Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, March 18, 2013

Ibu atau Induk ?



Di salah satu sudut foodcourt di sebuah Mall di kota Bandung. Aku duduk bersama suami dan anak-anak menunggu datangnya pesanan makanan. Kulayangkan pandanganku ke sekeliling ruangan yang luas dan nyaman. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada seorang Ibu muda kira-kira berumur 30 an, yang sedang duduk santai dengan seorang anak balita duduk di kursi di hadapannya. Pemandangan yang biasa sebetulnya kalau saja aku tidak mengangkap sesuatu yang kuanggap sudah sangat keterlaluan.


Ibu itu, yang dandanannya heboh kayak artis yang cetar membahana itu, tak henti mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Terus dan terus disemburkannya asap beracun itu dari hidung dan mulutnya, yang ajaibnya dia arahkan tepat ke wajah anak balita di depannya, dengan tujuan mencandai anak itu dan membuat anak itu tertawa-tawa !
Tak hanya itu saja aksinya yang membuatku geregetan bukan main. Ibu itu, kalau pas anaknya lagi makan( anaknya umurnya kira-kira 3 tahunan, dibiarkan makan spaghetti sendiri, tidak disuapi atau dibantu, sampai makanannya berantakan kemana-mana, ke hidung, ke mata ), matanya terus saja menatap layar ponsel yang ada di genggaman tangannya. Entah lagi asyik apa, mungkin BBM an, FB an, twitteran, atau Kompasianaan kali, tau deh. Yang jelas, dia sama sekali tidak menggubris anaknya. Aku yakin kalau anaknya tercekik spaghetti dia nggak bakalan tahu. Bete banget ngliatnya.

* * * *
Masih di kota Bandung. Aku sedang berjalan santai bersama keluargaku di daerah Dalem Kaum , melihat-lihat barang-barang bagus  khas Bandung  yang dipajang di etalase toko dan di kaki lima di sepanjang jalan.  Lagi santai gitu, tiba-tiba aku melihat seorang ibu muda (lagi-lagi masih muda !) bersama anaknya yang masih kecil,  berjalan di depan kami.
Mata ibu itu sepenuhnya tertuju pada barang-barang yang dipajang di sepanjang jalan. Sesekali tangannya terulur untuk memilih atau sekedar menyentuh barang-barang itu. Dan ketika dia memutuskan untuk membeli tas -tas cantik yang ada di situ, ibu itu benar-benar berkonsentrasi pada belanjaannya, dan membiarkan anaknya berjalan sendiri, berlari- larian, lalu berbalik arah setelah menyadari ibunya tak ada di sisinya. Haduh ampunn. Kalau anaknya berlari menyeberang jalan yang ramai dengan kendaraan, gimana coba ? Mbok ya mikir kalau jadi ibu itu ! (*mulai esmosi*)
* * *
Aku pernah sekilas nonton acara infotainment entah apalah nama acaranya.  Sebetulnya aku malas nonton acara kayak ginian, kalau saja Bibi asistenku nggak nonton acara ini sambil nyetrika baju. Tiba-tiba perhatianku tertuju pada liputan tentang aktifitas sehari-hari sepasang selebriti muda yang masih terbilang pengantin baru. Disana ada adegan yang membuatku terkejut, yakni adegan ketika sang istri menggoreng ikan sambil menggendong bayinya. Teman-teman tahu kan, bagaimana hebatnya cipratan minyak goreng ketika menggoreng ikan ? Ibu-ibu saja akan meringis kesakitan jika lengannya terkena percikan minyak panas, apalagi bayi. Lha kok ini, bayinya digendong di depan dijadikan tameng ? ini bagaimana ? Kesel lagi kann ..
***
Masih kurang kesal ? Nih masih ada lagi. Di keramaian tempat wisata. Sepasang suami istri mengajak balitanya berjalan-jalan. Entah mungkin bermaksud bernostalgia mengenang masa pacaran atau apa, eh suami istri itu bergandengan mesra banget, sambil ngobrol cekikikan, sampai terlupa sama bayinya. Sadar-sadar bayinya entah sudah dimana. Si Istri teriak-teriak sambil memukuli suaminya, sementara suaminya hanya bisa ternganga dengan wajah pias. Untung tak lama kemudian anak itu ditemukan seseorang sedang menangis meraung-raung. Dimana coba ? diatas pagar taman ! ternyata si bocah memanjat pagar dan tak bisa turun lagi. Nah lo ! Untuk ketemu ! kalau nggak ketemu bisa cerai tuh laki-bini ! bete bangett …
****
Aku yakin teman-teman juga tentu pernah melihat pemandangan seperti  yang aku ceritakan dan merasa geregetan. Pengennya mendatangi ibu yang sembrono itu, sambil menujuk hidungnya dan bilang, ” Kalau jadi Ibu, yang bener dong ! “
Perasaan, makin kesini zaman makin edan, dan berimbas pada perilaku ibu-ibu yang jadi nggak pedulian sama anaknya.
Kadang aku penasaran. Apakah ibu-ibu itu tidak menyayangi anaknya ? tapi masa iya sih ada ibu yang seperti itu ? Lalu mengapa mereka begitu abai pada keselamatan anak-anaknya ? Mengapa mereka begitu sembrono dan tidak menjadikan anaknya sebagai prioritas perhatiannya ?

Apakah sesungguhnya mereka belum siap menikah dan menjadi seorang ibu ? ataukah pengaruh gaya hidup yang menggerus nilai dan norma kemanusiaan, sehingga kesenangan pribadi menjadi diatas segalanya, lantas menganggap kehadiran anak hanya sebagai penghalang kesenangan saja ? entahlah ..
Menjadi ibu itu tak hanya sekedar melahirkan. Jika hanya melahirkan lalu selesai, bukan ibu namanya, tapi induk !
Seorang Ibu itu melahirkan, membesarkan, mengasuh, mendidik, membimbing, menjaga, memperhatikan, merawat, dengan sepenuh hati, dan sepanjang waktu, mengatasi perhatian atas dirinya sendiri. Apalagi ketika anak-anaknya masih kecil, semua perhatian itu akan berlipat ganda. Apapun akan dilakukan dan dikorbankan oleh seorang Ibu demi keselamatan dan kebahagiaan anaknya. Itu baru Ibu.
Jika kita mengarahkan cakrawala pandangan kita lebih luas lagi, maka wajar kalau yang namanya Ibu itu terbagi tiga macam :

1.  Ibu biologis yang sekedar melahirkan anaknya lalu ditelantarkan, atau dijual, atau dibuang, atau ditukar dengan sejumlah uang sebab dia adalah ibu dengan rahim sewaan. Ibu biologis ini disebut Induk. Dia tak pantas disebut ibu.


2. Ibu yang tidak melahirkan namun membesarkan. Tidak semua perempuan beruntung dapat melahirkan keturunan dari rahimnya sendiri. Namun jika perempuan tersebut mengangkat seorang anak, lalu mengasihinya dengan sepenuh hati, merawat, menjaga, mendidik, mencintai seperti anaknya sendiri, maka ia pun berhak menyandang gelar Ibu, karena semua kapasitas kemanusiaan seorang perempuan telah ia miliki.


3. Ibu yang melahirkan dan membesarkan, mendidik, membimbing, dan mengasihi anaknya. Nah inilah ibu yang sejati. Bersyukur jika kita memiliki ibu yang sejati. Balaslah segala kebaikan ibu kita tercinta dengan mendoakan, menyayangi, dan menjadi ibu sebaik ibu kita, bahkan lebih baik lagi, bagi anak-anak kita.


Menjadi Ibu adalah cita-cita tertinggi kebanyakan perempuan. Sayangnya tak semua perempuan memahami makna pentingnya menjalani peran sebagai seorang Ibu yang paripurna. Kemajuan zaman membuat perempuan muda hanya menjadi ibu karena formalitas belaka, demi mengejar status sosial. Dia benar-benar tidak menyadari, bahwa menjadi ibu adalah peranan klasik perempuan sepanjang masa, yang keagungan nilainya tak boleh luntur dan tak boleh diremehkan sedikitpun.


Jika anak-anak zaman sekarang lebih banyak berkeliaran di jalan, bersosialisasi dalam gang-gang pembully, melakukan seks bebas, tawuran, mengkonsumsi drugs. Maka tanyalah pada hati nurani. Siapa ibunya ? Siapa ayahnya ? Mengapa mereka berperilaku sedemikian menyimpang ? Dimana Ibu dan Ayah ketika anak-anak berkubang dalam masalah yang tidak dapat ia selesaikan ?


Ditangan seorang Ibu lah pertama kali pribadi seorang manusia terbentuk. Makin hebat seorang ibu mendidik anak-anaknya, makin hebat pula kemajuan peradaban suatu bangsa. Aku khawatir, keterpurukan bangsa ini karena andil para ibu Indonesia juga. Naudzubillah …
Marilah menjadi Ibu, menjadi Ayah yang sejati, yang paripurna bagi putra-putri tercinta. Mendidik dengan cinta, dengan kesederhanaan, sebagaimana yang dituntunkan oleh Agama dan dicontohkan para Rasul. Sebab menjadi orang tua adalah sebuah predikat, bukan hanya kata kerja semata.




Salam sayang,
Anni