Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, March 29, 2013

Ketika Ayam Jago Sudah Tak Lihai Meramal Cuaca



Fajar belum lagi terbit, adzan Subuhpun belum lagi berkumandang. Namun seisi rumahku terbangun dengan kaget oleh suara Ayam jago entah miliki siapa, yang berkukuruyuk dengan keras sekali. Suara ayam itu nyaring menembus hawa dingin yang meresap hingga ke dalam kulitku. Aku ucapkan syukur dengan perasaan riang. Bukankah kukuruyuk Ayam jago itu pertanda hari ini akan cerah ? benarkah begitu ? hmm … biar kulihat saja nanti.

Di masa yang lalu, Ayam termasuk salah satu jenis hewan yang secara alamiah memiliki naluri yang sangat tajam dalam membaca tanda- tanda alam . Jika Ayam Jago berkokok pada dini hari, tandanya cuaca akan cerah sepanjang hari. Namun jika si Ayam jantan ini berkokok menjelang siang, sekitar pukul 10.00 - 11.00, artinya para betina harus waspada. Karena itu adalah isyarat perkawinan dari sang Jantan. Jadi para betina,  bersiap-siaplah bersolek kalau memang berkenan.  Namun jika merasa ogah, persiapkan tenaga untuk berlari sekencang-kencangnya dari kejaran si Jantan. Karena rupanya tak hanya manusia, yang namanya cowok , biarpun itu sekedar ayam, asalkan sedang kasmaran, selalu tak mau tahu. Kejar teruuss ..!

Itu dulu. Sekarang zaman sudah berubah. Iklim sudah berganti, cuaca sudah semakin sulit diprediksi. Waktu aku kecil dulu, Ibu pernah mengajariku ciri- ciri perubahan musim, dari musim hujan ke musim kemarau. ” Pokoknya gini “, kata Ibuku yang meski hanya berpendidikan ELS (SMP zaman Normaal ), namun wawasannya lumayan luas untuk ukuran perempuan di zamannya.
” Kalau nama bulannya sudah berbunyi ” Ber “, artinya kita sudah memasuki musim hujan. Jadi  musim hujan itu dimulai dari bulan September. Dan bulan sebelumnya (Agustus) adalah masa pancaroba.  Kenapa “Ber” ? karena bunyinya sama dengan bunyi air hujan yang turun, Bbeerrr …!! “, begitu Ibu menjelaskan dengan gaya seperti Bibi Titi Teliti.

” Bulan Maret itu tanda musim kemarau “, lanjut ibuku yakin banget. Kenapa Maret ? Ya itu tadi, nama bulan disesuaikan dengan bunyi musim. Bunyi “Ret”, sama dengan suara air hujan yang mendadak berhenti ” mak Rrreettt. …! “, begitu kata Ibuku, menguraikan teorinya entah dengan referensi primbon mana.

Terserah apa kata dunia, tapi kata-kata Ibuku dan orang-orang zaman dulu memang terbukti banyak benarnya. Mereka adalah orang-orang yang waskita dengan alam di sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang mengadaptasi tanda-tanda alam untuk aktifitas keseharian dengan bekal local genius yang mereka miliki. Karifan lokal ini kemudian mewujud berupa pengetahuan yang tak tertulis, yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan, menjadi bagian tradisi, bagian budaya asli yang bernilai tinggi.

Arti ramalan kokok Ayam Jago, bunyi bulan yang disesuaikan dengan bunyi-bunyian alam yang mengiringi bulan tersebut, adalah contoh budaya lisan, contoh folklore asli ciptaan nenek moyang kita. Ini sebagai sebuah bukti nyata, bagaimana nenek moyang dengan kearifan lokal yang mereka miliki, mengakulturasikan budaya Barat yang masuk ke tanah air melalui nama-nama bulan yang berbau Latin-Roman, dengan budaya asli indonesia berupa bunyi-bunyian alam. Sangat lugu namun cerdik dan mengagumkan.

Kini kelihatannya kita harus rela bersiap-siap meninggalkan salah satu khasanah budaya asli Indonesia itu. Folkllore tentang kokok ayam jantan dan hubungan bunyi nama bulan dengan bunyi-bunyian alam, rupanya harus segera dilupakan. Tak hanya cuaca, sekarang iklimpun sudah berubah Kita tak tahu dengan pasti apa penyebabnya. Namun untuk mudahnya, mari kita timpakan semua kekacauan ini pada pemanasan global yang lajunya sangat sulit dihentikan.

Tadi pagi dan kemarin-kemarin pagi, Ayam jantan berkokok dengan keras. Lagi pula bulan Maret sudah akan berakhir. Namun alih-alih cerah, hujan malah turun dengan deras disertai kilat yang menyambar-nyambar dan petir yang menggelegar. Banjir masih saja terjadi di mana-mana. Bahkan akibat hujan deras, terjadi bencana longsor yang memakan korban jiwa di daerah Cililin Jawa Barat.

Sejak dulu para pakar dari berbagai lintas ilmu berbicara tentang ancaman pemanasan global, tentang lubang yang semakin menganga di lapisan ozon di atas kepala kita,  tentang bahaya radiasi langsung sinar ultra violet bagi kesehatan manusia, dsb. Sebagai reaksinya berbagai negara di dunia mengantisipasi dengan berbagai upaya yang menelan daya milyaran dolar untuk memperbaiki kerusakan lingkungan.

Saya percaya pemerintah kita tak tinggal diam dalam merespons para pakar lingkungan Indonesia yang berteriak hingga serak dan nyaris kehabisan nafas setengah hopeless untuk segera menyelamatkan lingkungan yang rusak parah di berbagai pelosok negeri. Hanya saja seperti yang lazim terjadi di tanah air, segala sesuatunya berjalan dengan super sangat lamban. Demikian juga dengan upaya penyelamatan lingkungan ini. Sangat lamban, terkesan setengah hati, sampai geregetan melihatnya.

Tak usah heran jika pada akhirnya banyak anggota masyarakat baik secara sendiri ataupun berkelompok, berinisiatif menyelamatkan lingkungan yang rusak. Karena jika tidak begitu, jika semata mengandalkan kepedulian pemerintah , mungkin lingkungan akan bertambah rusak parah dan segalanya akan sangat terlambat.

Ah sudahlah jangan ganggu pemerintah yang sibuk memikirkan dirinya yang terdzolimi, galau melulu, dan memikirkan cara tebar pesona yang paling canggih. Mana mereka ada waktu memikirkan penghijauan hutan yang gundul, mana ada waktu mereka memikirkan antisipasi bencana tanah longsor dan banjir bandang yang menelan korban jiwa dan harta rakyat kecil. Lagi pula nggak ada dana. Duit negara sudah berpindah ke kantong pejabat yang beristri banyak.

Jadi mari kita mulai dari lingkungan kecil kita. Dari rumah kita, dari RT kita, RW, sekolah kita, dst. Mari kita tanami halaman rumah dan sekolah kita dengan pohon peneduh. Biasakan mengisi acara selebrasi dan seremoni itu dan ini dengan menanam pohon. Budayakan memberi hadiah kepada pemenang lomba ini dan itu, salah satunya dengan memberi bibit pohon untuk ditanam.

Selamatkan lingkungan kita. Selamatkan lingkungan kecil kita dari kerusakan.  Disini kita hidup, maka disini juga kita harus menghirup udara yang bersih segar dan mengkonsumsi air yang sehat. Bukan hanya kita yang akan menghuni  bumi ini. Anak cucu kitapun kelak akan menghuni bumi yang sama. Jangan sampai mereka mewarisi lingkungan yang tak layak ditinggali karena kelalaian kita para orang tuanya.

***
Kudengar Ayam jantan itu berkokok lagi, padahal cuaca jelas-jelas muram seperti ini. Mendung menggantung diatas langitku, pertanda hujan akan segera turun. Bahkan zaman sekarang Ayam jagopun sudah kehilangan kepandaiannya dalam meramal cuaca rupanya. Ataukah karena dia sedang kasmaran saja makanya dia terus bernyanyi ? entahlah, hanya dia yang tahu … 


Salam sayang,


Anni