. uangku tumpah ruah ..”
” Aku akan bangun madrasah ini menjadi sekolah mewah “
” Tapi itu tak mungkin lagi, cah ayu “
” Kenapa tak mungkin, bu ?”
” Karena tanah itu sudah dibeli orang Jakarta. Katanya untuk membuat pabrik kemeja,  yang   mereknya terkenal di Amerika “
” Aku juga orang kaya bu ! Aku akan membeli lagi tanah itu ! “. Amarahku meradang hingga ke otakku …
” Jangan cah ayu, karena orang Jakarta itu berpangkat Jendral “
” Tak boleh sembarang orang bicara  sompral. Nanti angger dibilang bengal “

* * * * *
” Dimana teman-temanku , Bu ? dimana Genta, Lara, dan Wisnu ?
” Oalah cah ayu, mereka sudah ndak disini. Sudah kawin sejak lulus SD dulu !
” Lalu Aisyah dan Septi ? “
” Mereka bekerja dan kawin sama majikan di Saudi “
” Alhamdulillah …”, baru kali itulah terucap syukur pada Allah …
Berita gembira ini membasuh hatiku yang lelah.

” Bu, apakah mereka masih ingat padaku ? mengapa mereka tak mengabariku ? “
” Entahlah cah ayu, hidup kadang harus begitu. Membiarkan yang lalu menjadi masa lalu. Bukan mereka melupakanmu. Bukan pula karena mereka lugu . Namun hidup harus terus melangkah maju. Jika tak begitu, kita hanya akan berkubang pada kenangan semu “

Aku tercenung mendengarkan nasihat itu …
” Baiklah ibu, kalau begitu aku permisi dulu …”

Ibu pemilik warung itu tersenyum, melambai, setelah menolak segepok uang pemberianku.
” Nasihatku tak ditukar dengan uang, cah ayu. Ini adalah salah satu cara beribadahku “
Akupun berlalu, dengan hati menanggung malu...

Rencana reuni tinggallah impian…
Rencana pamer mobil sport terbaruku harus kusimpan.
Sahabat-sahabatku hanya tinggal kenangan.
Namun semua kisah indah tak mungkin kulupakan.



Salam sayang,
Anni

***