Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, March 18, 2013

Penampilanmu Sungguh Menipu


Suatu maghrib di sebuah tempat di kota Bandung yang ketika itu masih adem, sejuk dan berangin. Sepulang kuliah aku berjalan dengan tergesa ke arah sebuah masjid kecil yang ada di pinggir jalan. Aku bermaksud menunaikan sholat maghrib karena kalau menunggu sampai tiba di rumah, waktu maghrib pasti sudah lewat. Suasana senja itu agak remang dan sepi. Di halaman masjid aku berpapasan dengan orang-orang yang bubar karena telah selesai melaksanakan sholat maghrib..

Seusai sholat, aku keluar menuju teras masjid, duduk ditangga dan  buru-buru mengenakan sepatuku. Setelah itu aku bermaksud mencegat bis kota lalu langsung pulang ke rumah. Belum selesai semua tali sepatu terikat, tiba-tiba kulihat tiga pemuda semuanya bertubuh tinggi  besar memasuki halaman masjid.  Pakaian dan penampilan mereka berantakan sekali. Jaket loreng, sepatu lars, rambut gondrong, gelang manik-manik etnik dan metal-metal entah apa, terpasang di pergelangan tangan mereka yang hitam dan berotot kekar.

Tiba-tiba perasaan cemas merayapi hatiku. Jangan-jangan mereka … ah cepat-cepat kutepis bayangan buruk yang sedetik melintas dalam pikiranku. Buru-buru aku beranjak dan berjalan tergesa melintasi halaman menuju jalan keluar. Namun di pintu pagar, jalanku terhambat karena cowok-cowok itu malah menghampiri aku, seperti menghadang gitu. Nah lho, jadi takut beneran.

Wah lumayan deg-degan juga nih. Tapi aku tidak panik. Maklum mantan  anggota Pramuka dan Pustakawan(apa hubungannya ). Aku sudah siap dengan segala kemungkinan, kugenggam erat tas ranselku, untuk kupakai senjata jika mereka menyerangku, kusiapkan tenaga untuk menendang selangkangan mereka sekeras-kerasnya, seperti yang diajarkan kakaku waktu SMP dulu, berteriak sekencang-kencangnya, dan yang terpenting, bersiap mengambil langkah seribu sebagai jurus andalanku.

Tapi ternyata aku benar-benar tertipu !  mereka sama sekali tak bermaksud buruk sedikitpun. Salah seorang dari mereka mendekatiku, sambil berucap sopan,
” Maaf Mbak, kalau masjid Salman (masjid ITB) masih jauh dari sini ? kalau naik angkot, jurusannya ke arah mana ya ?
” Ouuwwhh …umhh ..  Masjid Salman yaa ..? ummhh ..ituu .. sudah dekat kok, tinggal pakai angkot yang jurusan Dago, turun di jalan Ganesha, … dst ” (yess ...serasa seseorang menyiramku dengan air es ).

Hadehh, ternyata cuma mau nanya masjid Salman to. Jadi malu, soalnya aku sudah menyangka mereka yang bukan-bukan.  Mengira preman atau apa gitu.
Setelah mendapat penjelasan dariku, mereka mengangguk sopan dan mengucapkan terimakasih, lalu memasuki halaman masjid untuk menunaikan sholat maghrib. Tambah malu hati jadinya.  Dari seberang jalan, sambil menunggu Bis kota, aku perhatikan ketiga cowok berpenampilan sangar itu membuka sepatu, mengambil air wudhu, lalu memasuki masjid untuk sholat. Benar-benar sebuah pemandangan yang kontras, yang tak terduga. Bayangkan ! penampilan preman kan pantesnya malak, ngedar, atau tawuran kek apa gitu. Lha ini  kok malah berwudhu lalu sholat ? benar-benar preman yang soleh, he he …
* * * *
Beberapa waktu yang lalu publik negeri ini dihebohkan dengan penangkapan tokoh-tokoh nasional oleh KPK. Tokoh-tokoh ternama yang secara penampilan sama sekali tak pernah kita duga bakal bernasib seperti itu, menjadi tersangka dan meringkuk sebagai pesakitan di rutan KPK.
Coba lihat saja penampilan mereka. Begitu santun, lembut, intelek, saleh, rapi jali, cerdas, cantik, ganteng, berbudaya. Tapi ternyata dibalik semua keindahan itu, tersimpan aroma busuk pelanggaran hukum yang sangat berat. Aroma korupsi yang membuat masyarakat tidak saja merasa marah, namun juga merasa geram, dan merasa dibohongi habis-habisan.

Betapa selama ini masyarakat menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada para tokoh muda yang pandai dan konon anti korupsi itu. Betapa besar harapan kita, jika pada suatu saat kelak mereka akan menjadi pemimpin negeri ini. Membawa Indonesia ke arah kemajuan. Namun rupanya semua mimpi itu harus berakhir sebelum fajar tiba.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, mereka adalah representasi dari sosok perempuan Indonesia yang berkualitas, sosok pemuda yang briliyan, sosok pemuka agama yang cendekia, sosok penegak hukum yang seharusnya menjadi panutan masyarakat ! Kalau memang semua yang disangkakan dan didakwakan kepada mereka terbukti benar, maka menilik fantastisnya jumlah uang rakyat yang mereka tilap, sungguh mereka tak pantas dicap sebagai koruptor. Mereka hanyalah perampok biasa.

****
” Don’t judge the book by it’s cover “. Cocok sekali pernyataan tersebut kalau begitu. Penampilan kadang begitu sangat menipu, kemasan kerap tidak sesuai dengan isi. Tanpa sadar kita sering terjebak pada perilaku menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Salahkah itu ? Aku rasa tidak sepenuhnya salah, karena bagaimana cara kita menilai seseorang yang baru kita kenal, jika bukan dari penampilan luarnya terlebih dahulu, bukan ?
Masalahnya, manusia adalah makhluk yang sangat pandai bermain peran. Beruntung jika kita berjumpa dengan seseorang yang jujur apa adanya dan tak suka berpura-pura. Menampilkan dirinya apa adanya, dengan segenap potensi kebaikan yang dia miliki, semisal sopan santun, kebaikan hati, kerapihan dan kebersihan pakaian, tindak tanduk yang terjaga, dll.
Masalah akan timbul jika kita berhadapan dengan orang yang memiliki kepribadian berlawanan dengan penampilannya. Seperti yang saya ilustrasikan tadi. Penampilan preman ternyata malah sholat berjamaah, atau sebaliknya penampilan alim tapi kelakuan sangat tidak patut !
Nah disinilah perlunya kita selalu bersikap awas dan bijak dalam menilai dan memilih orang-orang yang akan kita gauli. Eh, orang-orang yang  akan bergaul dengan kita, maksudnya.
Tapi memangnya perlu ya repot-repot menilai orang lain ?  Oh ya sangat perlu ! Kita ini memang diharuskan memilih orang-orang yang akan memasuki hidup kita. Memilih pacar, memilih jodoh, memilih teman, memilih sahabat, memilih partner kerja, memilih karyawan, memilih asisten rumah tangga, dll.  Mau tidak mau kita harus menilai dan memilih, karena kita harus nyaman dengan kehidupan yang kita jalani bersama orang-orang di sekitar kita.
Bukan perkara mudah lho menilai orang lain itu. Tidak bisa hitam putih begitu saja. Si ini baik, si itu culas. Si anu jutek si dia baik. Nggak bisa sesimple itu. Banyak aspek yang harus dilibatkan. Dari banyak aspek itu, yang paling mudah adalah menilai penampilan luar, yakni menilai segala sesuatu yang bisa dilihat dan didengar.

Penampilan luar itu bisa cara berpakaian, gestur, cara berbicara, dll. Nah kalau sudah begini barulah terasa sulitnya menilai orang itu. Karena kadang kita tertipu dengan penampilan. Disinilah pentingnya kehati-hatian dalam ” do or do not judge the book by it’s cover ” ,agar tidak salah menilai.

Kadang memerlukan waktu yang lama untuk benar-benar menilai kepribadian seseorang dengan pas.  Kita perlu bergaul dulu, berbincang-bincang dulu, melihat kebiasaannya dulu, dll. Namun itulah seni menilai orang, seni bergaul dengan orang. Semakin banyak kita bertemu dan  mengenal orang, maka akan semakin terbiasa dan mudah pula bagi kita untuk mendapatkan seseorang yang sesuai dengan kita
.
Disisi lain jangan lupa kitapun tak akan pernah luput dari penilaian orang lain. Untuk itu, terapkanlah ilmu “menilai” orang lain bagi diri kita sendiri. Kita ingin dinilai seperti apa ? Baik ? Cool ? Ramah, Tegas ? Jutek, atau Genit ? Semuanya terserah kita. Namun akan lebih mudah jika kita menampilkan diri kita sejujurnya, tanpa topeng kepura-puraan.  Kita akan merasa tenteram, dan tak ada beban. Jangan lupa tambahkan segala potensi kebaikan yang kita miliki, agar kita dapat dinilai dan dipandang sebagai orang, teman, dan sahabat yang menyenangkan. Sebab tak ada yang lebih membahagiakan dibanding menjadi orang yang disayangi keluarga dan teman karena kebaikan hati, keluhuran pekerti, dan manfaat kita bagi orang-orang di sekitar kita


Salam sayang,


Anni